Saat Lawan Politik Mendoakan Prabowo yang Flu Berat

590
prabowo
Ilustrasi (Detik)

“Doa Lawan hingga Sahabat untuk Prabowo yang Flu Berat” Judul berita yang saya baca di sebuah media mainstream membuat hati saya sejuk. Artinya, Jokowi dan pendukungnya menunjukkan sikap, ucapan dan tindakan yang simpati. Demikian juga dengan Sandi yang waktu kampanye di Pati Jawa Tengah dan mendengar teriakan, “Jokowi! Jokowi!” dari para pendukung nomor urut 01 ini membalasnya dengan senyuman sambil berkata, “Salam untuk Pak Jokowi!”’

Saya rasa sikap dan tindakan yang ditunjukkan para calon pemimpin bangsa dan pendukungnya itu sedikit banyak merupakan embun yang mendinginkan suasana yang sedang panas-panasnya. Bukankah saling mendoakan jauh lebih menyejukkan ketimbang menggoreng berita perang propaganda antara ‘Obor Rakyat’ dengan ‘Indonesia Barokah’ dan disusul ‘Pembawa Pesan’?

Efektif tidaknya sikap dan tindakan itu tidak perlu diukur, yang penting ada usaha dan bukan pencitraan semata. Mengapa? Karena eskalasi antara—maaf—para cebong dan kampret semakin membahayakan keutuhan bangsa.

Menuju Cahaya atau Mengundang Bahaya?

Di tengah sikon yang menegangkan, saya membaca tulisan yang menjadi oase di tengah padang gurun. “Tepat di Bawah AS, Tahun 2050 Perekonomian Indonesia Diprediksi Jadi yang Terkuat ke-4 di Dunia”. Membaca judul ini saja membuat saya bangga. Berita ini disertai data dan fakta, bukan fatamorgana di tengah gurun Sahara.

Berikut ini merupakan urutan negara dengan perekonomian paling kuat pada tahun 2050:

  1. China (USD 58,499 Triliun)
  2. India (USD 44,128 Triliun)
  3. Amerika Serikat (USD 34,102 Triliun)
  4. Indonesia (USD 10,502 Triliun)
  5. Brasil (USD 7,540 Triliun)
  6. Rusia (USD 7,131 Triliun)
  7. Meksiko (USD 6,863 Triliun)
  8. Jepang (USD 6,779 Triliun)
  9. Jerman (USD 6,138 Triliun)
  10. Inggris (USD 5,369 Triliun)
  11. Turki (USD 5,184 Triliun)
  12. Perancis (USD 4,705 Triliun)
  13. Saudi Arabia (USD 4,694 Triliun)
  14. Nigeria (USD 4,348 Triliun)
  15. Mesir (USD 4,333 Triliun)
  16. Pakistan (USD 4,236 Triliun)
  17. Iran (USD 3,900 Triliun)
  18. Korea Selatan (USD 3,539 Triliun)
  19. Filipina (USD 3,334 Triliun)
  20. Vietnam (USD 3,176 Triliun)
  21. Italia (USD 3,115 Triliun)
  22. Kanada (USD 3,1 Triliun)
  23. Bangladesh (USD 3,064 Triliun)
  24. Malaysia (USD 2,815 Triliun)
  25. Thailand (USD 2,782 Triliun)
  26. Spanyol (USD 2,732 Triliun)
  27. Afrika Selatan (USD 2,570 Triliun)
  28. Australia (USD 2,564 Triliun)
  29. Argentina (USD 2,365 Triliun)
  30. Polandia (USD 2,103 Triliun)
  31. Kolombia (USD 2,074 Triliun)
  32. Belanda (USD 1,496 Triliun). (TribuneJogja.com).
Baca Juga:  Peta Konflik Pemikiran Menjelang Pilpres 2019

Artinya, di tahun 2050, Indonesia mempunyai kekuatan ekonomi nomor 4 dunia. Kita hanya dikalahkan oleh China—yang menduduki nomor satu dunia—India dan Amerika Serikat. Jadi, kehawatiran kita—atau yang sengaja dilontarkan agar kita cemas—bahwa di tahun 2030 Indonesia bubar, ikut bubar. Kita benar-benar bisa bubar jika kita sendiri yang membuatnya. Jika kita biarkan hal-hal negatif merongrong kita, maka yang positif akan terdorong pergi. Sejak dulu sampai sekarang, pertarungan antara Yin dan Yang, hitam dan putih, pesimisme lawan optimisme tidak pernah tamat, karena kalau tamat, buku silat pun ikut dilipat.

Saat benturan antara maaf—cebong dan kampret—semakin membubung dan meroket, seorang sahabat membelikan saya buku Jokowi Menuju Cahaya. Lagu di dalamnya sama: antusiasme seorang anak desa dalam membangun bangsa. Orang yang membaca buku ini merasakan aura optimisme yang tinggi. Optimisme yang menguar dari buku ini saya harap bisa menular ke anak bangsa yang lain.

Perjalanan anak desa menuju istana ini mengingatkan saya saat Barack Obama berhasil menjadi orang nomor satu di negara adikuasa itu. Sebuah koran di Amerika menggambarkannya dengan indah sekali. Di kiri bawah ada seorang ayah sederhana—menggambarkan ayah Obama—duduk di depan pondoknya di sebuah dusun kecil di Afrika. Di sampingnya ada anak tangga menuju ke gedung putih dan ada tulisan “The Ladder is still there!” Makna yang tersirat jelas sekali tersurat di sana. Tangga kesuksesan itu masih ada. Jika seorang Obama kulit hitam saja bisa menjadi orang nomor satu di dunia orang kulit putih, buku Jokowi Menuju Cahaya bisa menyebarkan binar-binar optimisme di kalangan rakyat Indonesia.

Sayangnya, berdekatan dengan buku yang memendarkan cahaya optimisme itu beredar kabar ada 7 kontainer berisi surat suara yang sudah dicoblos. Untung KPU segera tanggap dan melakukan cek. Hasilnya, bisa kita duga, berita yang sudah dicuitkan Andi Arief ini bodong. Dari sini menguar bau tak sedap. Jika KPU terlambat melakukan pengecekan, bisa jadi pemilu depan dianggap tidak adil. KPU dituduh memihak sehingga kecurangan  pemilu tak terhindarkan. Akibatnya? Jika petahana menang, lawan menuduhnya kongkalikong dengan KPU sehingga hasil Pilpres bisa dibatalkan. Jika tidak, bakal ada demo berjilid-jilid lagi. Tujuan apa lagi kalau bukan menggulingkan kekuasaan yang sah. Jika lewat demo yang sama seorang Ahok bisa dimasukkan penjara, lewat demo yang sama diharapkan Jokowi dijungkalkan dari kursi kepresidenan.

Baca Juga:  Mengatasi Defisit Bernegara, Melawan Korupsi

Keharuman Mawar dan Jaket Anti Masuk Angin

Tuhan tak pernah janji
Langit selalu biru
Tetapi dia berjanji
Selalu menyertai
Tuhan tak pernah janji
Jalan selalu rata
Tetapi dia berjanji
Berikan kekuatan

Penggalan lagu dengan suara kanak-kanak yang khas yang saya dengar saat berangkat ke kantor mengajarkan kita untuk memiliki optimisme yang menjadi ciri khas bocah. Seorang bocah tidak gampang curiga, senang melakukan observasi dan eksplorasi untuk mendapatkan kesenangan. Sebagai orang dewasa, tugas kita adalah memberikan atmosfer dan lingkungan yang kondusif.

Saat ada undangan bicara di Vancouver, Kanada, kami sekeluarga sempat mengunjungi Garden of Roses, bagian kecil dari taman luas Butchard Gardens.

“Ada mawar dari Indonesia?”

Begitu pertanyaan itu terlontar dari mulut saya, petugas langsung mengantar kami ke mawar dari Indonesia. Yang menyedihkan, mawar itu mati.

“Kok bisa?”

“Dulu waktu kami tanam di musim semi, dia bisa tumbuh subur. Waktu musim dingin ternyata tidak kuat dan mati,” ujar penjaga itu dengan gesture dan ekspresi wajah penyesalan.

“Jangan-jangan dia lupa pakai jaket winter,” ujar saya yang disambut tertawa ngakak kami semua.

Agar bunga bernama Indonesia bisa mekar dan menguar keharuman sampai ke mancanegara, kita tidak perlu mencabut duri perlindungan diri. Cukup memberinya ‘jaket’ yang tepat untuk membawanya ke masa depan. Jaket itu berlabel ‘Optimus Prime’!

Penulis Pelukis Kehidupan di Kanvas Jiwa