#SBYJelaskan, Salah Tweet Admin Jokowi tentang JKT48 dan #GantiKacamata

1239

#SBYJelaskan, Salah Tweet Admin Jokowi tentang JKT48 dan #GantiKacamata
Di jagad twitter, #SBY jelaskan sedang viral. Sebelumnya, admin medsos Jokowi saat men-tweet tentang JKT48. Kok bisa-bisanya admin medsos kepresidenan buat blunder semacam itu. Jari bisa saja tidak sinkron dengan otak. Saya pun pernah salah kirim berita ke orang yang salah. Kesalahan memang diperbaiki dengan dibebastugaskannya petugas admin tersebut, namun kesalahan sudah terlanjur menguar ke mana-mana. Meskipun sudah dihapus sesaat setelah nge-tweet, jejak digital tetap bisa ditelusuri, apalagi bagi yang sudah men-screen shot. Perang tagar memang tidak berpagar. Sekarang tagar yang ramai di pasar adalah hujatan terhadap teror bom di Surabaya sampai-sampai seorang ibu mengeluh di Suara Surabaya, bahwa tagar untuk menghujat teroris boleh saja tetapi jangan melanggar batas etika dengan kata-kata makian khas Surabaya.

Masih jelas di ingatan kita perang antara pendukung pemerintah dan oposisi. Perseteruan antara pengikut #2019GantiPresiden dengan mereka yang masih menginginkan Jokowi tetap sebagai presiden untuk periode kedua tampaknya belum usia, bahkan menurut pengamatan saya, semakin membara. Persekusi terhadap seorang wanita dengan anaknya yang memakai kaos putih dengan tulisan #DiaSibukBekerja barulah awal dari civil war yang melanda tanah air. Perang dingin antara pro-Jokowi dan anti-Jokowi masih terus berlangsung, bahkan sampai ke akar rumput. Tulisan di struk rumah makan ayam geprek Eskom di Jogja yang mencetak tulisan #2019GANTIPRESIDEN di atas ucapan TERIMA KASIH dan struk transfer bank yang menampilkan tagar yang sama menjadi viral di media sosial. Pihak pemilik resto mengunggah permintaan maaf disertai keterangan bahwa itu ulah kasirnya, bukan mewakili pemilik, sementara pihak bank mengatakan bahwa itu catatan pribadi orang yang transfer, bukan default bank yang bersangkutan.

Strategi Lama dengan Jubah Baru
Saat mengikuti dan mengamati perkembangan ini, saya miris. Selama sekian abad kita dijajah Belanda dan tidak mampu merdeka karena disebabken strategi divide et impera yang mereka lancarkan, kini justru kita ulang dengan aktor intelektual dan pelaku yang orang kita sendiri. Jika dibiarkan terus-menerus, perang saudara bisa pecah kembali. Siapa yang bersorak? Tentu pihak-pihak yang diuntungkan saat kita berkelahi sendiri.

Baca Juga:  Ada Apa dengan Alutsista TNI?

Jika Soempah Pemoeda dulu diperjuangkan mati-matian agar rakyatterutama generasi mudabisa bersatu, mengapa sekarang generasi yang lebih tua justru mengompori anak-anak muda untuk saling sikat? Saat tokoh-tokoh reformasi saling serang, apa lagi yang bisa generasi milenial pegang? Siapa yang ada di balik semua kerusuhan ini sehingga saudara sekandung pun saling tentang? Saat merenungkan chaos di tanah air ini, ada tiga kisah yang melekat di benak saya.

Istri Diprovokasi, Suami Dipanas-Panasi

Seorang budak dibeli dan masuk dalam sebuah keluarga bangsawan. Suatu hari budak itu berkata kepada istri tuannya, “Nyonya, tanpa sepengetahuan Nyonya, Tuan memiliki selingkuhan. Mereka berencana untuk menikah”.

“Apa benar katamu?” selidik nyonyanya.

“Benar, Nyonya, namun jangan kuatir. Ada penangkalnya kok”.

“Apa itu?”

“Saat Tuan tidur, ambil gunting dan potong sedikit janggut suami Nyonya dan simpan, pasti Tuan akan membatalkan niat pernikahannya dengan selingkuhannya dan makin mencintai Nyonya”.

Setelah itu, budak itu menemui tuannya dan berkata, “Tuan, di belakang Tuan Nyonya punya selingkuhan. Karena takut ketahuan, Nyonya bermaksud membunuh Tuan”.

“Apa?” tanya tuannya. “Apa kamu bisa mempertanggungjawabkan ucapanmu?”

“Bisa Tuan. Nanti malam, coba Tuan pura-pura tidur lebih awal. Coba perhatikan apa yang akan Nyonya lakukan terhadap Tuan”, jawab budaknya.

Malam itu, tuan budak itu pura-pura tidur. Tidak lama kemudian, dia merasa ada yang memegang janggutnya. Dia terkesiap saat melihat tangan istrinya memegang gunting. Seketika dia rebut gunting itu dan dia tikam dada istrinya sehingga tewas.

Ayah Dibuat Emosi, Anak Gadis Dikadali
Kisah kedua yang pernah saya baca menceritakan tentang seorang playboy yang sakit hati karena cintanya ditolak gadis tetangganya. Dia menemui ayah gadis itu dan berkata, “Anak gadismu telah berbuat asusila dengan kekasih gelapnya.”

Baca Juga:  Menjaga Pemilihan Anggota Legislatif dan Pilpres Bersih

“Apa betul ucapanmu?” selidik ayah itu.

“Kalau Bapak tidak percaya, coba nanti malam, datanglah ke rumah kosong di samping kuburan. Nanti anak gadismu akan datang sambil membawa bantal untuk menemui kekasih gelapnya,” ujar don yuan itu.

Malam itu, setelah memastikan bahwa sang ayah sudah memasuki rumah kosong itu, tukang adu domba itu berkata kepada gadis itu. “Kamu disuruh ayahmu membawakan bantal ke rumah kosong di sebelah kuburan.”

Karena zaman itu belum ada hape dan dia tidak bisa menemui ayahnya di rumah, maka meskipun dengan penuh keheranan, dia membawa juga bantal itu untuk menemui ayahnya.

Ketika sang ayah melihat anaknya mendekati rumah itu sambil membawa bantal, emosinya meledak. Dia menembak anaknya sendiri. Baru ketika sampai di rumah, dia tahu bahwa dirinya telah ditipu mentah-mentah.

Pagar dan Jembatan
Dua orang tetangga mula-mula hidup rukun satu sama lain. Rumah mereka dipisahkan sebuah sungai yang menjadi batas property mereka satu sama lain. Suatu kali seorang dari mereka kedatangan tamu. Tamu itu mulai menunjukkan bahwa tetangganya lebih kaya dan lebih segalanya dari dia. Dari sini mulai timbul rasa iri. Sejak saat itu, jika biasanya mereka saling bertegur sapa, kini mereka saling membuang muka saat bertemu. Mereka bahkan sering bertengkar.

Ketika pertengkaran semakin tajam, tetangga yang iri itu memanggil tukang kayu dan menyuruhnya untuk membuat pagar yang tinggi agar dia tidak perlu melihat muka tetangganya. Setelah itu dia pergi keluar kota untuk bekerja.

Saat pulang dia begitu terkejut karena kayu yang dia sediakan bukan dibuat pagar melainkan jembatan. Dia marah dan memanggil tukang kayu itu. Dengan tetap tenang, tukang kayu itu menjelaskan bahwa mereka bertengkar karena kurangnya silaturahmi satu sama lain. “Coba Bapak menyeberangi jembatan itu dan lambaikan tangan ke tetangga sebelah,” saran tukang kayu itu.

Meskipun mula-mula enggan, akhirnya dia coba juga. Tetangga sebelah yang kebetulan menengok ke jembatan baru itu melihat tetangganya melambaikan tangan. Dia tinggalkan pekerjaannya dan bergegas berlari ke jembatan itu. Mereka bertemu di tengah jembatan. Mula-mula mereka berdua merasa canggung, namun saat yang seorang melemparkan senyuman, yang lain membalas dan tidak lama kemudian mereka saling berangkulan dan bertangis-tangisan. Sejak saat itu mereka jadi sering berkunjung dan hidup rukun.

Baca Juga:  Ki Batoro Katong : Penjaga Kesenian Reog dan Penyebar Agama Islam Awal di Ponorogo

Ganti Tanda Pagar
Sebagai sesama anak bangsa, marilah kita akhiri perang hashtag atau hash character. Jangan sampai tanda pagar (#) menjadi pagar pemisah sesama bangsa Indonesia. Keanekaragaman agama, budaya, suku dan antargolongan justru kita jadikan jembatan untuk saling mengenal satu sama lain. Jargon klasik yang tetap apik: tak kenal maka tak sayang.

Alih-alih memakai #2019GantiPresiden atau #DiaSibukBekerja, mengapa kita tidak menggantinya dengan #GantiKacamata atau #GantiParadigmaSekarang. Saat sebagian orang mengutuk dan menghujat pelaku teros, sebagian lainnyapihak korbanbahkan melakukan tindakan yang lebih. Aih-alih memasang tagar makian terhadap teroris, mereka menawarkan pengampunan dengan tindakan nyata. Jika kita memakai kacamata kuda terus, kita hanya melihat lurus ke depan tanpa menengok ke kiri dan ke kanan, padahal, tetangga kiri kanan perlu kita sapa. Jika kita memakai kacamata minus jangan-jangan semua hal kita pandang negatif. Sebaliknya, jika kita memakai kacamata plus maka kita menjadi orang yang tidak lagi kritis. Mari kita lepaskan kacamata asumsi dan prasangka. Saat melihat wanita berhijab datang dan mengunjungi para korban teror di gereja di Surabaya, hati saya terasa sejuk sekali. Apalagi ketika mereka dengan tulus mencium bunga tanda kasih. Kita memang satu. Mari kita lihat Indonesia secara keseluruhan agar kita tidak tercabik-cabik oleh politik divide et impera yang dulu berhasil dipakai Belanda untuk memecah belah bangsa kita yang besar. Jangan sampai kita menjadi komprador dan provokator jika kita tidak bisa menjadi kontributor.

Penulis Pelukis Kehidupan di Kanvas Jiwa