Apple Strudel

157
Cerpen
Ilustrasi: Net

Di sebuah café kecil dekat sungai Inn, di kaki pegunungan Alpen…

“Selamat pagi Myra.”
Hey, selamat pagi Eric.”
“Oh please, kau tak perlu matikan rokokmu. Aku tak keberatan, please.
Are you sure?”
Of course. Apalagi kamu bilang Marlboro Ice Burst tak banyak dijual di Eropa.”
Mmm, iya juga sih. Thanks.”

Tak biasanya Eric, seorang blasteran Jawa – Belanda – Denmark yang sedang tinggal di Swiss itu datang terlambat dan tak biasanya Myra (baca: Maira) rela menunggu cukup lama untuk sekedar ngopi dengan seorang kenalan baru.

“Maaf aku telat. Gimana Apple Strudel-nya? Cocok?” tanya Eric melihat piring Myra yang menyisakan banyak potongan apel.
“Aku suka puff pastry-nya, lembut. Apelnya sendiri… Asem!” jawab Myra sambil berbisik.
“Ha haa.. kau tak perlu berbisik, tak ada yang mengerti bahasamu.” Eric tertawa geli, mendekatkan kursinya dan mencium pipi Myra yang kemerahan.

Denting alat makan yang beradu di piring-piring keramik menciptakan suara latar yang sempurna dengan romansa pagi itu.

“Aku tak mengerti kenapa makanan ini bisa sangat melegenda?” kata Myra.
“Apple Strudel dulu hanya bisa dinikmati oleh bangsawan. Hidangan istimewa untuk orang-orang penting di kekaisaran Habsburg, Switzerland. Lama-kelamaan resepnya menyebar, dan akhirnya orang justru tahunya Apple Strudel ini kepunyaan Austria,” jawab Eric.

Inilah yang ia suka dari Eric. Myra yang mengambil jurusan sejarah di universitas Innsbruck mendengarkan penuh saksama.

“Ya, sepertinya Swiss adalah bangsa yang suka mengalah. Rela tak punya bahasa nasional sampai mata uangnya pun tercantum dalam 4 bahasa,” timpalnya.
“Ha haa.. itulah sebabnya, 2 tahun di Swiss aku bisa bicara dalam Prancis, Italy dan Jerman,” sambung Eric. Tertawanya lepas memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih.

Baca Juga:  Sri Semeleh

Swiss memang unik. Penduduk yang dekat dengan Italy, menggunakan bahasa Italy. Yang dekat Jerman, menggunakan bahasa Jerman. Yang dekat Prancis, menggunakan bahasa Prancis dan yang tinggal di tengah-tengah menggunakan bahasa Romansh. Meski selalu tenang dan penuh kedamaian, Swiss menyimpan misteri besar. Kota Basel adalah awal petaka bagi Palestina. Theodore Herzl mendeklarasikan zionisme pada 1987. Pengaruhnya terasa hingga kini, membuat runtuhnya kesultanan Turki Utsmani dan tercabik-cabiknya Timur Tengah. Sejarah kelam dunia selalu menarik Myra untuk menelusuri jelaganya. Pada Eric, misteri itu juga ada, dan tak kalah besar. Ada sesuatu yang bergejolak dalam diri Eric. Sebuah monolog yang belum akan menemui titik.

Seorang pelayan café menghampiri Eric dan menyodorkan buku menu.

“Saya pesan yang sama dengan yang dia pesan,” katanya dalam Jerman. Pelayan itu mengangguk kemudian meninggalkan meja mereka.
“Kamu pesan Apple Strudel yang asam ini?” terka Myra.
“Aku akan tunjukkan keistimewaan pastry ningrat itu sesungguhnya dear,” jawab Eric dengan lembut. Pesona “Roger Federer” dengan rambut coklat bergelombang yang acak tak tersisir seolah menghembuskan mantra sihir.

Tiga jam berlalu.

Keduanya meninggalkan café yang mulai terasa sumpek dengan kehadiran sejumlah turis Asia yang penasaran dengan Apple Strudel khas Austria. Berjalan berdua menyusuri sungai Inn, bergenggaman tangan dalam hening. Desau angin di penghujung musim dingin mengirim suasana beku. Es di pucuk-pucuk pegunungan Alpen sesekali tampak menyilaukan. Tetapi itu tak mengganggu keduanya yang sedang berkelahi dengan pikiran masing-masing.

“Aku kangen Jakarta,” kata Eric memecah sunyi.
“Pulanglah. Banyak yang bisa kau lakukan,” jawab Myra dengan suara parau.
“Myra, kita sudah berjanji tidak bicarakan ini lagi,” Ia hentikan langkahnya. Menatap bola mata Myra yang mulai basah. “Please, izinkan aku menikmati hari-hari terakhirku bersamamu,” lanjutnya. Ia lepaskan genggaman tangannya, menarik lembut tubuh Myra, memeluknya dengan penuh seluruh. Myra berharap waktu berhenti di sana. Ia jatuh cinta. Meski buncah, tak tahu harus berbuat apa.
“Jadi kamu akan menemaniku ke Swiss besok pagi?” pinta Eric.
Myra mengangguk.

Baca Juga:  Rembulan Di Mata Ibu

***

Tiga hari menghabiskan malam-malam bersama di kota Basel, akhirnya Kamis, 5 Oktober pukul 12.30, Eric meninggal dunia lewat infus Nembutal di klinik Life Cycle. Swiss adalah salah satu negara di benua Eropa yang melegalkan euthanasia atau suntik mati. Exit International, sebuah kelompok yang membantu proses menuju “bunuh diri” tak henti-hentinya berterima kasih pada Myra.

“Dua tahun ini Eric sudah sangat tersiksa karena skizofrenia yang dideritanya sejak remaja. Ia merasa obat-obatan hanya menunda kambuhnya, tak mengobati. Saya senang Eric menemukan kebahagiaan terakhirnya bersamamu. Saya rasa selama di sini ia menunggu untuk bertemu dulu denganmu,” kata Philip Nitschke, salah satu pendiri Exit International.

Myra hanya duduk terpaku menunduk. Di pangkuannya tergeletak sampul piringan hitam album The Works milik Queen. “Aku ingin lagu ini diputar di saat-saat terakhirku,” pesan Eric kemarin. “I Want to Break Free” masih terdengar menggelegar…

TAMAT