Sunan Ambu, Ihwal Filsafat Feminis Urang Sunda

483

Manusia di nusantara tentu tidak asing dengan Wali Sanga. Sembilan wali yang mempopulerkan Agama Islam di Tanah Jawa. Bisa kita sebut nama-nama mereka dengan Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan-sunan lainnya. Selain Wali Sanga, kita dapat menemukan gelar “Sunan” disematkan pada seorang lelaki baik itu ia pemuka agama (panditha, atau ulama), raja, atau seorang tokoh kharismatik yang dijunjung masyarakat dalam struktur adat pada masa dulu. Tapi tahukah anda bahwa ada seorang Sunan perempuan?

Dalam epos masyarakat Sunda, ada kisah yang umumnya dikenal dongeng atau legenda Sangkuriang, Lutung Kasarung, Mundinglaya Dikusumah, dan sebagainya. Dalam kisah Lutung Kasarung dan Mundinglaya Dikusumah dicieritakan tentang seorang perempuan penguasa Kahyangan yang bernama Sunan Ambu. Sunan berasal dari kata “susuhunan” yang berarti yang dimuliakan, ambu berarti ibu. Sunan Ambu berarti ibu yang dimuliakan.

Dalam khasanah nasionaliosme yang umum dikenal, ibu pertiwi berarti tanah air yang kita tinggali ini. Sunan Ambu pun dapat bermakna demikian. Ia berarti negeri kita Indonesia Raya. Namun, origin dari pada Sunan Ambu sendiri tidakah demikian. Ia sebenarnya mewakili suatu alam pikir manusia Sunda yang kontra terhadap budaya patriarki. Suatu budaya yang kemudian dibawa kehadirannya melalui agama Hindu yang sempat masuk di tatar Pasundan.

Sunan Ambu bersemayam pada tempat yang spesial dalam kepercayaan masyarakat Sunda. Bahkan meski agama-agama patriarki telah masuk ke Tatar Pasundan. Dalam kepercayaan Sunda Buhun (kuna), Sunan Ambu berkuasa atas wilayah Kahyangan yang dihuni oleh para Pohaci (bidadari) dan bujangga (bidadara). Persemayamannya yang terletak dilangit membuat masyarakat Sunda sangat memuliakan Sunan Ambu.

Simbolisme Sunan Ambu ini menjadi falsafah hidup masyarakat Sunda tentang keluhuran perempuan pada umumnya, terlebih kepada ibu. Dalam istilah populer, ibu itu disebut indung yang dapat berarti enggon nyalindung atau tempat berlindung. Bagi masyarakat Sunda, Sunan Ambu atau indung dalam kehidupan nyata itu ada tiga macam. Pertama, indung nu ngandung, ibu kandung yang melahirkan kita ke alam dunia ini. Kedua, indung nu maturan, ibu yang menemani yaitu seorang istri. Ketiga, indung nu nangtukeun, ibu yang menentukan yaitu nenek.

Baca Juga:  Senja buat Sang Mujahid

Meski demikian, ketiganya memiliki sifat yang sama sebagai tempat berlindung. Jika anda seorang suami yang lelah dan penat dengan segala perkerjaan, istri anda adalah tempat berlindung bagi anda. Ia yang senantiasa menjadi partner kita dalam segenap persoalan, baik di ruang domestik maupun publik. Seorang perempuan yang akan selalu siap memasang telinganya mantap, dan memasang bahu kokohnya bagi keluh kesah sang suami.

Jika anda adalah seorang anak, ibu anda adalah pelindung yang tak putus kasihnya melindungi anda di dunia ini. Sejak mula kita masih berbentuk sperma bapak yang hina, ibu melindungi kita di dalam rahimnya. Secepat-cepatnya 7 hingga 9 bulan ia menahan berat tubuh berbadan dua, kita dalam kandungannya. Bahkan beberapa kasus hingga bertahun-tahun dalam kandungan ibu. Seperti Muhammad bin Idris, alias Imam Syafi’i, yang 4 tahun berada dalam kandungan. Setelah lahirpun kita masih bergantung pada setiap tetes air susu yang dihasilkan dari sari pati makanan yang ibu kita konsumsi. Hingga beranjak remaja dan dewasa ia memiliki peran dalam hidup sebagai pelindung bagi kita atas bahaya yang mungkin terjadi di luar rumah.

Lalu nenek kita, ia adalah indung nu nangtukeun. Nenek merupakan seorang perempuan yang memiliki peran besar dalam menentukan garis hidup. Secara genealogis, nenek menjadi penentu kita lahir dan hidup dari latar belakang keluarga apa dan bagaimana. Ia merupakan dahan penting dari pohon keturunan anak-anak manusia. Itulah alasan mengapa para pendahulu kita sebut nenek moyang, bukan kakek moyang.

Beranjak dari fungsi-fungsi tersebut, Sunan Ambu atau perempuan memiliki peran dominan bagi kehidupan. Ia menjadi gerbang pembuka, penjaga, sekaligus penentu arah peradaban. Demikian filsafat Sunda mengajarkan tentang perempuan. Lalu bagaimana dengan bapak atau lelaki? Falsafah Sunda memberikan simbolisme dalam ungkapan “Indung Tunggul Rahayu, Bapa Tangkal Darajat” yang artinya ibu adalah akar kebahagiaan, ayah pohon kemuliaan. Kemuliaan ayah atau lelaki itu sendiri dapat diukur dari penghormatan pada Sunan Ambu, perempuan.

Baca Juga:  Mahar Politik dan Politik Mahar

Sorowajan, Hari Perempuan Internasional 2018

Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga.