Waktu Dalam Tinjauan Madilog

346

Apakah waktu itu? Setiap orang tahu jawabannya. Walaupun demikian, ahli fisika teori yang paling terkemuka sekalipun merasa sulit untuk memberikan defenisi yang benar-benar memuaskan. Ia tak dapat memastikan kapan waktu itu mulai, kapan akan berakhir. Apakah yang dimaksud dengan awal dan akhir? Apakah alam semesta ini terbatas atau tak terbatas? Apakah yang dimaksud dengan alam semesta?

Pengukuran waktu telah menjadi dasar semua ilmu, karena para ilmuwan hanya dapat menelaah hal-hal yang berubah dalam kelangsungan waktu. Astronom menyusun riwayat alam semesta dalam waktu yang berlangsung dalam bermilyar-milyar tahun. Para ahli fisika dan teknik membagi menjadi sepersekian milyar detik. Para ahli biologi mendapatkan binatang dan tumbuhan juga mengukur waktu, bahkan organisme yang hanya terdiri dari satu sel sekalipun tergantung pada jam biologis untuk menjaga keselarasan antara proses dalam tubuh dan proses di luar tubuh.

Kalau waktu didefenisikan dengan menggunakan konsep perubahan, maka pertanyaan apakah waktu mempunyai akhir, ini sama dengan menanyakan apakah perubahan mempunyai akhir? Kalau memperhatikan hubungan antara perubahan dan entropi, agaknya waktu memang harus mempunyai akhir.

Sementara itu fisikawan teoritis Stephen Hawking dalam buku A Brief History of Time berpendapat: “Ruang dan waktu tidak hanya mempengaruhi, tetapi juga dipengaruhi oleh semua yang terjadi dalam jagat raya ini. Orang tidak dapat berbicara mengenai peristiwa dalam jagat raya tanpa memikirkan ruang dan waktu. Pemahaman baru akan ruang dan waktu ini merevolusikan pandangan kita mengenai jagad raya. Gagasan lama bahwa jagat raya yang pada hakekatnya tidak berubah digantikan untuk selama-lamanya oleh anggapan akan suatu jagat raya yang dinamis dan memuai, yang tampaknya bermula pada suatu waktu yang terhingga di masa lalu dan mungkin akan berakhir pada suatu waktu yang terhingga di masa depan. Subyek ini juga menjadi titik awal untuk karya saya dalam fisika teoritis. Roger Penrose dan saya menunjukkan bahwa teori umum relativitas Einstein itu menyiratkan bahwa jagad raya itu harus mempunyai awal dan mungkin mempunyai akhir.”

Baca Juga:  Mengurai Benang Kusut Intoleran dan Terorisme

Carl Sagan memberikan kata pengantar dalam buku tersebut, mengatakan “Buku ini juga membahas Tuhan atau barangkali tidak hadirnya Tuhan. Banyak disebut-sebut Tuhan di dalamnya. Hawking memulai penyelidikan untuk menjawab pertanyaan terkenal yang dilontarkan oleh Eistein: adakah Tuhan punya pilihan dalam menciptakan jagad raya ini? Seperti dinyatakannya secara eksplisit, Hawking mencoba memahami pikiran Tuhan. Kesimpulan upayanya ini lebih tidak disangka-sangka lagi, sekurangnya sejauh ini: suatu jagad raya yang ruangnya tidak bertepi, yang waktunya tidak berawal dan berakhir, dan yang Penciptanya tidak perlu berbuat suatu apa pun lagi.”

Segala pertanyaan mengenai apakah waktu mempunyai awal dan akhir, ternyata tidak hanya berguna bagi penggunaan praktis dalam kehidupan manusia, tapi juga berimplikasi pada tindakan dan Moralitas manusia.

“Barang siapa percaya akan Dia tidak akan binasa, melainkan akan memperoleh hidup abadi,” demikianlah sabda Injil. Harapan akan hidup abadi, akan kemenangan terakhir setiap orang atas waktu, merupakan inti kebanyakan agama, meskipun diartikan secara berlain-lainan. Bagi beberapa orang, harapan ini berarti lahir kembali secara jasmaniah dalam Kerajaan Allah, suatu tempat di atas langit, suatu dunia yang lebih baik, bebas dari ketidakadilan serta kekecewaan hidup di dunia ini. Yang lain memandang alam baka sebagai suatu keadaan yang lebih halus, tempat jiwa setiap orang bersatu dengan kosmos. Dalam agama Hindu, orang percaya bahwa manusia akan mengalami reinkarnasi dalam bentuk binatang atau manusia: orang jahat dapat kembali sebagai seekor ular, orang baik sebagai seorang maharaja.

Tetapi bagaimanapun cara mengartikannya, harapan akan hidup di akhirat selalu mengungkapkan ketidakmauan manusia untuk menerima kematian sebagai peniadaan diri secara total, melainkan sebagai “ganjaran berupa hidup abadi”. Kepercayaan inilah yang pada akhir masa hidup jasmani dan pribadi manusia memberinya kesempatan terakhir dan terbaik untuk menaklukkan waktu.

Baca Juga:  Melihat Peta dari Hasil Survey LIPI, dan Yang Lain

Intisari kepercayaan umat beragama untuk memohon dalam Doa adalah keyakinan bahwa Tuhan dalam belas kasihanNya mengganjar orang yang baik dengan menyelamatkan jiwa mereka yang abadi.

Dalam Madilog Tan Malaka menulis“Apa gunanya pengertian buruk-baik dan pekerjaan baik, kalau orang tiada lagi berpengharapan mendapat upah, selambat-lambatnya di akhirat? Kalau orang tiada lagi takut pada hukuman di akhirat pada siapakah orang akan takut berbuat jahat?

Pengertian buruk baik tak akan berguna, iman untuk berbuat baik akan kehilangan sendi, beginilah bertimbun-timbun keberatan yang dimajukan oleh para pemikir ahli filsafat, pemimpin, alim ulama, yang betul-betul jujur dan sungguh terhadap keyakinan dan pekerjaan serta terhadap diri dan masyrakatnya. Di antara mereka ada yang sudah berjanggut putih panjang dan bertahun-tahun menjalankan keyakinannya. Bahkan tentang buruk baik itu dengan iman sekeras baja tiada semuanya pula menjalankan keyakinannya. Semata-mata karena takut akan hukum mereka atau mengharapkan upah di surga. Bahkan ada pula di antara mereka yang dalam batinnya mengakui kebenaran science dan menganggap hukum neraka dan upah di surga itu cuma sebagai momok dan gula-gula semata. Mereka menganggap pengetahuan tentang buruk baik itu saja, tak cukup kuat buat melarang berbuat yang buruk dan menarik kejujuran berbuat baik. Hukum pun mereka anggap tiada memadai. Mereka akan bertanya: akan cukup kuatkah iman seseorang pemimpin dalam satu masyarakat terhadap dasar yang mulia dan pekerjaannya serta terhadap dirinya sendiri dan mereka di bawah pimpinannya?

Akan cukup kuatkah iman seorang ilmuwan memakai pengetahuannya cuma semata-mata buat kebaikan masyarakat? Bukan buat keuntungan dirinya sendiri, malah sebaliknya kalau perlu buat merugikan atau mengurbankan dirinya sendiri.

Dengan mengambil contoh di Negara Rusia Komunis dan Nazi Jerman, Tan Malaka menulis: Lemah teguhnya iman itu tiadalah semata-mata bergantung kepada ketakutan dan pengharapan sesudah hari kiamat itu. Janganlah dilupakan bahwa perkara yang penting pula dalam menentukan teguh atau lemahnya iman itu, ialah masyarakat kita sendiri.

Baca Juga:  Mendamba Politik Milenial 

Konsekuensi pertanyaan mengenai waktu adalah pertanyaan mengenai keberadaan ruang. Ruang dan waktu sebagai materi yang dapat diukur. Tan Malaka menulis dengan mengutip perkataan Konfusius “Dunia fana ini saja belum engkau ketahui. Apalagi dunia baka” kata guru Asia yang paling jujur di mata saya: guru Kung.

Tan Malaka melanjutkan “Yang dekat, yang diketahui itulah yang menakjubkan penulis. Kejadian dan kebesaran itu, buat saya ialah barang yang sudah diketahui, atau mungkin bisa diketahui banyak dan sifatnya. Keajaiban itu buat saya mestinya barang atau perkara yang mengandung pengetahuan. Pengetahuan itulah buat saya pangkal serta ujung keajaiban. Tak ada barang yang menakjubkan saya kalau barang itu belum sedikit pun saya ketahui. Sebaliknya berapapun kecilnya barang yang sudah saya ketahui itu, menakjubkan saya”

Yang matter, yang benda dalam ilmu alam seperti dulu sudah kita katakan, yaitu mengenai pancaindra kita. Jadi yang nyata, yang boleh dilihat, didengar, diraba, dan dicium. Yang ide, ialah bentuk pengertian atau pikiran kita tentang benda tadi dalam otak kita! Benda adalah di luar otak kita dan pikiran itu sebagai bayangan dari benda tadi adalah dalam otak kita.

Menurut Tan Malaka penyebab jatuhnya Dunia Timur pada imperialisme Barat adalah karena logika Mistik telah mengalahkan materialisme. Hal inilah yang ditawarkan Tan Malaka. “Madilog sekarang memperkenalkan dirinya kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat minuman latihan otak, berhati lapang dan saksama akhirnya berkemauan keras buat memahaminya.

Penulis adalah anggota Tan Malaka Institute (TMI)