Saat Tuhan Nonton Bola

Video Anies ditolak paspampres naik ke podium kemenangan Persija jadi viral. Ketika merenungkan hal itu, saya justru tertarik untuk mengomentari dunia politik dari sisi ‘penonton’. Fans yang fanatik akan membela timnya mati-matian bahkan rela mati saat tawuran dengan fans dari grup lawan. Saya sempat menulis di detik.com pernyataan ini: “Fans sejati nggak bisa dibeli!” Apakah hal yang sama sedang kita saksikan di dunia perpolitikan tanah air?
Hiruk pikuk dan hingar bingar para idola sepak bola itu mengingatkan saya pada tulisan ciamik karya penulis apik Anthony de Mello, SJ. Di dalam salah satu goresan penanya, rohaniwan kritis ini menceritakan saat Yesus diajak nonton pertandingan sepak bola antara kesebelasan Katolik dan Protestan. Yang menarik, saat Katolik berhasil membuahkan gol, Yesus berorak-sorai sambil melemparkan topinya tinggi-tinggi. Demikian juga saat Protestan berhasil mendaratkan bola ke gawang lawan, Yesus pun melakukan hal yang sama: bersorak gembira dan melemparkan topi tinggi-tinggi.

Seseorang yang duduk di belakang-Nya merasa terganggu dengan penonton nyentrik ini. “Sebenarnya, kamu memihak kesebelasan mana sih?” tanyanya sengit.

“Saya tidak bersorak bagi pihak mana pun,” ujar Yesus kalem, “Saya hanya menikmati pertandingannya.”
“Dasar ateis!” ujar penonton itu sengit.

Kembali ke kasus Anies. Meskipun peristiwa itu terjadi di dunia olahraga, namun ada juga yang mengaitkannya dengan masalah politik. Sebagai orang yang berada di luar gelanggang pertarungan politik, saya melihat Indonesia memang sedang sakit. Pilkada DKI berbau pilpres kemarin masih menyisakan abu kemarahan yang masih panas dan jika suasana kondusif, bisa menyala kembali. Apalagi jika ditunggangi oleh berbagai macam teori konspirasi gelap yang tidak jelas ujung pangkalnya. Sikap ‘pokoknya’ menjadi acuan yang sangat berbahaya. Pokoknya yang penting jagoanku harus menang tidak peduli pihak lawan babak belur.

Baca Juga:  Pilwako Bandung: Oded Paling Kuat Tapi Belum Aman, Posisi Wakil Bersaing Ketat

Pertanyaan yang paling mendasarkan, bagaimana jika pihak lawan itu saudara sekandung kita yang dilahirkan dari Rahim Ibu Pertiwi yang sama bernama Indonesia? Sibling rivalry bukan saja berbahaya tetapi juga merusak tatanan berbangsa dan bernegara yang sudah sekian lama dibangun oleh para founding fathers dan founding mothers bukan hanya dengan cucuran keringat, tetapi curahan darah. Mengapa kita sebagai anak cucu cicit canggah masih saja menumpahkan air ludah kebencian ke muka saudara kita sendiri?

Tidakkah kita ingat bahwa dengan sistem divide et impera, Belanda berhasil menjajah kita ratusan tahun? Mengapa kita mengulang sejarah yang sama dan yang lebih memprihatinkan, kali ini kita sendiri yang menjadi agen pemecah belah. Black Campaign, Hoax dan Hate Speech di media daring membuktikan bahwa nurani kita telah kering dan butuh guyuran kasih sayang dari tempat yang maha tinggi. Rasanya naïf jika hari kasih sayang kita biarkan lewat di tanggal 14 Februari lalu dan kini kita kembali menabuh genderang perang.

Saat menerima undangan bicara di Kanada, saya membaca sejenis landak yang di puncak musim dingin saling mendempetkan dirinya di liang gua yang sempit. Dalam proses itu, duri-duri mereka saling menusuk satu sama lain. Meskipun demikian, mereka memilih untuk tetap melekat meskipun saling melukai ketimbang berpisah dan mati konyol kedinginan. Bukankah kita harus belajar dari binatang yang menurut kita bodoh dan tidak berakal budi?

Yang lebih menarik, saat mempelajari lebih jauh tentang landak, mereka punya ritual khusus saat saling jatuh cinta. Mereka akan mendekatkan diri dan melakukan tarian cinta meskipun duri-duri mereka saling menimbulkan luka. Mengapa kita sebagai makhluk yang berbudi luhur justru sibuk menabuh genderang perang?

Baca Juga:  Cuitan Setnov Tidak Steril Dari Kepentingan Politik?

Seandainya kita bisa melihat Tuhan sedang menyaksikan ‘pertandingan’ kita, bisakah Dia menikmati permainan cantik yang kita suguhkan atau malah terganggu karena kita saling sikut dan sikat, tempeleng dan tendang?

*Penulis Adalah Dosen, Penulis Buku dan Pembicara Publik, Suka Nonton Perlombaan dan Pertandingan Olahraga Tetapi Tidak Jago Bermain.