Silaturahmi Nasional dan Rapat Kerja Nasional Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia (LIMFISA)

518

SERIKATNEWS.COM– Pasca terbentuknya wadah berkreasi dan bereksistensi untuk mahasiswa filsafat se-Indonesia yang bernama Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia (LIMFISA) pada 28 oktober 2017 di IAIN Tulungagung, IAIN Surakarta menjadi tuan rumah untuk mengadakan acara silaturahmi nasional dan rapat kerja nasional pada jum’at, (23/3) untuk merancang program kerja dalam satu periode ke depan. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, seperti Jogja, Semarang, Jakarta, Palembang, Medan, Padang, Surabaya, Madura, Banjarmasin, bahkan Palu. Kesemuanya turut hadir menyukseskan Silatnas dan Rakernas LIMFISA 2018.

SerikatNews

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Surakarta, Isnan Abu Naim, yang pada kesempatan ini menjadi ketua panitia acara berpesan agar LIMFISA senantiasa memegang teguh visi dan misi yang telah disepakati bersama serta memaksimalkan jaringan agar memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Dr. Imam Mujahid, S.Ag., M.Pd. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta menuturkan bahwa filsafat jangan dilihat dari sisi kuantitasnya namun lihatlah kualitasnya. Memang jumlahnya tidak terlalu banyak namun pemikiran-pemikirannya mempengaruhi dunia. Filsafat mengajak kita untuk berfikir kritis, berusaha mencari kebenaran bukan pembenaran. Beliau juga mengungkapkan bahwa IAIN Surakarta bangga telah diberikan kepercayaan oleh LIMFISA untuk menjadi tuan rumah penyelenggara acara. Sekaligus mengapresiasi atas terselenggaranya acara Silatnas dan Rakernas LIMFISA ini, semoga dapat menghasilkan program-program yang memberikan kontribusi real kepada bangsa dan negara.

Sementara itu Presiden LIMFISA, M. Afif al-Ayyubi mengatakan bahwa LIMFISA terdiri dari mahasiswa-mahasiswa filsafat dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang memiliki latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda. Dalam perbedaan itu bukan hendak membentuk permusuhan ataupun kompetisi untuk mencari kebenaran tunggal universal, melainkan keberagaman tersebut dipersatukan untuk berkomitmen bersama memperjuangkan humanisme melawan segala bentuk krisis-krisis kemanusiaan. Senada dengan Pancasila sila ke-2 “kemanusiaan yang adil dan beradab”, maka krisis-krisis kemanusiaan harus dilawan bersama demi terciptanya kondisi sesuai sila ke-5 “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga:  Terimakasih: Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Depan 1.270 Mahasiswa Makassar: Inovasi atau Mati!