Sepotong Legenda Cinta

251
Sumber Foto: suryamalang.tribunnews.com
Sumber Foto: suryamalang.tribunnews.com

Oleh: Dwi Sutarjantono

Segelas coffe mocha tanpa whip cream di depannya bergeming. Sejak diletakkan oleh waitres yang kemayu setengah jam lalu, bibir gelas itu masih tak punya bekas bibir Sem. Tidak biasanya Sem begitu. Pria berusia tigapuluhan ini menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Tangan kanannya memegang buku dengan telunjuk terjepit  di salah satu halamannya. Matanya terpejam.

“Pagi ini aku akan berburu kijang ke hutan,” kata Raden Banterang sambil menatap langit yang cerah. Para abdi di sekitarnya bergegas menyiapkan peralatan berburu. Ucapan raja muda ini tentu saja titah yang tak bisa ditunda.

Sem membuka matanya. Dari pojokan kafe tempatnya duduk ia leluasa melihat lalu lalang orang yang memadati mal. Sore memang biasanya menjadi pintu bagi keramaian belantara butik, kafe, bahkan tempat karaoke keluarga yang kini main marak.

Dua gadis remaja melintas. Keduanya mengenakan kaus ketat. Yang satu dipadu jeans, satunya memakai rok mini ketat. Begitu  jalan di depan Sem, gadis ber-jeans melirik sambil melemparkan senyum.

Mata Raden Banterang mengkerut.Pandangannya lekat pada seekor kijang yang tengah asyik menjilat air danau tanpa menyadari sepasang mata tengah mengamatinya.

Kijang itu terjingkat ketika sebuah apel tiba-tiba terjatuh di kakinya. Seolah disadarkan bahaya yang mengintainya, kepalanya bergerak ke arah Raden Banterang bersembunyi. Trengginas mengangkat kedua kaki depannya, kijang itu lalu berlari.

“Apel sialan,” gerutu Raden Banterang melihat buruannya kabur. Matanya menjelajahi rimba yang seolah menelan kijang tadi.

Kresek…

Raden Banterang menajamkan telinganya. Ada bunyi halus di semak sebelah kanannya. Melihat semak-semak itu bergerak, segera Raden Banterang meregang kuat tali gendewanya.

Sem hanya tersenyum. Sudah bukan rahasia lagi, kalau mal tak hanya menjadi surga bagi para pembelanja barang tetapi juga bagi mereka para pemburu wanita, bahkan gadis belia. Seperti gadis-gadis tadi. Tapi Sem bukan tipe pria pemburu. Ia tak mudah tergoda.  Pernikahannya dengan Nina sudah membuatnya bahagia. Sudah.

Tak seperti kondisi jalan tol di Jakarta yang selalu macet, kehidupan cinta Sem lancar-lancar saja. Cinta pertama dan terakhirnya jatuh pada bunga mawar merah di antara melati putih di kampusnya, mahasiswi paling ayu, Nina. Setidaknya bagi Sem. Nina memang terlihat berbeda dari semua teman seangkatannya. Menarik, sederhana, dan yang penting menyambut gayung cinta yang diulurkan Sem.  Kesederhanaan cinta keduanyalah yang membuat keputusan menikah setelah keduanya lulus terwujud. Nina mantap menjadi ibu rumah tangga, dan membiarkan Sem berkarier sebagai konsultan.

Tunggu!”

Seraut wajah menyembul dari semak itu.“Tolong, jangan tarik anak panah Tuan,” kalimat itu keluar dari bibir mungil yang bergetar. Wanita pemilik bibir itu perlahan berdiri dan melangkah menghampiri Raden Banterang yang terkesima. Kecantikan wanita itu tak dapat bersembunyi dalam gurat kelelahan yang membebani parasnya.

“Namaku Surati. Aku puteri dari dari kerajaan Klungkung. Kerajaan kami diserang musuh entah dari mana. Ayahku gugur di medan laga dan aku terus berlari hingga tersesat di hutan ini.” Tanpa ditanya kalimat demi kalimat meluncur dari Surati.

Raden Banterang yang sudah dirajam panah dewa cinta, mendekati Surati. Tangannya terulur menenangkan jemari Surati yang gemetar. ”Tuan Puteri, aku terharu mendengar ceritamu. Aku juga terpesona pada paras cantikmu. Ikutlah pulang bersamaku,  dampingi aku. Aku melamarmu.”

*    *  *
Pagi belum habis. Nina masih bermalasan di kasur saat HPnya terus berteriak. Meski enggan, diangkatnya juga telepon itu.“Hallo..!

Baca Juga:  Bedah Buku Viral

”“Hallo Deeek…jangan ketus begitu doong pagi-pagi..!”

Deg!

Sumber Foto : media.tumblr.com

Detak jantung Nina seolah berhenti. Suara itu, adalah suara yang sebenarnya sudah tak mau didengar lagi.

“Dari mana kamu tahu nomorku?”

“Tenaang Dek..jangan marah-marah begitu doong. Aku beberapa hari lalu ketemu Lia. Nah aku minta  nomormu ke dia. Nggak pa pa kaan? Eh, dia lagi hamil lho…

Ah, Lia. Salahku sendiri tidak memberitahunya agar jangan  memberikan nomor HP-ku pada pada Jon. Nina menyalahkan dirinya sendiri. Jon, pria masa lalu yang pernah melintasi hatinya.Ya, memang hanya melintas karena entah setan apa yang waktu itu merasuki hatinya, ia terpikat pada Jon. Sem tak pernah tahu sempat ada Jon di hatinya.

Kepergian Sem selama 3 bulan untuk mengurus proyek kantornya di New York sebelum mereka menikah ternyata cukup membuatnya berpaling pada Jon, teman SMA yang tiba-tiba muncul dan selalu hadir setiap kali ia sibuk membantu Lia mengurus persiapan pernikahan sahabatnya itu. Hari-harinya yang tanpa Sem pun berganti dengan hangatnya hari-harinya bersama Jon, yang sebenarnya sudah tahu ia akan menikah dengan Sem. Menjelang kepulangan Sem ke Jakarta, Nina disadarkan bahwa pernikahannya dengan Sem sudah dekat dan tak mungkin dibatalkan. Apalagi demi Jon yang keluarganya pun tak pernah tahu menahu.

Tak ada sedu sedan, keduanya berpisah. Rasanya dunia begitu berpihak pada Nina. Entah karena Jon tahu tak akan bisa memiliki Nina, atau Jon tak punya nyali untuk lebih serius menjalin hubungan dengannya, atau mungkin Jon (dan mungkin juga Nina) hanya iseng, perpisahan begitu mudah. Nina sendiri tak paham. Ia juga tak tahu apakah ia salah. Memang ia sempat menitikkan air mata tapi ia tak tahu air mata apa yang menitik. Menyesali perselingkuhannya atau malah perasaan bersalahnya pada Sem. Tetapi itulah yang membuatnya menghilang dari Jon, yang terakhir dilihatnya hadir di pesta pernikahannya.

“Maaf, Jon. Thanks sudah meneleponku. Sekali lagi aku bilang, aku sudah tak mau lagi berhubungan denganmu. Masa lalu kita memang sebuah kesalahan yang tak terhapus. Tapi aku tengah membuka lembar baru hidupku. Dan aku sudah bilang padamu, aku tak ingin kau ada di sana. Aku tak mau mengulang kesalahan masa laluku. Please, aku harap kau mau mengerti”. Kata demi kata tegas meluncur dari bibir Nina. Tanpa menunggu jawaban dari Jon Nina menutup dan mematikan teleponnya.

Surati!

“Suratii…!”

Surati yang tengah bermain air di tepi sungai istana menoleh. Tergopoh ke arahnya, seorang lelaki berpakaian compang-camping.

“Surati, kau tak mengenaliku?”

“Kangmas Rupaksa! Oh, bagaimana keadaanmu?”

“Surati, aku tak bisa lama-lama di sini. Sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahumu. Raden Banterang-lah yang telah membunuh ayahanda. Jadi Surati, aku ingin, demi ayah kita yang kini sudah tiada, bunuhlah Raden Banterang. Balaskan dendam keluarga kita,” kata lelaki yang ternyata Rupaksa, kakak kandung Surati.

“Kangmas..tapi..aku istrinya Kangmas. Tidak mungkin aku membunuhnya. Dia baik padaku kangmas. Aku berhutang budi,” Surati tersedu.

“Surati. Aku tak mau tahu. Aku minta sekali lagi kau bunuh dia. Dia musuh keluarga kita, musuh kamu juga. Apa kau tega berkhianat?“

“Maaf kangmas, sekali lagi lagi bukan aku mau mengkhianati keluarga kita. Tapi tidak harus nyawa dibayar nyawa. Ayahanda Raja sudah tiada. Biarlah aku menjalani hidup bahagia dengan Raden Banterang, suamiku sekarang.”

Entah apa yang ada di kepala Rupaksa mendengar jawaban Surati. Tapi nafasnya memburu. Pelahan Ia berusaha mengontrol emosinya dan sejenak berkata, “Baiklah Surati. Mungkin memang sudah begitu jalan hidup yang kau pilih. Aku hanya bisa mendoakanmu. Tetapi ini, terimalah ikat kepalaku ini sebagai doa terakhir dari aku, kakakmu. Pesanku, simpanlah ikat kepalaku ini bawah bantalmu malam sebelum kau tidur,” kata Rupaksa yang lalu bergegas meninggalkan Surati yang masih tak percaya dengan kejadian yang baru terjadi. 
*  *  *
Jempol Sem memencet tombol pesan pada blackberry-nya. Dipandanginya kata demi kata yang ada di salah satu pesan dari nomor yang tak dikenalnya itu.

Baca Juga:  Massie Nilai Erlangga Hartarto Figur Tepat Kembalikan Kejayaan Golkar

Hai Sem. Sorry ya kalau sms ini mengganggumu. Tapi aku cuma mau bilang, istrimu telah selingkuh denganku bahkan sebelum kamu menikah. Naif sekali kamu, kalau tak bisa dibilang bodoh. Hehe…Bye..

Sem mengangkat kepalanya yang dirasakan makin berat. Dia berusaha tak menanggapi sms yang mungkin iseng. Tetapi siapa yang mau iseng padanya? Tak seorang pun sebelum ini ber-sms iseng padanya. Setiap kali ia tak mau membaca, setiap kali itu juga matanya selalu tergoda untuk berkali-kali membacanya. Kata-kata singkat itu cukup membuat dunianya kiamat.

Sem mencoba mengingat-ingat sesuatu yang janggal dalam kehidupan rumah tangganya. Rasanya tak ada yang ganjil setahun ini. Semuanya terlihat manis, indah. Nina di rumah menyiapkan segala keperluannya dengan prima. Ia bekerja dan selalu saling telepon atau sms kalau Nina mau ke mal atau ke salon.

Bahkan sebelum kamu menikah…

Sem ingat sekarang. Ia pernah meninggalkan Nina sendiri. Adakah sesuatu terjadi saat ia di New York?

Dipencetnya lagi nomor telepon itu. Tak bisa. Entah sudah berapa puluh kali nomor itu coba dihubunginya namun hanya senyap yang ada di telinganya. Pasti nomor ini langsung dibuang setelah dipakai sms.

“Tuanku Raden Banterang“.

Suara itu mengejutkan Raden Banterang yang tengah menyendiri di taman. Entah dari mana datangnya, seorang lelaki berpakaian compang-camping sudah berdiri jarak 5 meter di dekat tebok istana.

“Siapa kamu?!” Raden Banterang segera berdiri sambil menghunus kerisnya

“Sabar Raden. Nama saya tak penting, tapi saya ingin memberitahukan satu hal. Puteri Surati akan membunuh Raden malam ini. Raden boleh saja tak percaya dengan kata-kata saya, tapi silakan Raden periksa peraduan dan lihatlah ada ikat kepala pembunuh bayaran yang ditugasi membunuh Raden di bawah bantal puteri Surati. Itu saja yang ingin saya sampaikan, harap Raden menjaga diri,” kata lelaki itu yang segera hilang melompati dinding.

Roman Raden Banterang  merah padam. Setengah berlari ia menuju kamar tidurnya. Didobraknya pintu kamar. Kosong. Melihat bantal yang ada di kasur segera diraih dan dicampakkannya ke lantai. Sebuah ikat kepala pria kumal berwarna kecoklatan, tergeletak di sana.

Baca Juga:  Prabowo Salah Sasaran Kritik Tentang Infrastruktur Asian Games

Meledaklah amarah Raden Banterang. Laksana terbang ia keluar sambil meneriakkan nama istrinya. Ia tahu istrinya pasti ada di sungai sebelah istana. Surati memang paling suka menghabiskan waktu bercengkerama dengan bunga-bunga yang tumbuh di sekitar sungai itu. Di sini aku merasakan kedamaian, kata Surati.

“Surati! Aku sudah tahu niat busukmu. Kau mau membunuhku. Ini, ambil ikat kepala busuk ini. Kurang ajar. Perempuan tak tahu membalas budi! Sudah kuangkat kau dari hutan ke istana malah mau membunuh aku…”

Tentu saja Surati kaget bukan kepalang tba-tiba suaminya muncul dan membentaknya sekasar itu. “Kakanda…dari mana ikat kepala itu? Bagaimana Kakanda bisa dapat kabar bohong itu?”

“Aah, sudahlah. Aku tahu semuanya. Tak usah banyak bicara. Tadi dating lelaki compang-camping yang membocorkan kebusukanmu. Ternyata ia benar soal ikat kepala yang kau simpan di bawah bantal. Terimalah ini,“ kata Raden Bintrang sambil telapak tangannya diayun keras menabrak pipi Surati.

Surati jatuh terduduk. Sambil mengusap air matanya ia bercerita bahwa laki-laki itu adalah kakaknya, Rupaksa, yang justru menyuruhnya membunuh Raden Banterang namun ia tolak. Apa mau dikata, jika nafsu angkara sudah menguasai dada, penjelasan Surati hanya hilang ditelan awan. Raden Bintarang malah mencabut keris dan berniat menusukkannya pada Surati.

“Kakanda. Kalau Kakanda tak percaya dengan ucapanku tak apa. Tapi tak usahlah Kakanda mengotori tangan dengan darahku. Aku rela mati demi Kakanda. Aku akan buktikan kesetiaanku dengan menceburkan diri ke sungai yang setiap hari menemaniku ini. Tapi harap Kakanda ingat, kalau saja air sungai ini mengeluarkan bau wangi setelah aku menceburkan diri artinya aku tidak berbohong pada Kakanda. Namun apabila bau busuk yang keluar berarti Kakandalah yang benar.” Begitu selesai mengucapkan kalimatnya, Surati menceburkan dirinya dan lenyap begitu saja.

Raden Bintarang tertegun menatap air sungai yang seolah berhenti mengalir. Tubuh Surati tak muncul ke permukaan. Alam dirasakanya berputar-putar mengitari dirinya. Bau semacam melati dan mawar tiba-tiba menyeruak dari sungai tempat Surati menceburkan diri. Putaran alam rasanya begitu cepat memutari tubuh Raden Banterang. Tubuhnya melemas. “Suratii…”
* * *
Coffee mocha tanpa whip cream yang ada di gelas Sem tinggal seperempat gelas. Perlahan, Sem membawa oksigen mengisi rongga-rongga dadanya. Manusia yang melintas di depannya serasa bayang-bayang. Segala pertanyaan dan pikiran berkelahi di otaknya. Haruskah ia mencecar Nina dengan segala kecamuk yang ada di dadanya karena sms itu? Bagaimana kalau Nina tidak mengaku? Apa yang harus dilakukannya? Memaksanya mengaku? Bagaimana pula jika Nina justru mengaku? Apakah ia akan meributkannya? Atau malah menceraikannya? Untuk sebuah peristiwa masa lalu yang baru diketahuinya?

Sem mengubah posisi duduknya. Matanya menatap warna coffee mocha-nya yang tiba-tiba dirasanya tak jelas: hitam, cokelat, atau putih? Sem menghela nafas. Buku yang sejak tadi hanya dipeganginya ditutup dan diletakkannya di atas meja. Sebuah buku bersampul hitam dengan ilustrasi pangeran dan puteri itu terbaca jelas judulnya, Legenda Banyuwangi.