Suarakan Kepedulian, Anak Muda Gabung Women’s March!

284

“Yang mau perubahan, teriak lawan!” teriak orator memimpin peserta aksi Women’s March 2018.

Seketika, teriakan “LAWAN!” ramai bergaung.

Ada banyak cerita yang tersisa dari Women’s March Jakarta, Sabtu lalu. Salah satunya adalah keterlibatan anak muda dalam isu kesetaraan gender ini. Dimana kebanyakan anak muda lainnya belum menunjukkan kepeduliannya pada beragam isu sosial terutama pada kekerasan pada perempuan, anak muda ini memilih untuk datang dan menyuarakan dukungannya.

Lalu, apa yang menjadi alasan mereka bergabung?

Baca Juga: YANG HARUS DISIAPKAN UNTUK IKUTAN WOMEN’S MARCH

Tim Campaign.com pun menemui mereka dan bercakap-cakap. Lebih kurang, begini lah hasil percakapan kami:

Amanda, 15 tahun

Kenapa kamu ke sini?

Sebenarnya dari tahun lalu aku mau ikut, tapi tahun lalu aku enggak sempat. Trus aku tuh memang tiap kali ada omongan soal kesetaraan gender, aku tuh kuat banget deh. Tadi aja aku sampai nangis, soalnya aku tuh benar-benar benci sama yang namanya enggak ada kesetaraan gender. Ya, memangnya apa salah dengan perempuan, dengan rumah tangga. Aku sensitif banget sama itu.

 

Apa yang kamu pernah rasain sampai segini sentimentalnya?

Ya enggak sih. Cuma waktu itu aku pernah liat di berita gitu, ada perempuan di grepe-grepe gitu kan. Trus di komennya tuh aku liat, bukan cuma cowok tapi cewek juga, kayak ‘lagian sih mbak pakenya celana pendek, rok pendek’, itu sih aku sakit banget. Aku marah banget, aku beneran kesal banget sama yang kayak gini. Hari ini aku mau perjuangin semua itu, aku mau perjuangin untuk perempuan.

Kamu sejak kapan sadar kalau kamu suka banget ke isu feminisme?

Baca Juga:  ​Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga: Laa Taqrobu Narkoba

Palingan sih waktu umur 11 tahun. Karena bacaan, dan aku liat sendiri treatment ke perempuan itu beda banget dengan treatment ke cowok. Misalnya perempuan kalau digaji lebih rendah dari cowok, perempuan kalau diperkosa disalahin. Aku pikir, itu enggak ada yang benar.

Harapan kamu untuk ke depannya?

Aku harap masyarakat bisa lebih berkembang, bisa mikir kalau kita itu korbannya. Aku pengen ekualitas untuk kita semua.

Ivan, 19 tahun.

Kenapa kamu ikut kegiatan ini?

Satu, memang gua liputan. Dua, gua memang concern sama wanita di seluruh Indonesia bahwa mereka suka dapat ketidakadilan dan perbuatan tidak menyenangkan. Padahal kan kita semua sama. Dan memang kebanyakan kekerasan gender terjadinya pada wanita, makanya gua cukup mendukung acara ini.

Isu apa yang paling jadi concern?

Secara spesifik enggak ada. Tapi gua melihat secara global bahwa ada banyak kejadian yang menimpa wanita dan merugikan mereka. Yang paling miris buat gua adalah kekerasan pada anak-anak, apalagi anak-anak perempuan, seperti nikah muda dan pelecehan anak-anak. Menurut gua itu sangat keji. Ya, mereka kaum yang enggak ngerti apa-apa, anak-anak gitu, dan mereka diperlakukan seperti itu. Ini juga salah satu yang paling banyak disuarakan saat orasi tadi dan menurut gua paling ngena.

Kamu kan laki-laki, kenapa peduli sama isu perempuan?

Ya gua memang laki-laki. Tapi gua sadar kalau gua hidup dengan banyak perempuan, misalnya nyokap gua, temen-temen. Sejak kecil gua hidup dengan banyak perempuan dan ada beberapa dari mereka yang punya kisah-kisah enggak enak dan gua mendengarnya. Jadi gua punya simpati pada mereka, enggak seharusnya mereka dapat perlakuan seperti itu. Mau laki-laki, mau perempuan, kita harusnya dipandang secara sama, di mata hukum, dan ya enggak dilecehkan.

Baca Juga:  PROJO: Saatnya Menghentikan Sikap Intoleran dan Ketidakadilan Sosial

Harapan kamu untuk ke depannya?

Harapan gua seperti harapan banyak orang lainnya, klise. Tapi yang gua harap terjadi, pemerintah mendengar suara kita, pemerintah menaruh concern lebih banyak pada pemberdayaan perempuan, terhadap kesetaraan terhadap perempuan dan laki-laki, dan penanganan yang lebih lanjut pada kasus-kasus yang melibatkan perempuan dan anak-anak.

Ara, 21 tahun.

Kenapa kamu ikut acara ini?

Awalnya karena penasaran aja, dan sekalian aku juga lagi ngerjain skripsi. Skripsiku kebetulan tentang kekerasan terhadap perempuan. Aku jadi banyak baca-baca dan dengar cerita dari teman-temanku, ‘iya nih, cowok gua kayak gini, iya nih, nyokap gua sering diginiin’. Jadi ke sini sebenarnya mau melihat bagaimana respons masyarakat terhadap topik yang sama, atau yang lebih luas, kayak feminisme.

Apa yang kamu dapat di sini?

Banyak dan menarik-menarik, sih. Karena di sini kan sangat heterogen, kayak yang orang Indonesia aja ada orang Jawa bahkan sampai orang Papua, ada foreigner juga. Menandakan kalau berbagai jenis orang itu benar-benar concern sama topik ini, banyak yang peduli, walaupun belom banyak yang dengar.

Isu apa yang paling jadi concern?

Tentang domestic violence. Contohnya di Catatan Tahunan Komnas Perempuan aj yang dilaporkan 75% itu di ranah personal, yang artinya korban kenal dengan pelaku, entah keluarga, teman, atau kerabat terdekat. Jadi sebenarnya orang-orang di sekitar kita juga sebenarnya ada yang jadi korban. Aku jadi lebih sensitif melihat orang, ‘apa sebenarnya dia seperti ini, bertindak seperti itu, karena pernah jadi korban?’ gitu.

Harapan kamu untuk ke depannya?

Supaya orang-orang lebih sadar dan peka pada sekitarnya. Untuk korban supaya lebih berani untuk speak up, jangan dipendam sendiri. Dipendam sendiri malah bikin jadi berat, jadi mending cerita. Untuk pemerintah dan orang-orang yang terlibat dalam isu ini,  untuk advokasinya lebih baik lagi, misalnya ada rehabilitasi korban, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Kader Muslimat Memimpin Doa Ultah Untuk Mbak Puti

Dengan terlibat, ketiga anak muda ini menunjukkan bahwa perlu ada perubahan yang berarti untuk masa depan Indonesia. Mereka juga percaya bahwa saat yang lebih baik itu akan tiba, dan ikut terlibat dalam mengabulkannya.

Jangan biarkan tiga muda-mudi Indonesia ini berjuang sendirian. Indonesia butuh lebih banyak orang yang berani menyuarakan mimpi dan kepedulian mereka untuk perubahan sosial menuju hal yang lebih baik.

Women’s March Jakarta memang sudah selesai, tapi perjuangan akan terus berlanjut. Untuk kamu yang di luar Jakarta, aksi Women’s March masih akan berlangsung di Ternate pada 7 Maret 2018, dan di Yogyakarta pada 10 Maret 2018!

Selain itu, kamu juga bisa ikut ambil bagian dengan mendukung gerakan-gerakan serupa. Salah satunya, kalian bisa ikuti kegiatan-kegiatan #ForChange dari Campaign.com. Informasi lebih lanjut bisa kalian temukan di akun Instagram @campaign_id.

Jangan menunggu perubahan datang, tapi jadilah insan yang menggerakkan perubahan!

Penulis bekerja di Campaign.com, sebuah social tech enterprise yang fokus membantu changemakers untuk menciptakan perubahan melalui penyediaan ruang kampanye untuk membangun Indonesia yang lebih baik.