Wajah Busuk Facebook

289

Oleh: Islah Gusmian

Dalam satu status di Facebook, Mas Anas Saidi menulis: “Facebook disebut sebagai media sosial terbesar yang tanpa wartawan. Disini tidak ada staf redaksi yang menjadi manajer berita. Lebih dari 50 persen penduduk Indonesia terlibat di sini. Medsos merupakan ladang kebebasan tanpa batas yang tidak ada tuan rumahnya. Semua berebut panggung tanpa ada satpamnya. Pertarungan kepentingan terjadi tanpa wasit. Antara fakta dan opini tidak bisa dibedakan. Hoax berhamburan mencari makmum. Ujaran kebencian ada agennya. Di tengah-hiruk pikuk seperti ini, bagi warga negara yang baik, jika tidak terlalu cepat mempercayai berita yang berbau provokasi. Trianggulasi, check and recheck, merupakan cara yang paling bijaksana.”

Kebetulan, Jumat tadi saya khotbah dengan tema semacam itu. Facebook kini bukan hanya menjadi ruang untuk berbagi kisah pribadi atau keluarga, pengetahuan, penemuan ilmu, atau gagasan serta kritik, melainkan juga menjadi ajang meluapkan kebencian, berbagi cara-cara munkar, membagi informasi tak akurat, dan bahkan memproduksi hoax, baik dalam bentuk gambar maupun narasi.

Banyak orang mudah menyalak pada subjek yang kebetulan beda pilihan baju politik, tapi mudah bungkam kepada subjek yang sealiran dan satu kandang politik. Ujungnya suara kritis tak lebih seperti ringkikan khimar.

Pada akhirnya, kebenaran (sosial dan politik) tak lebih sebagai wacana dan persepsi yang diciptakan, bukan hakikat dari peristiwa yang terjadi. Siapa yang berhasil menciptakan dan sekaligus menguasai wacana dan persepsi, dialah yang akan memanggul kemenangan.

Tulisan ini Juga ada di Facebook Islah Gusmian.

Baca Juga:  Kita Benar-Benar Bangga Punya Bung Karno