Tepi Gang Ndasen

128
Sumber : pixabay.com

Oleh : Mbah Takrib

Kami terdiam cukup lama, menghela nafas dan saling menatap. Udara dingin yang menghantam kulit, kini terasa seperti cambumbukan yang menyayat perih dalam hati. Pertemuan yang kuharapkan tak lagi menentramkan, Harmoko telah benar-benar berubah. Hadirnya tak sebagai penawar luka seperti di masa lalu, kedatangannya bukan untuk ku dan perasaan ini.

Dalam di lubuk hatiku, aku merasa pertemuan ini sia-sia. Tapi tak sepenuhnya begitu, kami telah usai menyampaikan perasaan dan sikap masing-masing. Sejauh itu, aku bisa menerima penjelasan Harmoko. Rasa cemburu kadang seringkali menjadi selubung di pikiran, menghilangkan kepercayaan yang jauh lebih lama telah kami bangun.

Menahan sesak di dada, ku keluarkan sebungkus rokok dalam tas. Wajah Harmoko nampak murung, terlihat penyesalan itu telah merasuki pikirannya.

“Mau merokok?” tanyaku, sembari mengulurkan sebungkus rokok yang telah ku ambil sebatang.

“Tidak, Lin”

“Kenapa?”

“Aku sudah berhenti merokok” jawabnya, sembari memalingkan muka, menatap jalanan yang kian sepi.

“Baiklah” kataku, sambil membakar sebatang rokok.

Ku hirup udara kuat, kepulan asap yang keluar dari mulutku telah meredam amarah dan detak jantung yang tak beraturan. Ku pikir Harmoko pun merasakan hal demikian, tangannya bergetar, kata-katanya terbata dan keringatnya bercucuran di pagi yang sebenarnya dingin.

“Kenapa kamu tidak lari Lin, saat kami datang?” tanya Harmoko padaku, seolah ingin menjelaskan situasi  yang terjadi.

“Kenapa harus lari mas? Aku melihatmu dan kita sudah lama tidak berjumpa. Taukah kau? Saat aku melihatmu, aku begitu bahagia, penantianku terjawab dan kau hadir tepat di depanku. Persis, setelah aku mengenang masa-masa indah kita”.

Ku jawab pertanyaan Harmoko sembari mengajukan pertanyaan yang sungguh mewakili persaanku tentang perjumpaan kami. Iya, di tempat ini lah kuhabiskan sisa umurku dalam penatian, menanti pelanggan, sepotong rizki dan tentu juga dirinya.

Baca Juga:  Liburan panjang, berefek fluktuasinya rasa

“Ah Lin, janganlah begitu. Kau juga tau, kedatanganku bukan untuk merajut kisah kita di masa lalu dan tak usai itu. Sekarang segalanya berbeda”. Jawab Harmoko canggung.

“Apa yang berbeda mas? Kau tetaplah Harmoko”

Menghela nafas, harmoko menjawab.

“Pemerintah kita telah berganti Lin, kebijakan juga berubah. Kini, bupati yang baru ingin membangun kota yang harmonis dan religius. Karena tugas itulah aku datang, untuk menghapus prostitusi”

Tatapan matanya, mulai tajam memandangku.

****

Sontak, jawaban Harmoko telah benar-benar membuatku sadar. Bahwa pertemuan kami yang tak disengaja ini, bukan untuk sebuah reuni. Lebih terang, ada bayang-bayang ancaman yang menghantuiku, juga temen-teman seprofesi.

Aku kembali ingat, beberapa bulan yang lalu memang kota kami telah mengadakan pemilu kepala daerah. Bupati terpilih dikenal sholeh, ia juga pernah menjabat sebagai ketua salah satu Ormas Islam. Beberapa orang mengenalnya sebagai pemuka agama, mereka memanggilnya dengan sebutan Kiyai Haji, selain itu ia adalah seorang saudagar kaya. Pebisnis batu bara yang sukses, bahkan sempat ku dengar kabar bisnisnya terus berkembang, apalagi dengan rencana pembangunan beberapa pabrik semen di kota kami.

Itu saja yang ku tau, dari salah seorang pendukungnya yang sempat berkunjung. Ia juga meninggalkan tanggalan dan poster, serta memintaku untuk nyoblos waktu pemilu.

Entahlah, dulu aku tak begitu menganggap penting siapa dirinya. Pikirku, toh ia hanya bagian dari rutinitas lima tahunan.

Sekarang, bersama Hormoko kehadiran kebijakannya terang menjadi mimpi buruk malam ini. Sedang tak mungkin aku lari darinya.

“Apa kau akan menangkapku?” tanyaku pada Harmoko.

“Tentu tidak Lin, kau boleh pergi jika kau mau. Lebih dari tugasku, kau telah menjadi bagian penting dalam hidupku”

Baca Juga:  Kyai Sanusi

“Lalu bagiamana dengan tanggung jawabmu, mas? Dan apa kau akan tetap menangkap yang lain?”

“Lin, tolong jangan anggap ini sebagai penangkapan. Pemerintah kita tak sejahat itu, tak akan ada pemenjaraan ataupun denda, kami akan mengupayakan yang terbaik”

“Apa yang lebih baik dari bertahan hidup mas? Sedang kau tau, tidak ada pekerjaan lain yang bisa kami dapatkan”

“Aku tau itu Lin, tapi kini prostitusi telah meresahkan masyarakat dan pemerintah kita. Beberapa hari yang lalu, telah diterbitkan laporan penelitian tentang penyebaran penyakit kelamin di kota ini. Bahkan kabarnya, beberapa warga di sekitar lokalisasi, ada yang terjangkit AIDS. Dari pengalaman kita pula, aku merasa iba dengan nasib yang kalian alami, terjebak pada kubangan penderitaan, walau karna ini pula kita pernah menjalani hubungan baik”

Jawaban harmoko itu meluluhkan ketakutanku, ia memang pandai soal itu. Aku hanya diam, memikirkan kata-kata Harmoko dan nasibku.

“Oya, jangan khawatir soal pekerjaan Lin. Pemerintah telah mencanangkan program pemberdayaan, akan ada pelatihan ketrampilan, bantuan alat dan modal untuk berwirausaha. Program ini juga dibantu beberapa pihak seperti persahaan-perusaan besar yang beroprasi di kota kita, melalui dana CSR. Bukankah dulu kamu juga pernah berencana untuk membuat usaha kecil-kecilan?” tanya Harmoko menyambung alasan pemerintah yang akan menghapus prostitusi.

Belum ku jawab, ia kembali melanjutkan.

“Di usia kita ini, sudah seharusnya kita menjalani hidup yang lebih baik. Kamu juga faham, salain alasan tadi, pelacuran adalah juga perbuatan dosa yang dilarang agama kita”

“Jangan bicara dosa mas” sambutku, memotong perkataannya.

Mendengar kata itu, entah mengapa aku tidak terima. Pembenaran-pembenaran atas pilihan hidupku sebagai pelacur muncul kembali di kepala. Iya, mungkin setiap orang tidak menghendaki diri hidup melacur. Tapi ketika tak ada pilihan lain, menjadi pelacur bagiku adalah jalan yang harus ditempuh sebagai manusia. Walaupun bagi orang lain, ini adalah pilihan hidup tak bermartabat.

Baca Juga:  Usaha Menjadi Gila

Melihatku murung, Harmoko kembali menghiburku.

“Maafkan aku Lin, bukan maksudku menyinggung perasaanmu. Tapi bukankah sudah waktunya kita memperbaiki diri?”

“Iya mas aku tau, sudah bukan waktunya lagi orang se-usia ku menjual diri. Tapi tolong jangan lukai perasaanku dengan kata-kata dosa. Ini bukan cita-cita yang tumbuh di waktu kecil, namun apa boleh buat, saat kebutuhan hidup hinggap di gubuk orang miskin seperti kami. Inilah pilihan dan jalan hidup yang tepat”. Jawabku sambil mengenang masa lalu.

“Baik Lin, aku mengerti. Tapi tolonglah bantu aku atau paling tidak anggaplah ini sebagai bantuan kepada pemerintah kita yang punya ke-inginan baik”.

“Keinginan baik seperti apa dan untuk siapa mas? Tidakkah kau tahu kehidupan melacurku ini dulu adalah juga akibat dari kebijakan pemerintah yang katamu baik itu? Apa kau lupa orang tuaku kehilangan sumber penghidupan sebab dipaksa menjual tanahnya untuk pembangunan pabrik? Ah, kau ini mas.”

“Dan kenapa hanya orang-orang kecil seperti kami yang ditertibkan mas? Sementara itu pemerintah justru abai terhadap kerusakan yang jauh lebih besar. Mereka malah mendukung pembangunan pabrik tambang perusak alam itu!”

“Sudahlah Lin, ini terlalu rumit untuk kita bahas. Mari kita pergi, hari sudah hampir pagi.”

 

Yogyakarta, 13 April 2017

**Cerita ini merupakan bagian keempat dari Roman Gang Ndasen.

Baca juga, Bagian pertama, Bagian kedua, Bagian ketiga dan Bagian kelima.