Literasi

Surat untuk Presiden Jokowi: Mimpi Anak Negeri dan Kesadaran Akan Tujuan

Oleh: Satrio Arismunandar

Kepada yang terhormat Bapak Presiden Jokowi. Sebelumnya, saya mohon maaf jika surat saya ini mengganggu konsentrasi Bapak di jam-jam kerja, yang pastinya sudah sangat padat dengan berbagai urusan negara, yang harus Bapak tangani sehari-hari. Meski begitu, saya berharap Bapak bisa menemukan waktu luang untuk sekadar membacanya.

Pertama, izinkanlah saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk kerja keras Bapak bagi negeri ini. Sebagian orang mungkin akan mencemooh saya karena pernyataan saya tersebut. Kata mereka, “Buat apa repot-repot mengapresiasi kinerja Jokowi? Toh itu memang sudah tugasnya, dan ia juga sudah digaji untuk bekerja sebagai Presiden? Bahkan, ia sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk menjalankan tugas itu?”

Jawaban saya untuk mereka adalah: Betul, bahwa Presiden Jokowi memang sudah digaji dan dibiayai negara untuk menjalankan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Namun, saya tetap ingin memberi apresiasi lebih, karena Bapak sudah bekerja melampaui “ekspektasi yang wajar” bagi seorang Presiden RI. Dalam masa kepemimpinan Bapak yang belum lama memasuki tahun ketiga, Bapak sudah mencapai begitu banyak hal, jauh melampaui perkiraan dan harapan saya.

Bahkan begitu Bapak dipercayai dan mendapat mandat dari rakyat untuk menjadi Presiden RI, sosok Bapak telah memberi makna tertentu bagi saya. Saya hanyalah rakyat kecil biasa, yang ikut memilih Bapak dalam pemilihan Presiden 2014. Alasan saya mendukung Bapak adalah karena figur Bapak merupakan personifikasi dari cita-cita dan impian jutaan anak-anak muda negeri ini. Saya adalah salah satu dari anak-anak itu. Hal ini mungkin tidak terlalu Bapak sadari.

Bapak bukan keturunan dari keluarga pengusaha yang kaya raya. Bapak tidak berlatar belakang bangsawan, jenderal, elite politik, tokoh ternama, atau pahlawan besar. Pendidikan Bapak hanyalah S-1 dari perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. Tidak luar biasa. Latar belakang keluarga Bapak sangat biasa dan sederhana, sama seperti jutaan rakyat Indonesia lainnya.

Membandingkan Bapak dengan Pak Prabowo Subianto, pesaing Bapak dalam Pilpres 2014, adalah seperti membandingkan bumi dan langit. Pesaing Bapak adalah jenderal, putra cendekiawan ternama, dan menjadi mantu dari mantan Presiden Soeharto. Beliau juga mengenyam pendidikan di luar negeri, serta memiliki bisnis yang besar.

Dengan segala hormat pada Pak Prabowo dan pengabdian beliau sebelumnya pada negara, beliau terlalu jauh di luar jangkauan saya. Sebagai warga berlatar belakang sangat biasa, saya sulit mengidentifikasi diri pada sosok Pak Prabowo dengan segudang kehebatannya.

Tetapi justru karena kesederhanaan Bapak Jokowi itulah maka saya mendukung Bapak. Bapak, yang berlatar belakang dari kalangan rakyat biasa, bukan elite politik dan bukan konglomerat, terbukti bisa terpilih menjadi Presiden RI. Maka, hanya dengan menjadi Presiden, Bapak sudah menghidupkan mimpi indah bagi jutaan anak negeri. Yakni, anak-anak yang tidak beruntung memiliki keluarga yang kaya raya, bangsawan, punya jabatan tinggi, atau dari lingkungan elite politik nasional.

Kami menjadi percaya, bahwa negeri ini ternyata memberi kesempatan bagi anak dari keluarga biasa untuk bisa menjadi Presiden RI. Kemenangan Bapak ibaratnya setara dengan kemenangan Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat. Kemenangan Obama membuktikan bahwa warga kulit hitam, imigran asal Afrika yang pernah sekian lama menjadi korban perbudakan, dan dalam beberapa kasus masih menjadi korban diskriminasi rasial di Amerika, ternyata bisa meraih jabatan politik tertinggi di Amerika.

Maka kemenangan dalam pemilihan Presiden Amerika bukanlah sekadar kemenangan individu Obama. Tetapi kemenangan sebuah nilai, dan kemenangan sebuah kepercayaan. Bahwa semua warga negara mendapat perlakuan setara, tanpa memandang warna kulit, etnis, dan latar belakang lainnya. Sedangkan, mereka yang sungguh-sungguh berjuang demi sebuah tujuan mulia, untuk berbuat kebajikan dan menyebar kebaikan bagi sesama, akan ditolong Tuhan untuk bisa mencapai tujuannya. Inilah makna dan nilai yang lebih besar dari sekadar kemenangan individual Obama menjadi Presiden Amerika.

Sejak awal, saya juga percaya bahwa kemenangan Bapak dalam Pilpres 2014 juga membawa nilai-nilai luhur yang sama. Bapak tidak membeda-bedakan anak negeri karena alasan sempit, seperti suku, agama, ras, dan antargolongan. Semua punya hak dan tanggung jawab yang setara sebagai warga negara. Sungguh kontras dengan calon tertentu dalam Pilkada di DKI Jakarta belum lama ini, yang menyatakan bahwa hanya sosok dengan agama tertentu yang patut dipilih menjadi pemimpin.

Jadi, orang dipilih menjadi pemimpin bukan karena sikap adil, komitmen, kemampuan, dan kapabilitasnya, tetapi hanya dari identitas agamanya! Sungguh menyedihkan. Jutaan anak-anak negeri yang masih belia dihancurkan mimpinya, hanya karena sentimen primordial yang sempit atau demi kepentingan politik sesaat. Kerusakan yang terjadi jauh lebih buruk dari sekadar kekalahan dalam Pilkada, karena yang dirusak adalah nilai-nilai dan kepercayaan rakyat, bahwa dirinya akan dipandang dan diperlakukan setara.

Mengapa sikap dan perilaku yang mengabaikan nilai-nilai ini bisa terjadi? Jawabannya, karena kepentingan politik sesaat dan kekuasaan jangka pendek lebih diutamakan daripada kepentingan bangsa untuk jangka panjang. Banyak dari kita sudah kehilangan sense of direction atau orientasi akan tujuan. Tujuan yang dimaksud di sini adalah tujuan besar jangka panjang, yang dicita-citakan oleh para founding fathers negeri ini.

Oleh karena itu, jika saya harus menulis tentang kinerja dan prestasi Bapak sebagai Presiden, saya tidak terlalu berfokus pada hal-hal yang sifatnya fisik. Seperti, pembangunan infrastruktur di seluruh pelosok negeri, dari Aceh sampai Papua, yang sudah Bapak galakkan dan wujudkan. Proyek-proyek mangkrak warisan dari pemerintahan sebelumnya sudah Bapak bangkitkan dan teruskan kembali, sehingga kini betul-betul terwujud dan termanfaatkan oleh rakyat.

Pembangunan fisik lain yang penting adalah pemerataan ekonomi, dengan program redistribusi aset dan reforma agraria. Bapak sudah bertekad untuk membagi sebanyak-banyaknya sertifikat kepada rakyat yang memiliki tanah, tapi belum memiliki sertifikat tanahnya. Dengan demikian, sertifikat itu memiliki property rate, dan lahan mereka bisa digunakan untuk mengakses dana ke lembaga keuangan untuk hal-hal yang produktif, menambah pemasukan keluarganya.

Juga akan ada pemberian lahan-lahan kepada rakyat, kepada umat, pondok pesantren, hingga koperasi. Lahan itu harus produktif dan memberikan manfaat bersama. Harus diketahui lahan itu dipakai untuk apa, bisa menghasilkan apa, dan berapa keuntungan yang didapat dari lahan tersebut. Maka akan terbangun etos kerja di diri masyarakat, membangun kedisiplinan yang kuat dalam rangka persaingan dengan negara-negara lain.
Semua pencapaian nyata dan pembangunan fisik itu penting. Tentu penting. Namun yang lebih utama adalah membangun manusia Indonesia itu sendiri. Pembangunan menuntut perubahan sikap mental manusia, yang selain dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan, ia juga merupakan tujuan utama pembangunan itu sendiri.

Maka pencapaian terbesar sekaligus juga tugas mulia Pak Jokowi, yang selalu harus dikerjakan, bukanlah pembangunan fisik besar-besaran di seluruh Indonesia. Tetapi, membangun sikap mental rakyat Indonesia.
Dalam hal ini, izinkanlah saya mengutip ucapan Mark Zuckerberg, CEO dan pendiri Facebook, media sosial yang sangat populer di seluruh dunia dan Indonesia. Saya ingat, Bapak sudah pernah bertemu dengan pemuda yang luar biasa itu dalam kunjungan Bapak ke Amerika tahun 2016, dan waktu Bapak masih menjadi Gubernur DKI tahun 2014.

Dalam pidato kelulusannya di Universitas Harvard, 26 Mei 2017, Mark Zuckerberg pada intinya mengatakan, setiap orang harus menemukan tujuan untuk dirinya sendiri. Namun, menemukan tujuan saja tidak cukup. Tantangan generasi saat ini adalah menciptakan sebuah dunia, dimana setiap orang memiliki kesadaran akan tujuan.
Sebagai ilustrasi, saya membayangkan Bapak sedang berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia di Bandung. Bapak bertanya ke seorang karyawan pembersih kaca jendela di gedung PTDI, apa yang sedang ia lakukan. Dan dia menjawab, “Bapak Presiden, saya sedang membantu membangun industri pesawat terbang nasional!”

Bapak Presiden, itulah contoh tujuan yang dimaksud Mark Zuckerberg. Tujuan adalah kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dibanding diri kita sendiri. Bahwa kita dibutuhkan, dan bahwa kita memiliki sesuatu yang lebih baik di depan untuk dikerjakan. Tujuan adalah sesuatu yang menciptakan kebahagiaan yang sejati.
Problem kita justru karena banyak warga Indonesia seperti mengalami disorientasi, tak memiliki kesadaran akan tujuan. Bayangkan, jika jutaan generasi muda negeri ini memiliki kesadaran akan tujuan, di bawah pimpinan Bapak. Bung Karno pernah mengatakan, “Berikan aku 10 pemuda yang cinta akan Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.” Pemuda yang dimaksud Bung Karno adalah kaum muda yang memiliki kesadaran akan tujuan seperti itu.

Kini adalah zamannya Bapak. Bapak memang bukan Bung Karno. Namun seperti Bung Karno pada zamannya, sejarah telah menempatkan Bapak dalam posisi sedemikian rupa, bukan saja untuk memberi mimpi dan harapan, tetapi juga memberi kesadaran akan tujuan bagi jutaan anak negeri ini. Tujuan yang jauh lebih besar dari sekadar kepentingan politik sempit dan ambisi kekuasaan sesaat, yang sempat mengusik ikatan keindonesiaan dan kebangsaan kita belum lama ini.

Dengan kesadaran akan tujuan, marilah kita berbagi kesadaran bahwa masa depan Indonesia ada di tangan kita, rakyat Indonesia sendiri. Kita tidak bisa dan tidak boleh menggantungkan nasib pada orang atau bangsa lain. Dengan pertolongan Allah yang Maha Kuasa, rakyat Indonesia sendirilah yang akan menentukan kejayaan dan masa depannya.

Terima kasih, Bapak Presiden telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca surat ini. Semoga Allah SWT selalu meridhoi langkah Bapak, karena tekad, kesungguhan hati, dan kerja keras Bapak untuk mewujudkan kebaikan bagi bangsa dan negeri ini.
Depok, Jawa Barat, 12 Juni 2017

Satrio Arismunandar
Lebih lengkapnya, silahkan baca di http://seword.com

#JokowiUntukIndonesia
Referensi:
“Jangan Korbankan Negara untuk Politik Sesaat” (Wawancara khusus wartawan Republika dengan Presiden Jokowi), Selasa, 30 Mei 2017.

Popular

To Top