Opini

Tantangan Kekinian Generasi Milenial

Tantangan Kekinian Generasi Milenial

Oleh: Fetty Azizah, Entrepreuners

Potret Indonesia saat ini bukanlah Indonesia yang bangga jika melihat pertumpahan darah, perpecahan, bukan pula yang berbangga dengan kelaparan, kemiskinan, dan kebodohan. Indonesia kekinian,  adalah Indonesia yang mampu melihat persoalan bukan sebagai lawan, melainkan tantangan yang mampu diselesaikan di era keterbukaan dan kemajuan teknologi dewasa ini.

Negeri ini sekarang penuh diisi oleh anak-anak muda yang berintelektual kritis, tajam, dan moderat dalam menyatakan kebenaran, mengedepankan literasi bukan sentimen dan alergi. Mereka itu kelompok generasi yang di sebut-sebut sebagai Generasi Milenial.

Generasi milenial yang terlahir di tengah pasar teknologi yang sedang berkembang tidak dipungkiri memiliki tingkat kecerdasan cukup tinggi. Namun menjadi kekhawatiran banyak pihak bahwa tingkat kecerdasan tinggi tersebut urung diselaraskan dengan pemahaman terhadap norma-norma dan nilai-nilai kebangsaan yang telah terbangun. Di satu sisi, sistem dalam organisasi juga masih mempunyai pekerjaan rumah untuk mengoptimalkan mesin penggerak potensi-potensi muda yang luar biasa, inovatif, dan kreatif tersebut.

Lalu apakah yang disebut Generasi Milenial?
Menurut Lyons, Schweitzer, dan Ng dalam artikelnya berjudul “New Generation, Great Expectations: A Field Study of the Millennial Generation”, adalah generasi yang lahir di sekitar tahun 1980-an atau sesudahnya. Pendapatan ini juga diperkuat oleh  temuan Economic Co-operation and Development (OECD) 2017, di mana generasi milenial merupakan segmen penduduk yang memasuki fase dewasanya setelah tahun 2000. Lembaga Survei Nielsen, AS, mengungkapkan bahwa generasi milenial salah satunya memiliki karakter mengutamakan penggunaan teknologi, pop culture, liberal/toleran, dan selalu eksis di media sosial. Secara kontras, para pendahulunya baik generasi Baby Boomers atau generasi X lebih mengutamakan  etika kerja untuk mendefinisikan karakteristik pada generasi tersebut. Generasi  ini tidak saja cerdas dalam argumentasi dan nalar, namun mau bergerak dan melakukan perubahan nyata bagi bangsa, sebab mereka percaya bahwa setiap persoalan itu ada solusinya.

Pemutar Roda Ekonomi

Generasi milenial-lah yang ke depannya akan menjadi roda ekonomi Indonesia karena mereka adalah konsumen terbesar dari semua produk maupun jasa. Jika kita menengok perekonomian Indonesia yang masih didorong oleh tingginya kontribusi konsumsi rumah tangga (household consumption) dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, dapat diprediksi bahwa generasi milenial ini akan menjadi turbin yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020-2030 mendatang.

Menyimak kalimat Goenawan Mohamad, wartawan senior pendiri Majalah Tempo, bahwa “Menjadi Indonesia adalah menjadi manusia yang bersiap untuk memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai”.

Dulu, sekarang ataupun nanti, setiap generasi akan selalu punya tantangan. Berbeda generasi berbeda pula tantangannya. Berbicara hari ini, kita memang banyak melihat persoalan yang tengah mendera bangsa. Ada rasa kegelisahan bila kita menyaksikan negara yang kita sebut Indonesia.

Mulai kasus kriminal yang semakin mencederai kemanusiaan, pejabat banyak yang gila jabatan, korupsi yang tak berkesudahan padahal kemiskinan, hingga kondisi prasejahtera masih banyak dirasakan di mana-mana. Hukum diperjual belikan layaknya barang dagangan, padahal katanya hukum harus ditegakkan sekalipun esok langit akan runtuh.

Nah, seiring dengan mulai masuknya generasi milenial ke lapangan kerja, Indonesia sendiri sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia dapat dipastikan akan mengalami perubahan yang transformasional akibat dari generasi milenial ini, baik dari sisi ekonomi, pandangan politik, etos dan cara kerja, dan sebagainya.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri, pada 2015 lalu, Indonesia memiliki perkiraaan jumlah penduduk sebesar 255,4 juta, dengan 24,5%-nya atau sebesar 62,7 juta orang merupakan manusia yang lahir pada generasi Y (lahir antara 1980-1995).

Artinya, hampir seperempat penduduk Indonesia adalah mereka yang lahir pada generasi Y. Walaupun secara jumlah, generasi milenial ini kalah banyak oleh generasi Z yang memiliki total populasi sebesar 67,8 juta orang pada 2015 lalu, fakta bahwa hanya sebagian kecil dari generasi Z yang  berada pada usia produktif menunjukkan bahwa generasi Y-lah yang masih akan membawa pengaruh paling besar di Indonesia setidaknya untuk 10 tahun ke depan.

Tidak hanya itu. Sebagian besar generasi milenial ini memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi ketimbang dengan generasi sebelumnya, generasi milenial memiliki tingkat financial literacy yang lebih baik terutama dalam hal investasi. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang memiliki preferensi untuk berinvestasi pada aset investasi berwujud (tangible asset) seperti emas, properti, batu mulia dan sebagainya; generasi milenial ini memiliki preferensi untuk berinvestasi pada aset finansial, seperti deposito, obligasi, saham, reksadana, dan sebagainya, karena kepraktisan investasi tersebut dan juga modal yang kecil untuk bisa memilikinya.

Dengan fakta tersebut, tidak mengherankan banyak sekali perusahaan asuransi maupun investasi asing yang tertarik untuk mengembangkan bisnis mereka di Indonesia, akibat dari pergeseran preferensi investasi tersebut dan juga jumlah penduduk Indonesia yang masif.

Pergeseran preferensi ini juga-lah yang akan mengubah cara bertransaksi dan berinvestasi para generasi milenial; apabila generasi sebelumnya lebih menyukai transaksi secara konvensional seperti bertransaksi saham menggunakan broker, mendatangi agen asuransi untuk membeli sebuah asuransi. Generasi milenial dan generasi berikutnya akan lebih menyukai bertransaksi secara online, seperti membeli saham melalui online trading, membeli asuransi secara online, ataupun melalui telemarketing, dan sebagainya.
Melihat kondisi tersebut, untuk mengantisipasi risiko yang terjadi pada dunia kerja terhadap gelombang generasi milenial,  adalah mempersiapkan organisasi untuk lebih aware dengan pendekatan teknologi di segala lini.

Bagaimanapun, tidak dipungkiri bahwa saat ini Indonesia telah masuk dalam komunitas era digital. Data yang dihimpun dari situs Republika.co.id, tercatat penetrasi internet di Indonesia mencapai 104 juta orang. Penetrasi internet tersebut diproyeksi naik 30% mencapai 136 juta orang pada 2020. Padahal, pada 2016 menurut data Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia sebesar 261,1 juta orang. Artinya, invasi internet sudah sampai 39,8% dari total jumlah penduduk saat ini.

Karena itu, fenomena generasi milennial ini tentunya bakal menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Indonesia.

Bagaimana Pemerintah mampu menyelaraskan langkah dengan dinamika perkembangan birokrasi, pembinaan kewirausahaan dan integritas bangsa yang memegang teguh budaya Indonesia yang bermartabat di tengah era globalisasi saat ini. Tentu saja hal tersebut mau tidak mau harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia, yang nantinya mampu menjadi katalis perubahan di negeri ini. Semoga!

*Penulis Adalah Founder dr PT Mediacomm, dan Juga Ziza Beauty Bar Bali, Jakarta.

Popular

To Top