Cerpen

Sarung Berkibar diatas Liur Anjing dan Perut Babi

Foto lakonhidup.com

Bersarung, berdzikir, bersholawat.

Bahagia telah menjelma kupu-kupu.
Rendah dekat tanah, mengatas seperti langit.
Ia mengangkatmu tinggi, memberi selilit kain.
Berbau kemarau berbunga dipohon rindang nan tandus.
Rajawali terbang tinggi menatap dan mengawasi.
Pijakan terpantau di kibaran sayap raksasanya.
Malaikat menitip buih estetika kehidupan.
Lalu pergi, dengan sayap raksasa nan perkasa.
Melingkari dititik sumbu dunia.
Bersenandung tenang berirama mulia.
Secangkir madu hidangan bidadari.
Bukankah itu nikmat bagi pe-sarung?
Kau tau itu, bukan opinisme.
Tapi kau tau apa buatmu?
Busa dari lisan berbau liur anjing.
Jijik, tak berasa manis sekalipun nampak manis dipanca indra.
Kaulah anjing universitas, berdansa dengan liurmu.
Merekalah babi gendut negara, makan enak dengan senyum ria pada kaum proletar.
Nafasmu penuh dosa, langkah berduri bermulus licin.
Beri aku kekuasaan, maka kucincang selambumu.
Beri aku palu keadilan, maka kusikat lidahmu.
Babi kau, asu kau.
Sajak terbuka bagi kau dan mereka.
Keringatku tak akan habis hingga darah menjadi keringat.
Tanganku tak akan diam, hingga jemariku tak lagi hidup.
Kuhamparkan kabar ini, untukmu liur-liur biokrasi.
Perut buncit babi hutan.
Kaum sarung akan berkibar diatas sayap raksasa, diujung manapun langit dan bumi hanya ada dilingkup sayap mereka.
Bertanya lah, dan mengaca lah.
Maka kau ku ampuni dengan Do’a “matilah kau di neraka.”
Ku sanjang kau dalam jemariku.

Penikmat tidur dan suka begadang,Ketua Bidikmisi Angkatan 2016 UIN SUKA yogyakarta Mahasiswa Jurusan Filsafat UIN SUKA yogyakarta

Popular

To Top