Yudi Latif: Bangsa Indonesia Harus Mencari Titik Temu Perbedaan

328

BAKKARA,SERIKATNEWS.COM- Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) bersama dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggelar Dialog Kebangsaan yang bertemakan “Pancasila, Budaya, dan Ekonomi Rakyat”. Kegiatan ini dilaksanakan di pinggir Danau Toba, di Kec. Baktiraja, Bakkara, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, pada hari Kamis (14/12).

“Pancasila adalah pembicaraan tentang ‘kita’ yaitu manusia Indonesia. Perbedaan suku, agama, dan ras seharusnya membantu kita untuk saling mengarifkan diri,” kata Yudi Latif, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), saat menjadi pembicara tunggal di acara Dialog Kebangsaan yang dipandu oleh Valentino Panjaitan, mantan Ketua GMKI Medan periode 2015-2017.

Yudi Latif menjelaskan bahwa asal usul ras manusia Indonesia semuanya berasal dari induk ras yang sama sehingga semestinya tidak ada hal yang perlu dipertentangkan.

“Jangan ada kelompok tertentu yang menganggap kelompoknya lebih pribumi atau menganggap ke-Indonesiaan-nya lebih _genuine_. Perbedaan warna kulit diantara suku bangsa Indonesia disebabkan oleh faktor iklim dan letak geografis saja,” kata Yudi.

Menurut Yudi, bangsa Indonesia jangan mencari-cari dan mempersoalkan perbedaan melainkan mencari titik temu dari perbedaan itu. Titik temunya adalah bahwa setiap agama dan etnis budaya pasti mengajarkan bagaimana manusia membangun relasi yang harmonis dan baik dengan Yang Maha Kuasa, dengan sesama manusia, serta dengan alam semesta.

“Sebagai warga negara kita menjadi masyarakat yang toleran dan selalu menebar cinta kasih serta membuat hidup kita lebih _meaningful_ (berarti) terhadap sesama manusia. Kita juga harus menggali potensi ke-Indonesia-an kita agar kekuatan bangsa ini bisa digunakan untuk melawan kemiskinan dan kesenjangan, agar masyarakat yang adil, beradab serta sejahtera bisa terwujud,” ujar Yudi.

Di akhir pemaparannya, Yudi Latif meminta para peserta yang sebagian besar adalah siswa dan mahasiswa untuk menjadi dirinya yang hakiki, mengejar cita-cita, dan menjalin kerjasama dan hubungan yang baik dengan orang lain walaupun berbeda suku, agama, dan daerah.

Baca Juga:  Presiden Pegang Teguh Komitmen Tidak Intervensi KPK

“Dengan ini pemuda tidak lagi berhadapan dengan sekat-sekat, tapi dapat berkolaborasi dengan kasih sayang demi kebahagiaan bersama sebagai satu bangsa,” kata Yudi.

Dialog ini juga disertai dengan _soft launching_ Satgas Kader Inti Pancasila (Satgas KIP) yang diinisiasi oleh GMKI dan IPNU.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat menjelaskan bahwa pembentukan Satgas KIP ini adalah bentuk keseriusan pemuda, baik pelajar/siswa dan mahasiswa untuk mengarustamakan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan Pancasila harus membumi dan jangan hanya menjadi wacana atau jargon saja.

“Pemuda jangan hanya membahas Pancasila ketika ada konflik etnis atau agama saja. Yang paling penting adalah bagaimana Pancasila dapat menjadi pandangan hidup kita saat membicarakan tentang budaya, ekonomi rakyat, dan lingkungan. Kami berharap semua siswa dan mahasiswa di Indonesia akan memahami dan menjadi teladan bagaimana pemuda menghidupi Pancasila untuk membangun peradaban Indonesia,” ujar Sahat.

Satgas ini didukung penuh oleh Dewan Pengarah UKP PIP, salah satunya Pdt. Andreas A. Yewangoe. Dalam kesempatan beraudiensi beberapa waktu lalu, beliau menyampaikan kepada GMKI dan IPNU bahwa penting untuk pemuda menggagas pemikiran ke arah implementasi Pancasila dalam dunia nyata.

“IPNU dan GMKI adalah contoh pemudi-pemuda yang diharapkan bangsa ini. Satgas Kader Inti Pancasila ini harus menjadi alat untuk mencerahkan anak-anak muda sehingga dapat mendaratkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Acara Dialog Kebangsaan juga dihadiri oleh Pdt. Martin Lukito Sinaga, Sekretaris Umum Pengurus Pusat GMKI-Alan Singkali, Koordinator Wilayah I GMKI Sumut-NAD Swangro Lumbanbatu, Ketua PP IPNU Ismadani, Ketua PW IPNU Sumut Muslim Pulungan, Pemkab Humbahas, perwakilan Badan Pengurus Cabang dan anggota GMKI se-Sumatera Utara, serta Kepala Sekolah dan pelajar SMA Baktiraja Humbahas. (Sahal)