Usaha Menjadi Gila

281

Oleh: Wewok Suog

Tadi sore bahuku ditepuk seorang kawan yang sudah lama tak bersua, dengan keras sambil tertawa. Spontan aku membalikkan badan dengan cepat sambil mengepalkan tangan dan berteriak, “Wasuuuu.” Tawanya semakin kencang, karena aku terkejut terpingkal.

“Lah, kapan kamu keluar?” tanyanya setelah dia duduk diseblahku.
“Keluar dari kamar mandi, su?” kutanya balik dia dengan sisa kesalku padanya.
“Serius, tapi aku gak enak mau nanya secara vulgar sama kamu,” kali ini dia memang serius, dilihat cara bicaranya. Aku pun berusaha untuk serius dan menghilangkan gemetar kagetku tadi.

“Udah to, sok serius kamu, emang keluar dari mana? Sumpah, aku gak paham dengan pertanyaanmu, sebab baru kali ini aku melihat kerut kening seriusmu itu.”
Seketika dia terkekeh kencang, saya pun merasa malu duduk di sampingnya, lantaran orang-orang yang duduk di kafe mengernyitkan dahinya ke arah kami. Dia tak menghiraukan dan badannya masih terguncang dengan kekehannya.

“Asuuuu, malah ketawa, emang kamu dengar cerita apa tentangku?” desakku.
Dia tak tertawa lagi setelah melihat mimikku yang serius dan mengeluarkan sebungkus rokok Halim serta korek merahnya, dan mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, dibakarlah ujung rokok dan menghembuskan asap seperti menghembuskan beban yang bakal dia utarakan padaku. Aku tau lakunya, saat merasakan beban sekecil apa pun, dia melampiaskan dengan cara merokok. Semua bebannya seperti ikut asap-asap yang melambung dan kemudian hilang begitu saja. Benar, dia sekarang sudah terlihat tenang setelah menghembuskan asap rokoknya tiga kali. Aku juga mengeluarkan sebatang rokok dan dia masih diam.

Jujur, baru kali ini aku melihatnya segenting itu, padahal yang kutau dia orang yang selalu cengengesan, sangat jarang menyikapi sesuatu dengan serius.
“Aku sangat kaget mendengar cerita tentangmu,” dia memulai pembicaraan setelah kami terdiam dengan asap rokok masing-masing. Dan aku berusaha tak mengejar ucapannya, aku diam, biar dia melanjutkan ceritanya tanpa aku memintanya.

Baca Juga:  Sarung Berkibar diatas Liur Anjing dan Perut Babi

“Aku dengar cerita dari si Anu,” dia berhenti lagi, rasanya belum siap untuk mengutarakan padaku. Menarik nafas dalam-dalam, benar-benar seperti ada ganjalan yang besar di dalam dirinya. Dia menghela nafas lagi, dengan berat ia melanjutkan ceritanya, “kalo kamu sempat diasuh biarawati di sebuah RSJ yang terletak di daerah yang sejuk itu, tapi sebenernya aku tak percaya apa yang ia utarakan padaku. Karena tak mempercayai ceritanya, saat itu aku pun tak terlalu mengubrisnya dan diam tanpa menimpali.” Dia seperti merasakan kelegaan setelah menceritakan apa yang pernah dia dengar dari si Anu, itu terlihat dari raut mukanya. Aku paham, dia khawatir aku tersinggung, apalagi dia sudah tau kondisiku saat ini.

“Oh, itu to, santai saja, aku sudah biasa dibilang ‘stres’, bahkan sudah banyak orang yang menganggap diriku sudah gila atau sinting, makanya banyak temen-temen yang menghindar saat aku datang, bisa dikatakan baru kamu yang menyapaku, selama beberapa bulan terakhir ini, maaf kalo ceritaku terkesan curhat, sebenernya aku sudah bosan bahkan muak untuk mengeluh, apalagi berbagi kisah tentang diriku sendiri. Rasanya aku terlalu menyia-nyiakan nikmat Tuhan yang begitu melimpah, jika aku sering risau dengan kondisiku sendiri, makanya aku selalu mengurung diri dan bahkan aku memilih diam saat melihat orang yang kukenal. Bisa disimpulkan aku selalu menghindar dari kerumunan orang, terutama orang yang aku kenal. Mungkin karena itu, si Anu menceritakan kondisiku seperti itu padamu.”

“Pernah suatu hari aku baru memesan mie ayam dan segelas es jeruk di warung langganan kita dulu. Pesananku baru disiapkan, tiba-tiba si Melati datang, tanpa menyapanya saya langsung menghampiri pelayan yang sedang menyiapkan pesananku dan kulunasi tagihan untuk pesananku tersebut. ‘Lah kan belum dimakan mienya atau mau dibungkus, Mas?’ Tanya si Pelayan dengan heran, kubilang buat pelanggan yang lain saja. Kamu pasti masih ingat kalau aku paling tidak suka membungkus makanan dan sampai sekarang aku masih tak berminat untuk membungkusnya. Tapi jika kamu bertanya, ‘Kenapa aku pergi setelah Melati datang?’ Sampai sekarang aku belum tau jawabannya, yang pasti dibenakku saat itu, aku tidak ingin seruangan apalagi semeja dengan orang yang aku kenal.”

Baca Juga:  Tepi Gang Ndasen

“Sebenarnya sampai hari ini aku masih belum bisa seruangan atau semeja dengan orang yang aku kenal. Maaf ya, bukan maksud aku ingin mengusirmu,” ucapku agar ia tak tersinggung dengan cerita dan perasaanku akhir-akhir ini.

Dia hanya manggut-manggut, tanpa komentar dan menyulut rokoknya yang kesekian. Aku melanjutkan kesibukan dengan leptop dan sesekali melihat layar androidku. Mungkin dia berusaha memahami apa yang aku utarakan tadi, sehingga dia tak mengusikku dan sibuk dengan smartphonenya sendiri.

Lima belas menit kemudian, seorang perempuan seksi, yang menggunakan celana dan kaos super mini, selangkangannya hampir terlihat, menghampiri kami, tepatnya menghampiri temenku. Temenku berdiri dan cipika-cipiki, lalu menunjuk ke arahku, “Kenalkan, ini temen kuliahku yang memutuskan menjadi orang ‘asing’,” sambil tersenyum saat aku menoleh.

Kuulurkan tanganku dan ia mengulurkan tangannya juga. Aku merasakan getaran yang aneh saat tangan saling menjabat. Mungkin ini karena sudah lama mengasingkan diri, terutama dari perempuan. Mereka pamitan dan aku masih membayangkan kelembutan tangan pacar temenku, meski sempat terbersit di benakku, bahwa itu tak etis, tapi aku kekeh karena itu bukan kehendakku untuk bersalaman dengannya, tapi temenku sendiri yang menginginkan aku kenalan dengannya.

*Penulis sekarang aktif di Garawiksa Institute Yogyakarta.