Tinjauan Atas Behavioral Economics

248

Pengantar
Sepanjang abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, ekonomi dipandang dekat dengan psikologi. Law of diminishing marginal utility juga bersumber dari pandangan psikologis, selain itu pandangan para ekonom seperti Gossen, Jevons, Menger, Walras, dan Marshall juga berhubungan dengan pandangan psikologi, selain itu Keynes juga mengatakan bahwa faktor-faktor psikologis sangat mempengaruhi perilaku ekonomi.

Dalam beberapa tahun terakhir terdapat ketertarikan sangat besar juga pada faktor-faktor psikologis yang melandasi perilaku ekonomi. Hal itu disebabkan oleh behavioral economics dan penguatannya sebagai hasil dari eksperimen psikologi yang ilmiah. Ilmu ekonomi sendiri juga terus mengalami tantangan terhadap status keilmiahannya karena para ekonomnya jarang melakukan tes, terbiasa memulai dari model yang tersedia tanpa mengujinya kembali, tidak menganggap hasil negatif, dan tidak mengklasifikasikan generalisasi yang gagal, sedangkan, tujuan ekonomi sebagai ilmu salah satunya adalah memberikan prediksi yang dapat diandalkan. Maka dapat dilihat bahwa behavioral economics merupakan upaya untuk meningkatkan kekuatan ilmiah ekonomi yaitu eksplanasi dan prediksi dengan menggabungkan elemen psikologis.

Pendekatan behavioral economics muncul dari para intitusionalis Amerika Utara yang memberikan peran relevan untuk pertimbangan psikologis. Kemudian kebangkitannya dapat dikaitkan dengan tulisan-tulisan dari Daniel Kahneman dan Amos Tversky sejak 1970 hingga Kahneman kemudian menerbitkan Thinking Fast and Slow pada 2011, kemudian juga terdapat para akademisi lain yang berkontribusi untuk perkembangan pendekatan ini seperti Richard Thaler, Matthew Rabin, George Loewenstein, Colin Camerer, dan Dan Ariely.

Karakter epistemologis dan metodologis behavioral economics menggambarkan pendekatan interdisipliner dengan satu sisi menerima bahwa terdapat suatu yang tidak atau belum dapat diobservasi seperti kepercayaan, emosi, sebagai sumber pengetahuan ilmiah, dan konsekuensinya berhubungan dekat dengan ilmu pengetahuan kognitif dan perkembangannya, sehingga dapat berkembang lagi menjadi neuroecomomics. Juga patut diperhatikan upaya behavioral economics dalam melakukan eksperimen untuk mengobjektifkan bukti dan fakta agar dapat menjelaskan, menarik kesimpulan dan membuat prediksi. Pada tahun 2002, Daniel Kahneman dan Vernon Smith mendapatkan hadiah nobel di bidang ekonomi dan memberikan inovasi metodologis bahwa terdapat penggabungan pandangan antara riset psikologis ke dalam ilmu ekonomi, khususnya mengenai penilaian manusia dan pengambilan keputusan dalam ketidakpastian.

Secara tradisional, sebelumnya riset dalam ilmu ekonomi selalu berdasarkan pada asumsi homo economicus, anggapan bahwa manusia dimotivasi oleh kepentingan diri dan mampu melakukan keputusan rasional untuk tujuan ekonomis. Ilmu ekonomi juga dianggap sebagai ilmu non eksperimental, bergantung pada observasi kegiatan ekonomi di dunia nyata daripada melakukan eksperimen terkontrol di laboratorium. Sekarang, dapat dikatakan setelah perkembangan behavioral economics mulai berkembang riset dan eksperimen untuk memodifikasi dan menguji asumsi ekonomi mendasar. Namun demikian, penelitian ekonomi menjadi sangat bergantung pada data yang dikumpulkan di laboratorium daripada di dunia nyata.

Baca Juga:  SAKSI PALSU

Penelitian ini memiliki sumber dari dua area yang berbeda namun saling bertemu, yaitu analisa penilaian manusia dan pengambilan keputusannya dari para psikolog kognitif dan pengujian empiris prediksi teori ekonomi dari para ekonom eksperimental. Eksperimen yang terkontrol merupakan mediator antara sisi hipotesa, teori, dan model, dan sisi realitas. Eksperimen terkontrol semakin digunakan dalam ilmu ekonomi, karena mereka memberi jalan untuk analisa fenomena yang sebelumnya tidak betul-betul dipertimbangkan, misalnya sekarang dalam eksperimen tersebut untuk mengembangkan teori diperkenankan juga untuk menggunakan faktor-faktor yang mempengaruhi kenyataan kehidupan manusia seperti kebahagiaan, altruisme, dan resiprositas.

Ketidakcukupan Teori Ekonomi Standar
Behavioral economics dilakukan dengan eksperimen yang menghasilkan penemuan-penemuan yang berimplikasi memberi kesan atas ketidakcukupan teori ekonomi standar. Penemuan-penemuan yang paling terkenal di antaranya adalah 1) Kegagalan dari expected utility theory, 2) Endowment effect, 3) Hyperbolic discounting, dan 4) Preferensi sosial.

Expected utility theory mengasumsikan bahwa terdapat aksioma bebas yang kiranya menyatakan bahwa frekuensi sekelompok subjek yang memilih lotere p dibanding q tidak akan berubah meskipun kedua lotere tersebut dicampur dengan lotere r. Namun eksperimen dari Allais, Kahneman, Tversky, dan lainnya membuktikan kegagalan dari teori tersebut, mereka mengatakan bahwa ketika menganalisa pilihan di bawah ketidakpastian, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa dalam lotere terdapat subjek lain yang memilih, perlu diketahui lebih mengenai situasi subjek pada waktu ia membuat pilihannya.

Teori prospek membedakan antara keuntungan dan kerugian dari situasi spesifik titik acuan. Kemudian mengenai endowment effect, dalam teori konsumen standar, diasumsikan bahwa permintaan merupakan salah satu fungsi dari kekayaan dan harga tetapi tidaklah bergantung pada unsur campuran kepemilikan. Thaler dalam papernya tahun 1980 menciptakan istilah endowment effect untuk mendeskripsikan temuan eksperimennya bahwa ternyata subjek lebih menilai suatu barang atau jasa dengan lebih tinggi jika merupakan miliknya atau pernah memilikinya dibandingkan barang atau jasa yang tidak pernah dimilikinya. Selanjutnya hyperbolic discounting merupakan teori keputusan dinamis standar yang mengasumsi bahwa pilihan antara waktu tidak bergantung pada waktu khusus pengambilan keputusan.

Entah subjek memilih mengkonsumsi dalam periode awal atau berurutan tidak memiliki dampak terhadap pilihan jika anggaran belanjanya sama-sama terbatas pada dua waktu tersebut. David Laibson pada risetnya tahun 1997 menjelaskan bahwa model ini dapat digunakan untuk menujukan bukti eksperimental dari immediacy effect dalam perilaku: subjek memiliki kecenderungan untuk memilih sesuatu yang memberikan keuntungan lebih kecil namun lebih awal dibandingkan keuntungan lebih besar namun dalam waktu lebih lama, namun subjek akan membalikkan pilihannya untuk memilih keuntungan yang lebih besar ketika kedua imbalannya ditunda. Selanjutnya, preferensi sosial merupakan teori insentif standar yang mengasumsikan bahwa pilihan dari subjek bergantung hanya pada hasil keuangannya sendiri. Asumsi tersebut kemudian ditantang oleh berbagai eksperimen, salah satunya eksperimen tawaran ultimatum.

Baca Juga:  Saat Maut Belum Menjemput

Diperkenalkan oleh Werner Guth, Rolf Schmittberger, dan Bernd Schwarze pada tahun 1982, eksperimennya memasangkan beberapa subjek untuk bermain permainan penawaran sederhana. Penawarnya membuat penawaran dan respondernya menerima atau menolak. Suatu tolakan menyebabkan dua pemain tidak mendapat keuntungan apapun.

Responder secara rutin menolak penawaran kecil dan maka dari itu malah tidak memaksimalkan hasil keuangan untuk dirinya sendiri. Untuk menyampaikan bukti ini, para ekonom behavioral memperkenalkan model yang mengizinkan utilitas pemain untuk bergantung pada mereka sendiri dan hasil keuangan milik lawan. Ini berarti utilitas pemain bergantung pada hasil keuntungan tidak hanya dirinya sendiri tapi juga semua pemain. Ternyata ada tambahan bukti bahwa para pemain tidak hanya peduli pada hasil material lawan mereka tetapi juga pada karakter lawan mereka. Sebagai hasilnya, para pemain bisa saja peduli pada apa yang dilakukan para pemain lainnya selama interaksi mereka dan peduli pada hasil keuangan mereka.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa fokus dalam riset behavioral economics adalah pada pilihan individual dan motif yang melandasi pilihannya. Dengan temuan eksperimentalnya ternyata behavioral economics menunjukkan ketidaksesuaian asumsi ekonomi standar, sehingga risetnya kemudian berjalan dengan memperkenalkan variabel baru yang digunakan untuk mengukur penyimpangan dari model standar. Dalam banyak hal, variabel baru digunakan untuk mendeskripsikan “bias” dalam pengambilan keputusan misalnya irasionalitas dan kesalahan sistematis.

Pandangan Mengenai Konsumen
Pandangan mengenai konsumen dalam behavioral economics antara lain membahas mengenai motivasi dan persepsi untuk pengambilan keputusan. Dalam area motivasi, para ekonom behavioral telah melampaui konsep sederhana dari utility maximization. Salah satu pendekatannya menggunakan hirarki kebutuhan Abraham Maslow untuk menganalisa kebutuhan consumer. Maslow memiliki teori hirarki kebutuhan yang berawal dari fisiologis, keamanan, cinta dan kebersamaan, penghargaan (yang bisa mencakup kekuatan dan status), dan yang terakhir aktualisasi diri.

Para ekonom behavioral menganggap teori hiraki kebutuhan tersebut dapat digunakan untuk memahami kebutuhan konsumen, misalnya memahami ada tindakan ekonomi yang tidak rasional karena memilih barang mewah dibandingkan barang yang lebih murah karena ada kebutuhan untuk penghargaan.

Selain itu Tibor Scitovsky pada 1976 meneliti kebutuhan konsumen untuk stimulasi. Ia mengatakan bahwa perilaku konsumen melonjak secara signifikan ketika mendapat stimulasi. Para konsumen membutuhkan pencarian kebaruan dan perubahan, maka dapat dipahami ketika suatu toko baru saja buka tempat itu akan ramai dikunjungi, tetapi kunjungannya akan terus berkurang kecuali toko tersebut terus melakukan perubahan untuk stimulasi.

Baca Juga:  Tantangan Kekinian Generasi Milenial

Dalam pengambilan keputusan, riset behavioral economics kembali menantang asumsi dasar ekonomi bahwa manusia mampu mengambil keputusan rasional, dalam riset Kahneman dan Tversky tahun 1979 dan 1982, membuktikan kegagalan subjek untuk bertindak memaksimalkan keuntungan. Studi mereka malah menunjukkan para subjek lebih memilih berada di kondisi berisiko dibanding di kondisi memaksimalkan keuntungan, mereka malah lebih tertarik pada probabilitas. Subjek memang menunjukkan keengganan pada risiko jika terdapat keuntungan, namun malah mencari risiko bila terdapat kerugian.

Singkatnya, behavioral economics menyarankan dalam tindakan ekonomi untuk mengidentifikasi keinginan konsumen, mengidentifikasi gaya hidup konsumen, dan menyadari bias persepsi.

Penutup
Behavioral economics dengan perkembangan dan kontribusinya telah membuatnya meraih status disiplin yang mapan. Permasalahan inti dan teori yang didiskusikan sangat menarik untuk para ekonom dan psikolog, namun pada saat bersamaan behavioral economics sebagai disiplin dapat dilihat sebagai studi yang bergantung pada dan untuk menunjukkan kegagalan model ekonomi standar.

Kontribusi tipikalnya selalu memulai dengan mendemonstrasikan kegagalan model atau asumsi ekonomi standar yang biasanya dilakukan dengan eksperimen, lalu dilanjutkan dengan penjelasan bernuansa psikologis untuk menjelaskan penyebab kegagalan tersebut.

Hubungan demikian dengan karya ekonomi standar tidaklah masalah asalkan simbiosis. Behavioral economics juga menekankan ketergantungan konteks pada pengambilan keputusan, namun akibat dari hal ini juga kesulitan untuk meramalkan kemungkinan atau prediksi dalam kenyataan ekonomi dari hasil riset ketika riset tersebut sendirinya merupakan situasi yang artifisial. Lebih lanjut, tidak semua variabel yang ditunjukkan dalam eksperimen benar-benar relevan dalam penerapan ekonomis. Dengan kesuksesan behavioral economics, awal penelitian yang lebih radikal menjadi lebih dipertimbangkan, mungkin selanjutnya tidak perlu dibuat modifikasi atas teori lama, namun langsung bergerak membuat teori baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan konteksnya.

Referensi
Crespo, R. F. (2013). Philosophy of the Economy, an Aristotelian Approach. Springer: London.
Hattwick, R. E. (1989). Behavioral Economics: An Overview. Journal of Business and Psychology, Vol. 4, No. 2 (Dec., 1989), pp. 141-154. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/25092223.
Pesendorfer, W. (2006). Behavioral Economics Comes of Age: A Review Essay on “Advances in Behavioral Economics”. Journal of Economic Literature, Vol. 44, No. 3 (Sep., 2006), pp. 712-721. Hal: 712. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/30032350.

Magister Ilmu Filsafat dari Universitas Indonesia dengan predikat Cum Laude. Menulis buku “Apa Itu Musik?, Marjin Kiri (2014), jurnal “Music’s Critical Function to Social Conditions”, Mengajar Piano Klasik.