Setelah Teka-Teki Usai

Dua pasang capres-cawapres sudah jadi, lalu apa? Hari ini mulai periksa kesehatan. Mudah-mudahan semua lolos, hingga masuk ke babak selanjutnya

Tim pemenangan mulai dibentuk. Visi misi lima tahun ke depan akan ditawarkan ke publik. Era kampanye yang padat dan penuh intrik segera dimulai. Hiruk pikuk ditambah dengan persiapan para calon anggota DPR daerah-pusat serta DPD berkompetisi di dapil masing-masing. Mereka mengusung pribadi-nya, partai yang mendukungnya serta capres-cawapresnya. 3 in 1. Khusus DPD mereka mengusung diri sendiri. Sementara itu partai politik harus bisa membuktikan mereka eksis sampai dengan ke akar rumput.

Ketika era Orde Baru, pembinaan Golkar itu berjenjang mulai dari propinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, dusun, RW, RT , sumur (karena di desa 1 sumur dipakai oleh beberapa KK), rumah , kamar terakhir kasur. Yang menarik itu satu kasur – karena bisa saja satu kasur tidurnya namun pilihannya berbeda. Kalau dipraktikan saat ini cara Golkar dulu maka sudah tidak sesuai zaman. Publik bukan beo lagi. Menawarkan program riil dan disosialisasikan terus menerus – hingga nempel dibenak publik menjadi cara jitu. Namun perlu logistik besar disamping kreatifitas orisinal. Tanpa itu mubazir karena kalau dana tanggung maka parpol dan calegnya tergusur ke laut.

Artinya rumor yang mengatakan PAN dan PKS menerima masing-masing Rp.500 Milyar dari Sandi – sangat masuk akal. Hitung-hitungannya bila sasaran 1 anggota DPR memerlukan minimal dana Rp. 10 M maka diharapkan bisa diperoleh 50 kursi anggota DPR terpilih. Berarti sukses dari hasil maksimal kedua partai akan aman memperoleh 8,77% kursi di parlemen. Apalagi kalau Prabowo – Sandi memenangkan maka kedua partai bersama Gerindra akan membagi portofolio kementerian-kementerian yang utama. Sementara Partai Demokrat yang hampir ketinggalan kereta harus tahu diri dan pasrah terima nasib. Jadi impian menjadi wakil, presiden dengan 8 kursi kementerian sementara ditunda sampai dengan 2024. Yang utama Partai Demokrat harus menjaga kursi di parlemen. Kalau saat ini masih diatas 10% maka kendati dengan upaya keras tetap turun. Hanya jangan terlalu jeblog-lah. Sementara itu Gerindra aman, minimal tetap dalam 3 besar. Bahkan ada survey yang menyebut bisa menyodok Golkar, Gerindra menjadi partai kedua terbesar setelah PDI-P.. Apakah gabungan 4 parpol tersebut bisa menjadi mayoritas di parlemen ketika Prabowo-Sandi terpilih? Rasanya tidak karena walaupun menang, jumlah kursinya ada disekitar 40-an%. Namun tak jadi soal besar. Golkar seketika bisa menyeberang…hehehe.

Baca Juga:  Konvergensi Pemahaman Pesta Demokrasi

Kubu Koalisi Kerja bukan tanpa masalah. Hanura sepertinya madesu (masa depan suram) karena masalah perpecahan internal tak segera diselesaikan. Ia harus belajar dari PPP yang cepat menyelesaikan dan kembali kompak. Waktu yang relatif pendek menyebabkan Hanura kemungkinan besar tergusur dari parlemen. Lagi pula ada yang menyebut massanya di bawah mudah tergerus Partai Berkarya.

Golkar terlalu banyak faksi. Tapi kepemimpinan Airlangga menurut DPD nya lebih memberi harapan ketimbang pengurus lama yang terlalu elit. Golkar harus bertarung keras karena kader-nya banyak yang tertarik ke Nasdem atau balik kandang ke Berkarya. Sementara itu Nasdem amat beruntung karena memiliki Metro TV dan ide-ide nya yang populis. Hanya ia harus meninggalkan kesan elitis dan arogan – karena itulah pesan yang diperoleh dari survey yang layak dipercaya.

PPP dan PKB mempunyai ceruk massa yang sama. Sayang Islam perkotaan di PPP tampaknya lari ke PAN. Sementara itu yang di desa mereka harus menjaga dari gerusan PKS. Masalah lain adalah NU politik itu tak semua ke PKB atau PPP. Ada yang ke Golkar, ke Demokrat , ke Nasdem dan lain-lain. Jadi kalau totalnya saja dahulu mereka antara 11% sd 16% saat Gus Dur, maka saat ini apakah bisa kembali kompak. Sehingga ketika keduanya maksimal dengan bantuan nama KH Ma’ruf Amin mencapai 16%, sharing keduanya menjadi 8% masing-masing.

PKPI apakah terus bisa eksis? Sulit rasanya. Perindo mungkin bisa ditopang dengan dana besar Hari Tanoe. PSI- mengharapkan generasi Z. Apakah bisa sukses?

PDI-P amat tertolong dengan peran Jokowi. Hanya apakah kader-kadernya siap dapat memanfaatkannya secara maksimal ? Berpulang pada persiapan partai. Yang jelas mereka itu miskin inisiatif. Hampir tak ada isu-isu politik yang baik maupun yang populis dilontarkan oleh kader-kadernya. Mengapa ? Apakah mereka tersandera oleh politik dinasti ? Mungkin ya. Tp ketika kepartai masih bertitik tolak pada tokoh maka PDIP itu identik dengan Megawati, PAN dengan Amien Rais, Demokrat dengan SBY atau Nasdem dengan Surya Paloh. Partai seperti demikian tidak bisa menjadi partai modern. Mereka harus memikirkan sistem rekruitmen yang baik dan benar karena nasib demokrasi kita berada dalam partai politik. Tanpa ada perubahan sama artinya dengan nasib demokrasi kita berada di ketiak Megawati, Surya Paloh, SBY, Hari Tanoe, OSO, Amien Rais, Cak Imin dan lain-lain. Patutlah suatu hari headline KOMPAS menulis Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Elit. Tak ada itu jargon dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat.

Baca Juga:  Pancasila Ideology Feminis Nasionalis, Saling Memperkuat

Jadi demikianlah – kita berharap dari hasil pileg dan pilpres 2019 menjadikan negara kita lebih baik, lebih maju dan lebih mensejahterakan rakyat banyak.