Saat Maut Belum Menjemput

579

“Pak Xavier, saya senang sekali bisa bertemu dengan Bapak di sini,” ujar seorang wanita muda sambil menggenggam tangan saya erat-erat. Dia ditemani mama tercinta. “Bisa saja kita tidak pernah berjumpa lagi,” lanjutnya.

“Penerbangan saya pakai Lion dari Semarang ke Surabaya juga mengalami masalah. Penumpang panik. Saya takut luar biasa. Saya hanya bisa berdoa dan menangis,” ujarnya saat menceritakan bahwa pesawatnya kembali lagi ke Semarang karena ada kerusakan teknis. “AC tidak dingin, udara pengap dan panas sekali,” tambahnya.

Saat berpisah dengan Rika, begitu saja kita sebut, saya merenungkan ucapannya, “Bisa saja kita tidak berjumpa lagi.” Atau kalau saya artikan, “Bisa saja kita berjumpa di surga nanti.”

Jika kita Tuhan beri kesempatan untuk menjadi salah satu suvivors, hal apa saja yang seharusnya kita lakukan? Saya merenungkan tiga hal ini saja.

1. Berhenti mengeluh dan mulai mengucap syukur

Alih-alih mengeluh, mengapa kita tidak mengucap syukur atas berkat Tuhan yang mengucur. Banyak di antara kita yang lebih suka mengeluh ketimbang bersyukur. Saya teringat kisah yang saya baca bertahun-tahun yang lalu. Di sebuah kota besar seorang anak tunawisma sedang memperhatikan kue yang baru keluar dari oven sambil menelan air liurnya. Di malam musim dingin itu, tiba-tiba dia melihat sebuah limusin berhenti di depan toko kue itu. Seorang PRT dengan seragam keluar dari mobil itu dan masuk ke toko kue. Di dalam mobil tampak seorang anak melambaikan tangan ke arahnya.

“Tuhan, Engkau tidak adil,” gumamnya dalam hati. “Saya begitu kedinginan di sini tanpa sepatu sedangkan anak itu untuk turun dari mobil saja malas dan memilih pembantunya untuk membelikan roti,” tambahnya.

Baca Juga:  Saatnya Bumikan Ekonomi Pancasila Dengan Agenda Demokratisasi Ekonomi

Tiba-tiba anak itu melambaikan tangan ke arahnya. Bocah gelandangan itu menoleh ke kiri dan kanan seakan-akan untuk memastikan apakah benar bocah kaya itu memanggilnya. Dia tidak ingin Gedher Rumangsa. Saat yakin bahwa dirinyalah yang dipanggil, dengan enggan dia mendatangi bocah tahir di dalam mobil mewah itu. Bocah kaya itu membuka pintu mobilnya agar dia bisa masuk. Hatinya terkesiap. Ternyata anak orang kaya itu tidak punya kaki.

Kisah di atas mengingatkan saya perkataan Helen Keller, “I cried because I had no shoes until I met a man who had no feet.”

Marilah mengucap syukur atas apa yang kita miliki ketimbang mengeluh atas apa yang ada di luar sana.

2. Mengais dan berbagi berkat selagi sempat

Akan datang waktunya kita dipaksa keadaan untuk tidak lagi bisa berproduksi. Senyampang masih bisa mengais dan berbagi rezeki mengapa tidak melakukannya saat ini? Saat terbaik untuk bekerja dan berkarya adalah saat ini. Hari ini.

Demikian juga pemberian terbaik adalah saat kita lakukan hari ini. Itulah sebabnya mengapa ‘hadiah’ dalam bahasa Inggris disebut ‘present’!

Seorang pemuda sukses menelpon rohaniwan dan bertanya, “Pak, besok ayah saya ulang tahun. Hadiah terbaik apa yang bisa saya berikan kepadanya?”

“Kehadiranmu,” ujar rohaniwan itu.

“Tapi ayah saya tinggal di luar negeri……,” lanjut pemuda itu dengan perasaan ragu.

“Kan ada pesawat terbang?” Sahut rohaniwan itu singkat.

Dua hari kemudian, pemuda itu menelpon lagi dengan suara serak, “Pak, terima kasih nasihatnya. Saya menyempatkan diri untuk pulang pada hari ultah papa saya. Kami menghabiskan waktu bersama-sama dengan penuh kebahagiaan. Papa dipanggil pulang tadi pagi.”

3. Meninggalkan warisan berupa nama baik

Baca Juga:  Agama dan Masyarakat yang Kehilangan Kelucuannya

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Ams 22:1).

Apa yang Salomo-raja paling bijaksana sedunia-mengingatkan kita semua bahwa tidak ada warisan yang jauh lebih berharga ketimbang nama baik. Coba berhenti sejenak dan renungkan, saat Anda berpulang nanti, apa yang Anda ingin orang lain ucapkan tentang Anda. Singkatnya, Anda ingin dikenal sebagai orang seperti apa.

Suatu pagi, seorang kaya rasa membaca koran pagi dan kaget saat membaca berita kematian. Alfred “Nobel sudah meninggal dunia. Penemu dinamit ini sudah meninggalkan kita.” Begitu kira-kira wartawan menulis tentang ‘kepergiannya’. Ternyata wartawan itu salah mengutip nama. Meskipun demikian, Alfred Nobel tertusuk hatinya. Dia lalu mendonasikan sejumlah besar uangnya untuk memberi penghargaan kepada orang-orang yang berjasa bagi kemanusiaan. Penghargaan itu bernama ‘Hadiah Nobel’. Sekarang, kita mengenal Alfred Nobel sebagai seorang yang dermawan. Bukan penemu dinamit.

Saat Indonesia sedang berduka dengan jatuhnya Lion Air, marilah kita merenungkan kembali apa arti hidup kita. Selagi maut belum menjemput, apa yang seharusnya kita perjuangkan?

Penulis Pelukis Kehidupan di Kanvas Jiwa