UBUD

127

27 Oktober 2017

Ubud takkan pernah sama lagi

Bayangmu, meredupkan kaki pelita mimpi

Aroma Terre d’Hermes yang setia ditiupkan malam

Hanya menambah bersemayamnya muram

Satu bait puisi mengalir. Diantara gemericik air kolam, tanah yang basah diguyur gerimis dan jeritan hewan malam memanggil pasangannya untuk berpelukan dibawah gulita malam.

Kirana, yang sedang menyiapkan bahan dan perlengkapan memasak untuk “Cultural Workshop; Resep Nusantara” yang ia bawakan esok di Ubud Writers and Readers Festival, seketika hilang konsentrasi. Email yang ia terima membuyarkan fokusnya.

Kamu bertanya, “Apa salahku sehingga kamu putuskan untuk pergi?”

Konyol, yang pergi itu kamu.

“Aku bukan batu, aku tak ingin sendiri”

Nonsense, kamu tak pernah sendiri dan itu hanya menunjukkan ke-akuanmu.

Genta, lelaki yang menuliskan email itu terus bergeming mendapat penolakan bertubi. Diam memang tak menyelesaikan masalah. Tetapi dengan diam, Kirana mendapat ketenangan batin.

Genta yang menikahi gadis pilihan orangtuanya -karena kesepakatan politik orangtua- tetap ingin mempertahankan asmaranya dengan Kirana.

“Sakit jiwa, Raja Jawa bukan. Mau punya dua”.

Dialog dengan dirinya tak pernah usai meski 3 tahun telah berlalu. Perjalanannya sebagai seorang chef yang sering diundang ke berbagai event internasional dalam mengenalkan masakan nusantara dan memungkinkannya bertemu berbagai macam laki-laki single and available tak juga membuatnya berjodoh.

Klung… klung…

Lonceng bambu membuyarkan lamunan. Kirana bergegas ke pintu.

“Selamat malam…”, sapa perempuan berpenampilan sporty, menarik 1 kopor bermotif army dan backpack dengan motif sama berwarna hijau.

“Ya…?”, Kirana bingung merasa tak mengundang tamu.

“Sorry, saya pasti salah alamat. Saya mencari villa Srikandi”, sambung tamu tak diundang itu.

“As you can see, ini villa S.r.i.w.e.d.a.r.i….”, Kirana mengeja nama villanya sambil menunjuk sign board yang tergantung di pintu. Kesal.

“Ooh ok, kamu tahu dimana…. Eh, never mind, saya akan cari sendiri, sorry sekali lagi”, terbata-bata ia menyelesaikan kalimat.

Semenit kemudian…

“Adin….!! Mampir kemana saja kamu? Aku tungguin dari tadi, nyasar?” Seorang laki-laki berbadan tegap, berambut ikal yang dibiarkan panjang hampir menyentuh bahu, menyambutnya setengah berlari. Mereka langsung berpelukan. Adinda nama perempuan itu, terbang dari Jakarta untuk menemui kakak semata wayangnya, Dimas, pemain biola yang juga mengisi acara Ubud Festival, pagelaran seni dan sastra tahunan terbesar di Asia Tenggara yang berlangsung 5 hari di Ubud, Bali. Kirana menyaksikan perjumpaan itu, dan… mencium aroma wangi yang ditinggalkan Adin. “Sialan, wangi apa yang dipakai perempuan tadi”, gumam Kirana.

Baca Juga:  Cah Ayu, Cah Kae

Keesokan hari, pagi buta….

Persiapan Cultural Workshop,  memasak menu-menu nusantara untuk jadwal festival hari ini, selesai. Saatnya lari pagi. Sepatu Asics warna kuning, topi hitam, kaca mata lari, earpiece untuk mendengarkan playlist di Spotify, spibelt berisi kunci villa dan lip balm rasa cherry, Garmin warna merah, all set and done. Jika ada adagium lari dari kenyataan, ada benarnya bagi Kirana. Sebab hanya ketika lari, bayangan Genta dan kisah cinta mereka yang berakhir getir tak datang mengganggu.

“Heyyyy”, sebuah suara menyapa Kirana sambil menepuk pundaknya dari belakang.

“Shittttt…!”, kaget setengah mati sambil melepas earphone.

Sorry, sorry, aku panggil-panggil namamu tapi kamu ga denger. Suka lari juga? Mau bareng? Pernah lihat paddy field berundak di kampung belakang kompleks villa kita? Asyik buat trail running. Yukk keburu sunrise…!”, Dimas memberondong sapaan tanpa koma.

Oh iya, aku Dimas, villaku di ujung dan ini adikku Adin, yang salah alamat kemarin”. Sambil lari, Adin senyum, melambaikan tangan.

Tengsin, Kirana tak menjawab dan memilih rute lain.

“Hhhhh lagi-lagi wangi perempuan itu tertinggal…”

Siangnya….

Jalan Raya Sanggingan yang menjadi pusat beberapa venue Ubud Festival semakin siang semakin ramai. Dimas dan biolanya di Taman Baca dipadati pecinta seni. Siang itu ia mainkan Mawar Berduri, lagu lawas ciptaan A Riyanto. Syahdu. Ia tampak begitu menjiwai setiap tarikan bow. Satu lagu yang tak asing bagi Kirana. Café Melasti, lokasi ia memasak berada di seberang Taman Baca. Namun ia tak kuasa melangkah kesana.

“Hey, baru keliatan. Yuk, masuk”, tiba-tiba Adin muncul dan menarik tangannya.

Ada apa dengan kakak adik ini, selalu muncul tiba-tiba.

“Oh, No, Thank you aku sudah ditunggu”, Kirana melepaskan tangannya. Menunjuk café Melasti di seberang jalan.

“C’mon, satu lagu aja. It won’t take long”, dasar perempuan persistent. Rambutnya berkibar lembut dimainkan angin.

Ahhh wangi itu lagi.

Kirana menyerah.

Beberapa tokoh di dunia sastra dan jurnalis senior serta para penulis muda tampak larut menikmati Mawar Berduri.

Baca Juga:  “Pergi”

Permainan usai….

“Untuk adikku tersayang, Adin….!”, disambut tepuk tangan penonton.

“Kakak kamu keren”, Kirana berbisik.

“He is”, jawab Adin.

Aku ke seberang yah, udah telat nih”, Kirana pamit.

“Ok, bye”, Adin mendaratkan ciuman di pipi Kirana.

Saat itulah Kirana tahu bahwa sesungguhnya wangi Adin berasal dari rambut hitamnya yang di ombre warna hijau ke abu-abuan.

“Kamu… wangi”, ga sadar, kalimat itu muncul.

“Heh? Kamu bilang apa?” Adin tak mendengar karena Taman Baca menjadi riuh ketika Dimas duet dengan violinist berdarah campuran Amerika – Jerman, David Garrett memainkan Viva La Vida milik Cold Play.

“I said, bye…!”, sambar Kirana cepat.

Ia pun berlari kecil. Café Melasti sudah ramai pengunjung.

“Wait, kenapa wajahku jadi panas begini? Ahh tak mungkin”, Kirana merasa aneh. Pipinya memerah. Dan bukan, bukan karena sang Surya.

Malamnya…

Klung… klung….

Lonceng bambu membuyarkan konsentrasi Kirana yang lagi-lagi tengah menyiapkan perlengkapan memasak untuk esok.

Hai. Sibuk?”, rupanya Adin yang membunyikan lonceng. Masih dengan pakaian lari, sedikit terengah-engah.

Hai. Masuk?”, tawar Kirana. Berbeda dengan malam sebelumnya. Kali ini mereka sedikit cair.

Aku habis lari, Dimas ga ada, aku lupa bawa kunci. Boleh minta air?”, terang Adin.

Kirana mematung melihat Adin yang tampak sangat segar dengan bulir-bulir keringat membasahi anak rambut, kening, pipi dan belahan dada yang menyembul dari balik sport bra.

“Boleh?”, tanya Adin lagi, mengagetkan.

“Ohh boleh dong, mau masuk dulu sambil nungguin kakak kamu”? Lanjut Kirana, berhasil menenangkan diri.

“Asal tak mengganggu penghuni villa S.r.i.w.e.d.a.r.i”, goda Adin sambil mengeja sign board di pintu.

Lagi-lagi Kirana merasakan panas di wajahnya. Persis siang tadi.

Setelah habis 1 botol Aqua dingin…

Jadi kamu chef? Besok ada jadwal lagi?” Adin melihat persiapan memasak Kirana.

“Iya, aku setiap tahun diundang ke acara ini. Jadi aku musti kreatif membuat kreasi menu masakan nusantara. Kamu sendiri? Apa yang membuatmu kesini?”, Kirana balas bertanya.

“Aku kesini buat Dimas saja. Di Jakarta aku siaran radio. SAS FM. Pernah dengar?“, Adin menjawab sambil lalu, lebih tertarik perlengkapan memasak yang disusun rapi di meja, dibanding membicarakan dirinya. Tiba-tiba sesuatu membuatnya semangat.

Baca Juga:  Tepi Gang Ndasen

Kamu harus bikin cooking book, Kirana. Hey, I am good in marketing, selling, publicity. Nanti aku yang kerjain promosinya. And I will do that for free, for a new friend. Gimana?”, repet Adin.

“Aku pernah kepikiran juga bikin buku memasak. Tapi ga pernah ada waktu untuk itu”, Kirana ingat 3 tahun lalu ketika Genta mendorongnya melakukan hal yang sama.

“Yang penting ada keinginan, sisanya serahkan aku”, kali ini jawaban Adin tegas sambil menatap tajam dua mata Kirana yang sedetik lalu teringat akan mantan kekasihnya.

Tak disadari, Adin telah menggenggam tangan Kirana.

Wajah Kirana kembali memanas. Keringat dingin.

Damn… ada apa ini?”, pikirnya.

“Tadi siang aku dengar kamu bilang aku wangi?”, tangan mereka masih saling menggenggam.

“Ini karena hair mist. Ada kandungan silicone derivative-nya, ga hanya wangi tapi juga bikin rambut halus dan shiny”, Adin mengarahkan tangan Kirana ke rambutnya.

Tersihir dengan perasaan aneh, Kirana melepas ikatan rambut Adin dan menghirup aromanya, dalam…

“Mmm…. orange, rose, patchouli…”, sederet ingredients lainnya yang terkandung dalam hair mist di rambut Adin siap meluncur dari mulut Kirana.

“Dasar tukang masak, hafal aja sama bau-bauan”, goda Adin sambil menikmati perlakuan Kirana pada rambutnya. Hembusan nafas Kirana di tengkuknya. Kulit mereka bersentuhan.

Tak butuh waktu lama, bibir mereka berpagut.

Lembut.

Jantung saling berdebar.

Berdiri kaku.

Waktu berhenti.

Mekanisme alam semesta tak lagi berlaku…

Di luar, Dimas menyaksikan semuanya… Adin bukanlah adik kandungnya. Ia gadis yang ia pacari sebelum akhirnya mengaku jika perasaannya kepada Dimas hanya sebatas kakak. Perbedaan orientasi seks Adin, tak menyusutkan perasaan Dimas kepadanya. Permainan biola yang selalu menjiwai, pun tak terlepas dari rasa terdalamnya kepada Adin. Di belahan dunia lain, Genta terus mencari jalan untuk kembali bersama Kirana. Meski terpisah jauh, tak sehari pun ia lewati tanpa bayang Kirana dan rasa bersalah yang terus hinggap, tak mau pergi…

TAMAT

Penulis Adalah News Presenter BeritaSatu TV dan Tenaga Ahli DPR RI, Jakarta