SURABAYA Bukan SURiAhBAYA: Melawan Teror dengan Humor

283

Rutan Salemba Cabang Mako Brimob di Kelapa Dua Depok yang sebagian besar dihuni narapidana teroris rusuh (8-9/5/18). Lima orang polisi gugur. Tak lama kemudian rangkaian bom bunuh diri meledak di tiga gereja (13/5) dan Kapolresta di Surabaya serta di rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur (14/5). Sekitar 21 orang tewas. Polisi kemudian melakukan operasi penangkapan terhadap terduga teroris. Presiden Joko Widodo menyatakan masyarakat tak perlu takut dan bertekad akan menumpas teroris seakar-akarnya.

Negara memerangi terorisme dengan menerjunkan Polisi dan TNI di bawah payung undang undang cukup represif dan menjatuhkan hukuman maksimal, yaitu mati. Masyarakat juga melakukan berbagai cara untuk melawan terorisme. Salah satu cara adalah mendesakralisasi terorisme dan jihad dengan lelucon. Ya, melawan teror (isme), dengan humor.

Sepanjang hari, saat Surabaya diserang teroris, masyarakat Indonesia ramai mencemooh teroris dengan membuat lelucon dan disebar di media sosial. Misalnya membuat tagar #terorisjancuk! #surabayawani #surabayaorawedi atau bahkan ada yang membuat status di Facebook dengan tulisan: SURABAYA Bukan SURiAhBAYA Cuk!!

Baca Juga: Adaptasi Model Teror JAD dan Prediksi Kekuatan Pasca Bom Surabaya

Netizen dari Surabaya juga menyebar lelucon terkait bomber yang kabarnya mati di jalan Allah. Mereka yang melakukan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya jelas tidak mati di jalan Allah. Mereka mati di jalan Ngagel, jalan Diponegoro dan jalan Arjuno.

Ada lagi lelucon yang menyebar di media sosial seperti ini.
Malaekat: “Apa agamamu?”
Teroris: “Siyap, saya Islam, om…”
Malaekat: “Ojo guyon! Agama-mu opo??”
Teroris: “Agama saya Islam om malekat. Tenan, suwer…”
Malaekat: “Heh.. Ojo cengengesan!! Mosok Islam matinya gosong di Gereja?? Masuk neraka kamu!! Kelas ekonomi, non AC.”

Baca Juga:  Natal, Banser dan Adab Berbangsa

Menurut KH Abdurrahman Wahid, rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.

Gus Dur pernah membuat pernyataan mengenai jihad. Saat sekelompok orang dari luar Ambon dengan dalih jihad ingin masuk Ambon, Gus Dur mengatakan: “Mau jihad kek mau jahit kek, pokoknya orang yang masuk Ambon membawa senjata harus ditangkap!” Dalam sejarah republik Indonesia, orang yang berani menyatakan sekaligus memlesetkan jihad dengan jahit hanya kyai presiden Gus Dur. Bagi Gus Dur tak ada yang sakral. Semua bisa dihumorkan.

Melawan terorisme tak cukup hanya mengandalkan senjata ayat. Ulama perlu mempunyai senjata tambahan bernama humor. Ya, mari kita melawan teror dengan humor. Mari kita mentertawakan para teroris yang nuraninya segaris.

Salah satu sebab teroris tetap eksis karena sebagian masyarakat kita menganggap teroris sebagai pahlawan. Sebagian masyarakat bangga memakai kaos bergambar Osama bin Laden, Imam Samudra atau bendera ISIS. Tanpa disadari masyarakat (dan media) mendukung terorisme atau setidaknya simpati dengan mereka. Lebih menyedihkan lagi Ketua Pansus RUU Terorisme Mohammad Syafii saat berkunjung ke Poso pernah menyatakan bahwa Santoso (teroris yang paling diburu) itu pahlawan.

Menurut Buya Syafi’i Ma’arif mantan Ketua PP Muhammadiyah para teroris yang meledakkan diri adalah orang-orang yang berani mati tetapi takut hidup. Lebih lucu lagi, Amrozi cs yang membunuh ratusan orang, minta dieksekusi secara manusiawi, dan terus-menerus minta PK (Peninjauan Kembali)!

Baca Juga:  Tuhan Memilih Jokowi Untuk Kebaikan Indonesia

Betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga? Tak satupun bisa membuktikan. Tentu saja karena ulama maupun teroris belum pernah ke surga. Namun yang jelas mereka bukan mati syahid tetapi mati sakit. Beredarnya kabar bahwa pelaku bom bunuh diri di sorga akan dilayani 72 bidadari ditanggapi warganet dengan lelucon. Begini lelucon dialog bomber dan ustad, “Ustad, saya sudah sampai,” tanya bomber. “Syukur alhamdulillah,” jawab ustad. “Tapi tad, kepala dan penis saya ketinggalan…”

Mari kita segarkan kembali ingatan pada bom Bali 1 (2002) yang sekejap mengubah Bali dari pulau turis menjadi teroris. Dalam perjalanan menuju Jawa Timur, Gus Dur bertemu Wiranto dalam satu pesawat. Gus Dur bertanya, ”bisnis apakah yang menguntungkan saat ini?” Pertanyaan itu serius, namun, Ketua Umum Partai Hanura ini malah menjawabnya dengan kelakar. ”Yang lagi ramai, ya.. bisnis mercon dengan merek Amrozi,” ujar Wiranto.

Masih soal teroris murah senyum itu, rupanya sebelum menjadi teroris Amrozi memiliki bank bersama tokoh pengacara nasional Adnan Buyung Nasution. Nama bank itu, ABN-Amrozi! Saat Amrozi di Bali sang istri sebenarnya berpesan ”ngebon kutang” alias utang membeli BH.

Kata orang bijak, seseorang bisa disebut waras, lebih pintar dan lebih maju jika sudah bisa menertawakan (dalam arti menganggap sebagai kebodohan, kekonyolan) sikap dan perbuatannya masa lalu. Terorisme, teroris, teror belum kita tertawakan, masih banyak masyarakat menganggap mereka pahlawan. Karena itu, mulai sekarang mari kita mentertawakan terorisme.

Karena terorisme adalah kebodohan dan kekonyolan, tak cukup hanya dengan pendekatan hukum, sosiologi, psikologi, ekonomi dan agama. Masyarakat harus mulai menertawakan teroris dan simpatisannya karena mereka adalah musuh bersama. Para pelaku bom bunuh diri bukan mati syahid tapi sakit! Mereka berani mati tapi takut hidup. Tindakan mereka bukan jihad tapi jahat. Berkunjung ke Bali bukan jadi turis tapi teroris. Mari kita melawan teror (is/me) dengan humor!