Upaya Membangkitkan Pariwisata Sumbar

481

Lokasi Sumatra Barat (Sumbar) yang ada di pantai barat pulau Andalas membuat Bumi Minangkabau tidak seberuntung wilayah lain yang ada di daratan terbesar ketiga di Indonesia itu. Lokasi itu juga membuat Sumbar tidak bisa ikut secara langsung menikmati madu perdagangan internasional, sebagaimana yang dirasakan oleh Sumatra Utara, Riau, dan Sumatra Selatan, yang posisinya ada di muka selat Malaka.

Sumbar juga tidak bisa memperkaya dirinya dengan menambang sumber daya alam. Batu bara di perut Sawahlunto, yang pada awal abad ke-20 menyuplai 30 persen kebutuhan batu bara dunia, telah habis diangkut.

Kabar baik datang dari Pasaman, Solok Selatan, Tanah Datar, dan Dharmasraya. Di sana temukan kandungan bijih besih yang jumlahnya melimpah.

Namun, berkah dari Tuhan itu akan habis juga ditambang. Jangan sampai wilayah-wilayah itu mengalami nasib seperti Sawahlunto, kaya raya dan modern ketika deposit batu bara di sana masih melimpah, tetapi kemudian jadi kota sepi setelah era batu bara berakhir.

SerikatNews

Sementara hasil kebun sawit dan karet di Sumbar tidak bisa diandalkan lagi seiring dengan merosotnya harga hasil perkebunan itu di pasar internasional. Jika pun harganya tetap tinggi, hasil perkebunan itu tidak bisa dinikmati secara langsung oleh warga Sumbar, karena sejak berdekade lalu, kebun-kebun di Sumbar dimiliki oleh asing.

Masalah di Sumbar tidak berhenti di situ saja. Buruknya infrastruktur di provinsi itu serta sebagian besar pulau Sumatra menyulitkan Sumbar untuk berkembang. Banyak jalan di sana, yang sebagian besar dibangun puluhan tahun lalu, bahkan ada yang merupakan peninggalan Belanda, dalam kondisi rusak. Kondisi jalan rusak itu menghambat laju logistik dan manusia dari dan ke Sumbar.

Baca Juga:  Pameran Koleksi Karya Seni Istana Kepresidenan Kembali Digelar
SerikatNews

Sumber yang lestari

Untuk maju, Sumbar harus hidup dari sumber daya alam yang lestari dan itu ada pada pariwisata. Bumi Minangkabau memiliki banyak wilayah dengan pemandangan yang memukau, tetapi belum dieksplorasi secara maksimal.

Berbagai upaya telah diupayakan masyarakat Minang untuk memajukan kampung halamannya melalui pariwisata, salah satunya oleh Yulnofrins “Nofrins” Napilus. Nofrins menggagas pulangnya lokomotif uap tua penghela gerbong batu bara, yang dikenal masyarakat setempat dengan nama Mak Itam, ke Sawahlunto. Bersama rekan-rekannya, Nofrins menjemput Mak Itam dari Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah.

Nofrins juga menggagas dibukanya kawasan wisata Pantai Mandeh di Pesisir Selatan.

Namun, upaya itu belum berjalan maksimal. Masih sedikit wisatawan yang mau datang ke Sawahlunto, melihat Mak Itam dan bekas tambang batu bara peninggalan Belanda di sana. Jalan yang berliku, sekitar empat jam berkendara dari kota Padang, dan tidak semuanya mulus, ditambah sedikitnya hotel berbintang membuat turis enggan ke Sawahlunto. Begitu juga dengan Pantai Mandeh. Warga yang ingin menikmati gugusan pulau serta laut yang indah yang ada di sana diadang oleh jalan yang buruk.

Kabar baik datang ketika Joko Widodo menjejakkan kakinya di Sumbar, setahun setelah dia dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Jokowi memerintahkan agar dibuka akses ke Pantai Mandeh. Pada kunjungan kedua ke Sumbar sebagai Presiden, awal Februari 2018, Joko Widodo mencanangkan program revitalisasi ratusan rumah gadang yang ada di Solok Selatan.

“Ini upaya yang luar biasa dari pemimpin kita. Pak Jokowi mau ikut memikirkan kemajuan pariwisata di Sumbar dengan memerintahkan pembangunan jalan ke Pantai Mandeh dan merevitalisasi ratusan rumah gadang yang ada di Solok Selatan. Jika sudah jadi, ini akan jadi tujuan wisata yang luar biasa,” kata Nofrins pada pertemuan #MinangPemilihJokowi di rumah makan Sederhana Tebet, Jakarta, Kamis (22/2/2018) malam.

Baca Juga:  Pelestarian Hewan Langka di Pantai Solong Banyuwangi

Menurut Nofrins, Sumbar membutuhkan banyak tempat dan atraksi wisata yang dikelola secara profesional untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Namun, tempat dan atraksi wisata itu akan menjadi percuma jika tidak didukung infrastruktur yang memadai.

Turis harus diberikan jalan yang mulus untuk menuju lokasi wisata. Pembangunan jalan tol Trans Sumatra, yang membelah dari Lampung hingga Aceh serta dari Sumbar menuju Riau, begitu juga dengan program pengaktifan kembali jalur kereta Sumbar-Riau, sangat membantu meningkatkan jumlah wisatawan ke Sumbar.

Pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah di Sumatra diharapkan bisa mengerek pariwisata di Sumbar, apalagi Bandar Udara Internasional Minangkabau sudah membuka jalur penerbangan Sumbar-Singapura. Kombinasi itu bisa meningkatkan jumlah kunjungan serta lama tinggal wisatawan di Minangkabau.