Spiritualitas Mewarnai Borobudur Writers and Cultural Festival 2018

16

SERIKATNEWS.COM – Spiritualitas dan sejarah menjadi benang merah Borobudur Writers and Cultural Festival yang ditutup pada Sabtu (25/11/2018) malam. Misalnya, Laura Romano mengajarkan meditasi Sumarah yang menampung curahan hati peserta BWCF sebelum maupun sesudah meditasi.

Perempuan asal Milano, Italia yang sejak 1979 menetap di Solo, Jawa Tengah ini dua kali memimpin meditasi di BWCF. Dia mengisi waktu kosong di antara simposium dan diskusi sejak pagi hingga sore dengan pertunjukan seni malam hari.

Banyak peserta BWCF tertarik dengan meditasi Sumarah yang dipelajarinya sejak 1970-an dari pamong-pamong senior Sumarah di Solo dan Jakarta. Kini Laura mengajar Sumarah di Eropa dan Australia.

“Di sini Sumarah sudah hampir mati. Yang banyak mempelajarinya justru di Italia, Inggris, dan Australia,” tuturnya sedih, kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (25/11/2018).

Laura percaya, melalui meditasi seseorang akan menemukan dirinya kembali.

“Banyak orang sekarang mengidentifikasi dirinya sebagai dokter, bankir, dan lain-lain. Begitu mereka gagal dalam profesinya langsung bunuh diri. Nah, lewat meditasi orang mengenal dirinya kembali secara utuh, bukan hanya profesi atau pekerjaanya,” ucapnya.

Yang unik, sebelum maupun sesudah meditasi, Laura mendengarkan siapa saja yang ingin mencurahkan hatinya. Tak jarang apa yang dikatakannya persis dengan apa yang dihadapi peserta meditasi.

Religiositas dalam BWCF juga ditemukan di Pesantren Pabelan. Tiga film diputar di pesantren yang didirikan kyai kharismatik, mendiang Hamam Ja’far. Dari 3 Doa 3 Cinta, Bid’ah Cinta, sampai Khalifah.

Santri pria maupun perempuan menonton film bersama. Seperti Sabtu 24 November 2018, mereka nobar 3 Doa 3 Cinta.

Mereka tertawa bersama menyaksikan santri Huda yang diperankan Nicholas Saputra saling jatuh hati dengan penyanyi dangdut Dona yang dimainkan Dian Sastrowardoyo. Mereka seperti menonton keseharian hidupnya sendiri sebagai santri yang gegar budaya menghadapi lingkungan non-Islami di sekitarnya.

Baca Juga:  Rampak Sarinah Belajar Gerakan Transformasi Kampung di Glintung Malang