Tradisi Baru di Tulungagung: Sedekah Massal

56

SERIKATNEW.COMEva Sundari, anggota DPR RI Kom XI dari Fraksi PDI Perjuangan mendapat undangan dari teman-teman Banser Desa Waung untuk menyaksikan tradisi makan gratis di desa tersebut. Acara dilaksanakan pada Minggu (19/8/18) setelah Maghrib di Desa Waung, Kec Boyolangu, Kab Tulungagung.

Jalanan di desa tampak indah dengan lengkung-lengkung cahaya lampu yang berwarna-warni. Jalanan desa sejauh lebih 3 wkm penuh sesak oleh orang jalan kaki maupun mengendarai sepeda motor. Para pemilik rumah ramai menawari para pengunjung untuk mampir mencicipi masakan yang mereka sediakan.

Tiap keluarga membuka meja di teras rumah, atau di halaman untuk menyajikan makanan yang bisa disantap gratis. Makanan yang tersedia adalah makanan dan jajanan lokal seperti ketan bubuk, lupis cenil, getuk, sompil (lontong sayur), nasi pecel, tiwul sayur, nasi jagung, kerupuk sambal, dan lain-lain.

Foto: Eva Sundari, Anggota DPR RI Kom XI dari Fraksi PDI Perjuangan Bersama Kepala Desa

Eko Wahyono, kades Waung bercerita, “Tradisi ini sudah 5 tahun kami lakukan. Ide awalnya adalah keinginan warga desa untuk merayakan Lebaran Kupatan seperti di Durenan Trenggalek dimana warga menyediakan makanan gratis. Tapi kami putuskan harinya untuk syukuran 17 an, sekaligus untuk mengganti tradisi sedekah bumi.” Pada kegiatan pertama di tahun 2011, mereka patungan beberapa keluarga buka 1 meja, tapi respon meledak sehingga sekarang tiap RT buka meja sendiri-sendiri.

Eva Sundari takjub,”ini keren, bentuk kecerdasan lokal syarat pesan filsafat dan moral. Rejuvinasi tradisi berhasil ditunjukkan masyarakat Desa Waung, bersedekah secara massal.” Tradisi baru tersebut merembes ke desa-desa sekitar yaitu Moyoketen dan Bono.

Ada dampak menarik dari praktek tersebut, kades Eko Wahyono menyaksikan solidaritas masyarakat menguat sehingga soliditas komunitas juga meningkat. Terhadap fakta bahwa pemerintah desa samasekali tidak membantu aktivitas ini, Eva berkomentar, “Ini menunjukkan bahwa masyarakat desa sudah berfungsi sebagai civil society yang independen. Tanda bahwa kita punya modal mewujudkan strong government di negeri ini.”

Baca Juga:  Film Pendek “Aku Adalah Kau Yang Lain” Tidak Terkait Institusi Lain