BEM Soloraya: Persatuan Bangsa Lebih Penting Ketimbang Pemilu

9

SERIKATNEWS.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Soloraya menyelenggarakan kegiatan Silaturrhami BEM dan Buka Bersama bertajuk “Ramadhan dan Momentum Persatuan: Merawat Keakraban dan Kebhinnekaan”. Kegiatan yang diikuti 300-an peserta tersebut diselenggarakan di Aula Sido Luhur Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta, Rabu (15/5/2019).

Hadir sebagai pembicara pada kegiatan tersebut Rektor Universitas Islam Batik Surakarta, Dr. Pramono Hadi, S.P., M. Si, dan Sekretaris Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Anam Sutopo, M. Hum. Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan pengurus BEM dari belasan kampus di daerah keresidenan Surakarta.

Ketua Umum BEM Soloraya, Muhammad Arief Oksya menjelaskan bahwa kegiatan Silaturrahmi pengurus BEM dan mahasiswa di Soloraya sebagai instrumen untuk kembali merekatkan persatuan dan kesatuan. Menurutnya, situasi sosial masyarakat hari ini terbelah ke dalam polarisasi yang sangat tajam, terutama pasca kontestasi Pemilu 2019.

“Polarisasi dan keriuhan publik terdengar bahkan hingga kini. Kontestasi Pemilu memang menyisakan banyak problem sosial yang bisa merongrong kohesi sosial masyarakat. Tentu saja ini bahaya bagi kerukunan bangsa,” kata mahasiswa UNIBA ini.

Bagi Oksya, mahasiswa mesti mengambil peran sebagai lokomotif persatuan di tengah situasi masyarakat yang terpecah belah. Mahasiswa harus bisa menjadi penggerak untuk memulai menyerukan ide damai dan persatuan bangsa. Pasalanya, persatuana bangsa lebih penting ketimbang persaingan kepentingan politik.

“Pemilu 2019 memang begitu menguras energi, namun bukan berarti menghilangkan rasa persatuan kita sebagai banga Indonesia. Dalam Pancasila, sila kerakyatan didahului dengan sila persatuan dan diakhiri oleh sila keadilan. Ini berarti bahwa demokrasi Indonesia mengandaikan semangat persatuan terlebih dahulu,” kata aktivis gerakan Solo itu.

Sebelum diskusi, BEM Soloraya menyampaikan Deklarasi Indonesia Damai yang dipimpin oleh Ketua Umum BEM Soloraya, Muhammad Arief Okysa, dan diikuiti oleh seluruh peserta. Poin deklarasi tersebut antara lain (1) Berpegang teguh pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan tetap menjaga kesatuan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga:  PROJO : Salah Alamat Melaporkan Jokowi Ke Ombudsman

Kemudian (2) Berkomitmen untuk terus melawan segala bentuk fitnah, informasi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang bisa meretakkan kehidupan berbangsa; (3 )Bersedia bergerak mengedukasi masyarakat untuk bersama-sama terlibat menjadikan negara berdaulat, adil, dan makmur, berdasarkan cita-cita pendiri bangsa.

Bahayakan Masyarakat

Sementara itu, Pramono mengungkapkan bahwa polarisasi yang terus ditampilakn elite dan tokoh tidak sekadar berbahaya pada bangunan demokrasi Pancasila, tetapi juga terhadap harmonisasi masyarakat bawah. Pasalnya,perseteruan elite berimbas pada kondisi sosial di akar rumput.

“Karena itu, menurut saya, yang terpenting hari ini adalah usaha kembali merawat persatuan dan kedamain masyarakat. Persatuan bangsa bahkan jauh lebih penting ketimbang kontestasi politik yang sifatnya hanya temporal,” terang alumnus pemberdayaan masyarakat UNS itu.

Senada dengan Pramono, Anam Sutopo menjelaskan, kalangan mahasiswa dan pemuda mesti menjadi penggerak persatuan dan keakraban di tengan polarisasi pasca Pilpres. Mahasiswa dengan beragam perannya dipercaya mampu menjadi pelopor rekonsiliasi masyarakat.

“Setelah kontestasi Pemilu usai, mahasiswa mesti ambil peran sebagai pelopor persatuan. Mahasiswa harus mengajak masyarakat, menyerukan kalangan elite, untuk berhenti berselisih. Saatnya kita berdamai dan merawat kemajemukan,” pungkasnya.