Kemaritiman

Sebuah Pengantar Tentang Bahari (1)

Sumber Foto Yusrizal_kw

Oleh : M F.Fahlevi*

ketika pak Jokowi dalam kampanye politiknya “revoluisi mental dan Maritim,” memberikan angin segar bagi penduduk bahari, terutama di tempat saya di lahirkan. karena generasi mereka tidak akan punah untuk selalu menjalankan cita mulya bangsa luhurnya sebagai pelaut.

Mewarisi mental hebat sebagai petualang, membelah ombak, ahli petunjuk arah, walaupun di terkah angin tenggara.
Tentu secara politik saya juga ikut mendukung dalam kampanye ini, alasanya sederhana, supaya saya bisa kembali mengenang ingatan yang sudah karam tentang rokat laut, dan riuh bunyi mesin nelayan di waktu subuh dan deburan ombak yang menguatkan tekat mereka sebagai penduduk yang hebat.

Program itu, menggugurrkan niat untuk menjadi masayarakat yang urban dalam sekala besar. Menjadikan masayarakat lokal menjadi lebih trampil dan berkearifan lokal (Local Wisdom.)karena ia dengan tegas di dalam banyak siaran bermaksud mengembalikan kejayaan nusantara yang pernah menaklukkan semua benua di bidang kemaritiman.

Artinya Indonesia akan menjadi poros utama yang menempatkan kesejahteraan di bidang laut. Transaksi, maupun diplomasi politik tetorial.

Didalam hal menempatkan Indonesia sebagai kekuatan bahari, pak Jokowi memberikan mandat sebagai nahkodanya pada mentri Susi, seorang perempuan pemberani dalam setiap kebijakanya. Katanya.

Setelah ia terpilih menjadi menteri, keberanian sang nahkoda banyak menerima sorotan, ia mampu mencungkar balikan banyak perahu nelayan asing yang berkeliaran di laut Indonesia, dan sang nahkoda langsung ambil langkah tegas dengan menindak secara hukum.

Mungkin semua orang sudah tau tentang kabar terbakarnya banyak perahu negara tetangga yang menjadi arang, dan meninggalkan retak bagi orang-orang yang ada di atasnya. Juga dari kejahuan sana ada air mata seorang anak dan istri yang selalu bertanya, kapan suaminya akan kembali dan keluar dari dekap jeruji Mentri susi.

Tapi mau bagaimana lagi ini negara hukum, setiap hukum harus di adili sebagai aturan itu sendiri belaku, tidak ada kekeluargaan. Karena hukum kita memang tidak berpihak pada kemanusian, melainkan berpihak pada kepentingan modal dan profit pada segelintir orang. Dan kita harus menerimanya dengan lapang hati.

Pendidikan Kami Tidak Mengajarkan Tentang Laut

Pak Jokowi. Pada mulanya kami penduduk timur yang memang secara mayoritas adalah mata berpencarian laut menyadari, perubahan mungkin saja terjadi, terutama sekolah yang tidak mengajarkan ilmu pergi.

Semakin percaya disaat mentri susi membela mati-matian pelaut agar supaya menjadi langka ekonomi taktis dan strategis, terutama di lihat dari penyelesaian Ilegal Fishing yang apik. artinya itu alarm jika kedaulatan sudah di ujung mata bagi penduduk bahari.

Singkat cerita pak jokowi, kini sudah tiga tahun, warga kami masih dalam gelap mata, semua generasi muda sudah berpendidikan dasar, SD, SMP, bahkan rata-rata lulusan SMA, ada juga yang kuliah.

Tapi tidak satupun diantara banyak sekolah, guru-gurunya menegaskan pada murid-muridnya, “ Nak jadilah pelaut, atau jadiklan laut sebagai gurumu yang sebenarnya”
tapi justru anak-anak kita di ajarkan untuk bisa menjadi Pilot, tentara, dan dokter yang merupakan warisan dari bangsa kolonial yang kembali di segarkan di masah 32 tahun rezim otoriter.

Tak hayal jika kian hari pemuda kami pergia jauh dari kampung halamanya hanya untuk mengikuti cara pandang guru-gurunya, yang membangun mitos cerita perihal kehidupan jakarta yang penuh dengan gaya hidup modern dan nyaman.

Tak di pungkiri memang pendidikan menjanjikan cara pandang modern yang terlepas dari tujuanya. bukan nalar kemanusianya yang menjadi prinsip utamanya, tapi gaya hidup konsumeris, dan hidonisme. yang pada akhirnya obrolan tentang belanja ke Mall dan beli baju baru adalah cerita yang bahagia. Tak lupa motor Ninja dan mobil Jass yang menjadi prioritas gaya hidup.

Sekali lagi pak jokowi, bersegeralah membuat kurikulum ramah bahari atau kurikulum berbasis maritim kepada mentri pendidikan bapak, supaya anak kita tak sesat dalam berjalan. kembali pada kebenaran sejarah yang telah tuhan takdirkan, bahwa indonesia adalah surganya dunia yang harus di rawat sepenuh hati, terutama kebudayaan lokalnya.

kekuatan apalagi yang akan kita dustakan,hingga kita merasa takut pada negeri lain. SDM dan SDA kita punyai, sebagai senjata yang ampuh untuk bisa menekuk lawan.bukanya modal utama dalam perang ekonomi global itu adalah kekayaan alam.

Lantas apa yang kita tidak punya? Sebut saja, indonesia pasti punya.
Jika boleh jujur kita Cuma miskin kesadaran, karena kita terjebak pada konsep negara modern. Apakah pak jokowi pernah mendengar kehebatan dari raja kartanegara? Tidak mau takluk dan negosiasi pajak pada bangsa mongol, karena hanya martabat sebagai bangsa yang hebat tidak boleh di injak-injak.

Marih pak bersama merawat martabat kita sebagai bangsa yang hebat dengan kesadaran yang hebat pula.

*Penulis lepas yang tersesat dalam gelombang megahnya pembangunan kota Jogja

Popular

To Top