Yang Sejati dan Yang Pencitraan

Entah sudah keberapa kalinya kita melihat usaha pencitraan Gabener Anies yang tidak mendapatkan respon positif dari masyarakat, melainkan malah sebaliknya. Dan kali ini video youtube telah menjadi viral, dimana Anies naik kereta ke Depok untuk mendatangi acara pernikahan anak Bambang Widjoyanto dicuekin seluruh penumpang. Lihat, betapa pencitraan telah kembali tidak mendapatkan respon positifnya, karena jiwa yang kotor dan yang jernih tak dapat dimanipulasi dengan kebohongan. Ia akan terus nampak dan tak dapat disembunyikan, selama diri dari jiwa yang kotor tak melakukan pertobatan.

Berbeda sekali dengan Ahok maupun Jokowi, kemanapun mereka berada di antara rakyatnya, akan selalu didekati, disalami dan diminta foto-foto selfie. Mereka berdua menjadi tempat curahan keluh kesah rakyat dan sekaligus menjadi curahan kegembiraannya. Bahkan ketika Ahok di dalam penjara sekalipun, rakyat berbondong-bondong antri untuk mengunjunginya.

Watak pemimpin sejati sebagaimana Ahok dan Jokowi sebenarnya bisa ditiru, tetapi bagi yang sudah rusak jiwanya sungguh akan sulit menirunya. Ia tak kan memperoleh kebaikan apapun selain tatapan-tatapan mata kosong dari orang-orang yang putus asa karena muak dengan janji-janji palsunya. Kelak orang-orang yang berjiwa kotor seperti ini akan dihukum oleh rasa penyesalannya sendiri, dan seluruh harta benda maupun riwayat pangkat dan kedudukannya akan menghantui dirinya.

Kepemimpinan bukanlah soal pencapaian dari rangkaian usaha manusia dalam merekayasa hidupnya untuk menjadi Sang Pemenang. Namun kepemimpinan adalah soal kepasrahan jiwa secara total kepada Tuhan, setelah jiwa itu bergulat terus menerus dengan batin dan pemikirannya untuk menjadi Sang Bijak. Ia akan mengalami jatuh bangun dalam hidupnya, dalam peraihan cita-cita mulianya, hingga Tuhan memberinya sifat-sifat kepemimpinan.

*Penulis Adalah Advokat dan penulis.

Baca Juga:  Kemajemukan; Kekuatan Sosial Sekaligus Sumber Dinamika dan Tantangan!