Sepi

50
Sepi

Kamu adalah ruang hampa
Tempat bermuara kata tanpa makna
Tempat bermukim rasa yang pasti sirna
Tempat duka bertahta

Yarra Valley

Neira tampak menikmati kesendiriannya di depan laptop, menghadap jendela besar, tak menyentuh sepiring keju yang datang bersama Pinot Noir yang dipesannya sedari tadi. Udara dingin masih menggigit di luar. Yarra Valley, sekitar 50 kilometer dari pusat kota Melbourne siang itu bersuhu 12 derajat disertai hujan. Membuat para tamu betah untuk berdiam dan menikmati hamparan kebun anggur.

Sesekali Neira menatap Samsung Note-nya dan menggambar sesuatu dengan stylus. Ankle boots yang ia pakai tampak sedikit berlumpur. Wineries day tour yang ditutup dengan wine tasting membuat ia sedikit kewalahan. Entah apa yang ia tulis, tapi dari bahasa tubuhnya tampak menguras pikiran.

“Maaf mengganggu….”, suara berat memanggil Neira untuk kembali ke bumi.

“Ya….?”, bingung dan kaget, ia pikir waitress hendak mengusirnya karena restaurant mau tutup.

“Sorry saya lancang. Perkenalkan saya Quentin. Boleh duduk disini?”, kali ini suara berat itu dibebani ragu.

“Silahkan”, ragu juga tapi karena permintaan yang sopan dan Quentin yang hangat akhirnya ia mempersilakan duduk.

“Kebetulan saya kenal baik dengan pemilik Bell Winery and Vineyard ini. Dan kebetulan sekali kamu ada disini. Saya pernah membaca beberapa artikel yang kamu tulis. Cerdas. Kritikal”, Quentin menyerahkan business card nya.

“Oh wow, terimakasih”, pujian, apa maunya doktor ilmu pertanian USQ ini, pikir Neira curiga.

“Koreksi jika saya salah, sepertinya kamu sedang menulis review tentang kilang anggur? Boleh saya usulkan beberapa hal?, tanya Quentin kembali dibebani ragu.

“Begini, saya menulis berdasar apa yang saya lihat dan yang saya rasakan. Dengan begitu tulisan saya akan netral, apa adanya, tidak berpihak. Saya ada deadline, dan saya harap anda tidak keberatan jika saya melanjutkan tugas saya”, Neira kesal dan Quentin terpojok.

Baca Juga:  Memahami Pelajaran Bu Oka

“Oh baiklah, saya tak ganggu kamu lagi”, begitu saja. Quentin memilih mundur

Seminggu telah berlalu…

Artikel Neira telah terbit. Ada dorongan kuat yang membuatnya kembali ke Yarra Valley, tempat ia bertemu bule atletis, rambut pirang, lurus acak-acakan, berkacamata dan beraroma segar itu. Sekedar untuk memberikan beberapa copy hasil karyanya.

Satu jam berdiam di meja yang sama tak juga mendapatkan tanda-tanda keberadaan Quentin. Beranikan diri, Neira tanyakan kepada beberapa waitress’ yang surprisingly, tak satupun mengenali sosok Quentin. Sekalipun pak Bell, yang tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih atas tulisan Neira tentang winery miliknya. Putus asa, ia memutuskan pulang.

Tiba di apartemennya, Neira semakin penasaran dengan Quentin. Business card milik Quentin entah tercecer kemana. Berbekal ingatan, Ia melacak kampus dan daftar alumni Ilmu Pertanian di University of Southern Queensland. Tak membuahkan hasil. Quentin seperti Alien. Dan hanya Neira yang dapat merasakan hadirnya waktu itu.

Keingintahuannya semakin memuncak. Kembali ia datangi restaurant di winery milik pak Bell. Dengan menampilkan skenario terbaiknya sebagai seorang jurnalis, ia berhasil melihat rekaman CCTV, detik-detik perjumpaannya dengan Quentin. Ia tak sadar, langkah nekatnya itu menuntunnya ke ruang hampa tak berdimensi.

Dengan mata kepalanya, Neira menyaksikan ia tampak berbicara sendiri dan sesekali memelototkan matanya ke bangku kosong diseberang ia duduk. Quentin itu tak nyata. Ia hanyalah ruang hampa. Sebuah imaji. Seketika dunianya sepi.

Penulis Adalah News Presenter BeritaSatu TV dan Tenaga Ahli DPR RI, Jakarta