The Equalitarian Style, Komunikasi Politik Ala Jokowi

591

Akhir pekan lalu menjelang libur panjang saya mendapat pesan dari seseorang untuk menulis tentang “Komunikasi Politik Jokowi”. Sebetulnya saya bukan orang yang berkecimpung dalam politik atau faham soal ilmu politik, kebetulan saja teman-teman dan narasumber saya bersentuhan dengan politik. Maka saya pun menerima tawaran menulis tentang komunikasi politik ala Jokowi.

Menarik mencermati Joko Widodo, pengusaha mebel dari Solo yang ‘Mengadu Nasib’ ke Jakarta untuk menjadi Gubernur dan akhirnya memimpin sebuah negara sebesar Indonesia. Banyak pihak yang mencermati dan mengamati berbagai segi keunikan seorang Jokowi, mulai dari gaya kepemimpinannya, manajerialnya, gaya bicaranya, gaya berpakaian dan penampilannya, namun yang menarik untuk dicermati dari Presiden ke tujuh Indonesia adalah dari sisi komunikasinya.

Bila merujuk kata komunikasi menurut pakar ilmu komunikasi & psikologi Purdue University Raymond S. Ross dapat diartikan sebagai proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol. Proses tersebut dilakukan sedemikian agar dapat membantu pendengarnya untuk membangkitkan makna atau respons yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator dari pikirannya.

Sedangkan D. Lawrence Kincaid pakar The Research and Evaluation Division of the Center for Communication Programs and an associate scientist in the Faculty of Social and Behavioral Sciences at the John Hopkins Bloomberg School of Public Health, komunikasi merupakan suatu proses pertukaran informasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, yang pada gilirannya akan memunculkan saling pengertian yang sifatnya mendalam.

Menurut Ketua DPR Bambang Soesatyo dalam bukunya “Komunikasi Politik Jokowi” menuliskan kekagumannya  terhadap gaya komunikasi politik Presiden Joko Widodo yang sangat piawai dalam menggunakan komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi yang dibangun menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana dan merakyat, sehingga masyarakat lebih memahami pesan-pesan yang disampaikan Jokowi.

Baca Juga:  Demokrasi Makin Matang?

Presiden Jokowi memang mempunyai banyak jurus komunikasi politik. Politik meja makan, ngeteh di beranda istana, mengenakan sarung sebagai lambang kaum santri, sholat Jumat di Monas pada aksi 212 saat Pilkada DKI, hingga lesehan bersama mahasiswa Papua ketika melakukan kunjungan ke Selandia Baru adalah beberapa kepiawaian Presiden dalam membangun persepsi publik.

Gaya komunikasi politik seperti itu berhasil mengubah persepsi istana yang selalu digambarkan penuh formalitas dan protokoler menjadi cair dan tak berjarak. Presiden Jokowi dalam memecahkan persoalan juga cenderung lebih memilih gaya komunikasi politik yang halus dan santun. Presiden Jokowi jarang menyanggah atau menjawab tudingan politik yang menyerangnya dengan perkataan, namun menjawab dengan komunikasi non verbal.

Kalau mengutip Ketua PBNU Said Aqil Siradj, Jokowi merupakan sosok yang memiliki instuisi kuat. Jokowi dinilai berani memperjuangkan kebenaran dan berani menolak penyimpangan. Jokowi merupakan sosok yang nekat dalam bertindak. Contohnya saat melakukan kunjungan ke Afghanistan padahal baru saja ada bom meledak. “Saya yakin yang jadi pertimbangan bukan logika, tapi intuisinya.”

Kekuatan utama Jokowi adalah karena tidak berusaha menjadi orang lain. Presiden Jokowi selalu be yourself, hadir apa adanya, tanpa ‘make up’ dan kepalsuan. Sehingga masyarakat maupun media massa selalu tertarik memberitakan semua yang dilakukan oleh seorang Jokowi. Bahkan Presiden Jokowi seringkali menggunakan media sosial untuk memperlihatkan kesehariannya kepada masyarakat, baik saat bekerja, menjalankan tugas kenegaraan di mancanegara, ataupun saat bermain dengan cucu dan anak-anaknya Kaesang, Gibran dan Kahyang, serta istrinya Ibu Iriana.

Saat liburan panjang Paskah minggu lalu, Jumat 30 Maret – 1 April misalnya, tiba-tiba masyarakat se Indonesia dikejutkan dengan video yang viral melalui media sosial dan media konvensional saat Presiden Jokowi menggendong cucunya menuju rumah makan Soto Gading favorit keluarganya. Besoknya Presiden Jokowi bersama Ibu Iriana, anak, mantu dan cucunya ke rumah makan ayam goreng dengan sambal hitamnya Blondho yang khas di Mbah Karto.

Baca Juga:  Mengusir Hantu PKI dari Pikiran

Tentu saja komunikasi yang dilakukan oleh beliau akan berdampak pada penasarannya para penikmat kuliner ke tempat makan tersebut dan akhirnya akan ngehits, kalau kata kids zaman now, seperti halnya kopi brand lokal Tuku setelah dikunjungi Presiden Jokowi di Jakarta dan Sejiwa di Bandung, sekarang banyak orang antre demi merasakan kopinya.

Gaya komunikasi lainnya yang lebih mengejutkan lagi keesokan harinya dengan kaos merah berkalung handuk, Presiden Jokowi berjalan kaki, berfoto dan ngevlog sebagaimana kebiasaanya di berbagai kesempatan. Banyak orang yang geregetan dan mengatakan kurang elok kostum jalan pagi Presiden Jokowi berkalung handuk tersebut, tapi demikianlah Presiden Jokowi dan cara berkomunikasi yang apa adanya dan selalu sarat dengan simbol dan makna.

Atau dalam pidatonya di Rakernas Partai Demokrat Presiden Jokowi mengatakan harus memikirkan pakaian apa yang akan dikenakan, karena Mas Agus kalau mengenakan baju rapih dan cling. Akhirnya Presiden mengenakan kostum jas biru, dan dasinya tetap merah. Begitupun saat jalan pagi di Kebon Raya Golkar dengan Ketua Umum Partai Golkar, Presiden Jokowi menggunakan kaos kuning, sedangkan Airlangga Hartarto yang juga pembantu presiden (Menteri Perindustrian) mungkin enggan dipersepsikan macam-macam sehingga memilih kaos warna putih dan terkesan netral. Itulah gaya komunikasi Presiden ke tujuh Indonesia, Jokowi.

Karena Komunikasi Jokowi sepertinya berpola pada The equalitarian style, yaitu gaya komunikasi dua arah yang dilandasi aspek kesamaan. Ciri khas gaya komunikasi ini adalah adanya arus komunikasi timbal balik. Komunikasi cenderung dilakukan secara terbuka dan tanpa ruang sekat yang kaku antara pemberi pesan dengan penerima pesan. Gaya komunikasi dua arah lebih efektif dalam membina empati dan kerja sama karena pengguna komunikasi semacam ini cenderung memiliki rasa kepedulian dan mampu membina hubungan baik dengan pihak mana pun dengan proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol, yang pada gilirannya akan memunculkan saling pengertian yang sifatnya mendalam.