Sketsa Nasionalisme yang Keropos

408
Sumber : inspiratorfreak.com

 

Sumber : inspiratorfreak.com

Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir. Begitulah kata seorang Khulafa al-Rasyidin  Sayyidina Ali yang bisa kita kenang  saat ini dalam prihal Organisasi yang  sangat penting bagi kita. Dengan adanya suatu organisasi kita dapat mencapai suatu tujuan bersama untuk cita-cita agung yang diimpikan bersama, utamanya dalam urusan yang sekiranya begitu rumit begi kita. Pada umumnya Organisasi lahir berupa kelompok-kelompok kecil yang didirikan oleh masyarakat karena ada beberapa fenomena yang melatarbelakanginya (baca. Sosiolgi kelas I).

Organisasi yang didirikan itu diharapkan dapat mencapai tujuan tertentu sesuai dengan keinginan dan cita-cita fanding fathernya terdahulu. Dari ini dapat didefinisikan bahwa organisasi adalah  kesatuan (entity) yang dikordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi oleh sekelompok orang. Toh walaupun rasa ketertarikan ini—orang-orang tersebut—tentunya bukan merupakan keanggotaan paten  dalam  organisasi tersebut. Sebab suatu Organisasi pasti mengalami perubahan yang konstan di dalam keanggotaanya. Meskipun pada saat mereka menjadi anggota di dalam organisasi tersebut berpartisipasi secara relatif dan teratur. Lebih dari itu Astrit Susanto (1979: 59) menegaskan bahwa pembentukan organisasi oleh masyarakat biasanya didasari  oleh tiga hal yaitu, pertama, keyakinan akan adanya pengelompokan berdasarkan kesamaan tujuan. Dua, harapan yang dihayati bersama oleh anggota kelompok. tiga,Ideologi yang mengikat semua anggota.

Sejatinya keberhasilan suatu Organisasi tidak akan pernah terlepas dari pengaruh kader yang mempunyai jiwa militansi, jiwa heroisme, semoga pengabdian yang membaja dan semangat perjuangan pada organisasi yang dikutinya, semangat yang menggebu-gebu pada organisasi tersebut.  Hal ini tentu perlu ditanamkan terhadap kader suatu organisasi sejak dini, guna  menumbuhkan identitas organisasi yang sejati, keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah yang rumit. Namun melihat realita yang terjadi pada saat ini organisasi telah kehilangan identitasnya. Sebab para pembesar Organisasi lebih-lebih kader sudah tidak lagi mempunyai jiwa militansi yang tinggi. Melihat situasi organisasi yang demikian sungguh sangat memperihatinkan. Hal ini  yang Astrid maksudkan dengan ungkapan “militansi kaderlah yang menentukan berhasil tidaknya suatu  organisasi”.

Baca Juga:  Kebangkitan Nasional Untuk Pekerja Indonesia

Minimnya Kesadaran

Pembaitan yang tak ter-eksplor menjadikan kader lupa bahwa mereka berjanji akan menjadi seorang kader yang mempunyai sifat dedikasi tanpa pamrih. Pembaitan merupakan suatu hal yang sangat penting, betapa kader telah berjanji setia dengan menyebut lafalz Tuhan untuk  senantiasa dan selalu peduli pada organisasi tersebut. Kader organisasi harus  mengamalkan isi pembaitan  tersebut agar suatu organisasi betul-betul mencapai cita-citanya. Pembaitan  yang tak ter-eksplor dengan dilandasi sikap hedonisme dalam diri kader memang  menjadikan suatu organisasi yang seakan tidak berbanding lurus  dengan tujuan dan harapan.

Di era metropolitan saat ini organisasi dalam perkembangannya mengalami perombakan yang cukup besar. Hal ini dilatarbelakangi minimnya kesadaran kader yang berkecimpung di dalam organisasi. Melihat realita yang sudah berkacamuk ini, tak  lain disebabkan kurangnya kesadaran kader untuk ikut sebuah organisasi, kesadaran mereka telah  menjadi sebuah tanda tanya besar. Apakah mereka yang ikut  organisasi hanya terpaksa atau malah hanya ikut-ikutan saja ketika melihat teman sebayanya masuk dalam sutu organisasi? Kader saat ini lebih mementingkan hal-hal yang  bersifat praktis. Hal ini dipengaruhi oleh mind side mereka untuk tidak mempunyai semangat miitansi  berorganisasi yang tinggi, bahkan yang ada ungkapan “apa yang saya dapatkan dari organisasi?”. Sikap hedon ini jangan sampai tertanam dalam diri seorang kader karena  pengaruh besar suatu organisasi untuk mencapai titik hadirnya pada mereka yang mepunyai rasa hormat  dan ta’dzim yang tinggi pada organisasi, sehingga tak ada alasan untuk meninggalkan  organisasi tersebut dalam situasi dan kondisi bagaimana pun juga. Tentunya kader harus sadar bahwa mengikuti suatu organisasi banyak manfaat yang akan kita dapatkan walau manfaat tersebut tidak nampak di depan mata kepala saat ini ibarat menanam sebuah  pohon yang buahnya akan dinikmati beberapa tahu kemudian setelah kita menjaga dan merawat pohon tersebut. Namun akhir-akhir ini semangat seorang kader sangat minim dikarenakan mereka terlalu sibuk dengan sikap hura-hura belaka. Hal ini yang perlu dibuang jauh-jauh dalam sebuah organisasi agar organisasi menemukan makna sejatinya.

Baca Juga:  Gerakan Spiritualitas Baru

Organisasi telah menyediakan begitu banyak nuansa surgawi bagi kita yang patut kita apresiasi, sebut saja organisasi yang menampung potensi-potensi yang ada dalam diri kader. Kemudian potensi –potensi ini dikembangkan di dalam organisasi tersebut.  Hal ini dapat kita temukan ketika sudah berada di tengah-tengah publik. Dengan adanya suatu organisasi kita dapat menghadapi suatu berubahan budaya akibat ketidaksiapan menghadapi suatu perubahan (culture shock) secara pribadi. Menurut Kurt Lewin untuk menciptakan suatu perubahan yang berdampak positif perlu adanya jangka waktu lama dan proses (Baca, Pembinaan organisasi Toha Miftah).

Dedikasi Tanpa Pamrih

Dedikasi tanpa pamrih merupakan suatu pengorbanan terhadap suatu organisasi. Pengabdian yang tulus terhadap suatu organisasi dan tanpa mengharap apa yang bisa dipetik dalam suatu organisasi serta meluangkan waktunya demi kepentingan organisasi dan tidak mementingkan pribadinya adalah satu-satunya cara berorganisasi yang dibenarkan oleh kultur organisatoris. Mengorbankan segala hal dalam organisasi baik itu berupa pemikiran atau pun materi. Sikap yang demikian ini yang pertama kali harus ditanamkan dalam jiwa kader orgaisassi (organisatoris).

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merupakan sekumpulan orang dalam mengentaskan rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda terbentuk dari adanya semangat dan dediksi para pahlawan untuk membebaskan Indonesia dari penindasan Belanda. Hal ini tidak terlepas dari semangat para pahlawan yang mumpuni jiwa militansi. Pada saat itu pahlawan  di Indonesia mempunyai sikap dedikasi yang tinggi  terhadap Indonesia (red. Kontowi Joyo). Agar bagaimana Indonesia  mengalami  puncak kejayaan, mereka rela mati di tangan  Belanda hanya untuk tanah  air kita ini,  hanya untuk Indonesia  agar terlepas dari penjajah (merdeka).

Dari hal ini patut kita jadikan refleksi dalam semangat berorganisasi. Sebagaimana terbukti bahwa semangat perjuangan para pahlawan dengan dedikasinya telah  mengantarkan Indonesia merdeka. Tentu yang mereka berikan bukan hanya berupa waktu, tenaga dan pikiran saja. Namun juga materi dan jiwa mereka  persembahkan demi kemerdakaan yang mereka perjuangkan. Buah kerja pahlawan yang demikian dapat kita rasakan hari ini. Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa dalam meperjuangkan suatu hal harus dengan sifat dan sikap dedikasi  yang  tingggi, begitu pula dalam  memperjuangkan kejayaan Ikstida. Seperti dikutip dari teori pesikologi organisasi the colaboorative class room (kegiatan kerja sama antara dua orang atau lebih untuk tujuan yang telah dsepakati bersama terlebih dahulu).

Baca Juga:  PAHLAWAN

Dari pemaparan di atas bahwa di  dalam bekerjasama mempunyai  dua unsur utama, yaitu bekerjasama dan saling ketergantungan yang positif. Kekompakan di dalam  organisasi dapat terwujud bila setiap anggota  atau pun kader mempunyai  perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari organisasi tersebut. Dan perasaan tersebut harus berdasarkan pada kepercayaan dan keyakinan. Sangat perlu kiranya bagi kita adanya suatu integritas dan dedikasi yang ditanamkan dalam jiwa kita dalam memperjuangkan Ikstia. Tokoh besar Islam seperti K. H. Hayim Asy’ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulamak (NU) dengan semngat pengabdian tanpa pamrih dan jiwa militansi yang begitu mulia telah mengantarkan perubahan wajah Indonesia.

Anak asuh Kompas (Komunitas Menulis Pasra). Berdomisili di PP. Annuqayah Lubangsa