Wanita dengan Beban Ganda yang Berbahagia

356
Sumber foto: Discover Russia Mei 12, 2014 Diana Bruk Spesial Untuk RBTH
Sumber foto: Discover Russia Mei 12, 2014 Diana Bruk Spesial Untuk RBTH

Oleh : Afrizal Qosim Sholeh

Satu pengalaman beberapa bulan yang lalu, ketika saya masih mengemban tugas mengabdi dari kampus;Kuliah Kerja Nyata. Kebetulan, saya ditempatkan di Dusun Ngondel Kulon, Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Serumah dan bersemayam bersama dengan anak Pak Dukuh yang kebetulan sudah berkeluarga, mempunyai satu anak laki-laki yang masih mengenyam bangku PAUD.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, sebut saja Winda (25); anak mantu dari Pak Dukuh yang rumahnya kita pakai sebagai posko, menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga sedini mungkin. Bahkan sebelum terbit Mentari.

Mencuci piring, menyapu rumah serta halamannya, merebus air, hingga memasak untuk suami dan anaknya misalnya. Demikian pemandangan sehari-hari yang saya lihat di posko KKN. Tapi saya percaya, jika itu semua dilakukan, murni dari nalurinya sebagai perempuan.

Dirasa persoalan rumah tangga di pagi hari telah usai. Sampai memandikan anaknya dan mendandaninya untuk persiapan bersekolah, telah tuntas dia selesaikan. Winda menyudahi persoalan rumah tangga itu, dengan bebersih dan menyiapkan dirinya sendiri untuk berangkat kerja.

Kira-kira jam 8 pagi dia berangkat kerja dari rumah dan kembali lagi pada pukul 5 sore. Kedatangannya kembali itu, tidak lantas dipakai untuk beristirahat, melainkan untuk menyelesaikan persoalan rumah tangga lagi! Seperti mencuci piring, menyapu rumah serta halamannya, merebus air, hingga memasak untuk suami dan anaknya misalnya. Kalau saja tidak ada kita;anak-anak yang ber-KKN, bisa dibayangkan kerumitan dan keriwuhan yang dia hadapi. Meskipun kita di sana hanya numpang, sedikit banyak kita membantu. Sebisa kita.

Bayangkan saja, seberapa riwuh dan ruwet perempuan jika dia mengemban sebuah beban ganda (double burden). Mengais rezeki, pun mengurus famili. Dalam beberapa penelitian psikologis, perempuan yang mengemban beban ganda, jatuhnya pasti ke psikomatik. Depresi dan stres. Mental akan terganggu hingga terlampiaskan ke lain hal, misal suami, anak, bahkan bisa sampai ke rasa makanan.

Baca Juga:  Menyambut HUT RI Ke-73, dengan Berbagai Perlombaan di Desa Jatiurip

Seperti sebuah temuan yang berjudul “Beban Ganda, Penyebab Perempuan Depresi” (Jawapos, 22/04/2017), seorang Psikolog Astrid Wiratna mengusulkan supaya laki-laki atau sang suami sanggup untuk membagi peran dengan istrinya yang bekerja. Saling menutupi celah dan mengindahkan rasa cinta. Tapi, yang demikian ini, telah laten dilakukan oleh Winda dan suaminya.

Ala kulli hal, seperti yang didentumkan oleh beberapa penelitian, jika double burden merupakan salah satu penyebab depresi, dalam konteks ini, adalah tidak tepat. Bahwasannya, apabila suami-istri telah bersepaham untuk mengcover ekonomi keluarga dengan sama-sama bekerja, sebab tanggungan menghidupi orang tua yang juga tidak ada batasnya, maka proporsi dan komunikasi adalah ikhtiar baik untuk menghindari keretakan bahtera rumah tangga. Seperti yang telah dipraktikkan oleh Winda dan suaminya. Masing-masing dari mereka masih sanggup tertawa berbahagia. Masih nyaman bermesra-mesra untuk sekedar makan sepiring berdua. Lantas di mana titik depresi dan anggapan sinis bagi perempuan yang berkarier?

Soekarno (1963;10) dalam “Sarinah” pernah mengutip perkataan Henriette Roland Holst, bila gerakan feminisme dan neo-feminisme mencederai jiwa dan peri kehidupan seorang perempuan. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Winda, meski perempuan dari desa, tetapi, meminjam istilah Soekarno, budinya selalu besar!

Karena itu, saya masih percaya, apabila pembangunan karakter yang tepat, itu bermuasal dari desa. Wallahu Aa’lam.