Farshal Hambali SSos MPar dan Antonius Lisliyanto SE MM
Pengamat Penerbangan Indonesia yang masing-masing berpengalaman lebih dari 12 tahun di berbagai maskapai lokal maupun internasional, sekaligus juga dosen pengajar di UPH dan TSM.
Tahun 2020 merupakan tahun yang kelam bagi dunia penerbangan global dan nasional. Pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan seluruh bagian dari industri penerbangan. Bisa dibilang mati suri secara besar besaran. Dan ini belum akan berakhir. Walaupun vaksin sudah tersedia dan proses vaksinasi sudah dimulai di beberapa negara dan di Indonesia dalam waktu dekat, masih sangat terlalu dini untuk memprediksi apa yang akan terjadi di dunia penerbangan di tahun depan.
Kondisi berjalan dengan sedemikian dinamis dan perubahan yang tidak bisa diduga. Perlu digarisbawahi bahwa sektor yang terkena imbas adalah sektor penerbangan komersial yang mainstream. Sementara sektor penerbangan kargo saat ini memang sedang super sibuk untuk mengangkut APD dan vaksin ke seluruh kota di dunia termasuk ke Indonesia.
Maskapai Kargo Udara nasional saat ini juga sangat sibuk dengan pengangkutan alat medis ditambah lagi industri e-commerce yang naik daun karena banyak orang yang WFH (work from home). Jadi secara umum maskapai kargo udara dalam posisi yang lebih baik. Berbeda jauh dengan keadaan maskapai komersial yang melayani penumpang.
Menurut laporan dari IATA (International Air Transport Association) yang dikeluarkan pada bulan Desember 2020, pergerakan penumpang domestik menyusut hingga 70% sedangkan internasional sampai dengan 90% di tahun 2020 ini. Pekerja sektor penerbangan berkurang lebih dari 50% dari 8 juta ke angka 4,7 juta. Sebagian besar dirumahkan tanpa gaji, sedangkan yang lain di-PHK atau kontraknya tidak diperpanjang. Bahkan banyak berita mengenai pilot yang berubah profesi menjadi tukang mie ayam, burger ataupun salesman keliling.
Lalu bagaimana prediksi dunia penerbangan di tahun 2021? Jawaban yang paling penting adalah bagaimana hasil vaksinasi nasional dan global. Vaksinasi diharapkan dapat memberikan kepercayaan bagi konsumen untuk lebih nyaman terbang. Namun ini diprediksi baru akan berdampak di semester kedua tahun depan.
Semua masih sangat bergantung pada keberhasilan proses vaksinasi awal serta evaluasinya. Yang lebih penting juga adalah pembukaan perbatasan antar negara yang saat ini tutup. Seperti diketahui Indonesia saat ini hanya memiliki perjanjian travel corridor dengan beberapa negara seperti Arab Saudi, Singapore, Korea, Jepang. Sementara lainnya masih tutup, kecuali untuk repatriasi dan perjalanan esensial.
Tanpa pembukaan perbatasan (border opening), nasib dunia penerbangan masih tanda tanya. Apalagi dengan kebijakan pemerintah yang pada awal tahun melarang WNA untuk masuk ke Indonesia. Yang bisa dilakukan oleh industri saat ini hanya melakukan perbaikan di protokol kesehatan secara spesifik soal testing dan tracing. Intinya kami melihat bahwa industri penerbangan masih dalam keadaan yang sangat berat di tahun depan, bahkan kemungkinan bangkrut dan kita ke depannya memulai industri penerbangan dari kondisi sangat awal kembali (From Zero Again).
Mengingat pentingnya transportasi udara bagi Indonesia, yang notabene negara kepulauan. Transportasi udara masih menjadi sarana yang vital dalam pengiriman logistik ke daerah-daerah terpencil. Kami menghimbau pemerintah untuk memberikan bantuan dana segar dan relaksasi peraturan kepada industri ini. Ini bukan hal yang aneh, banyak negara sudah melakukannya. Amerika Serikat, Singapore, Australia, Perancis, mereka semua memberikan milyaran dolar kepada maskapai nasionalnya. Ada yang dana segar, ada yang bailout maupun soft loan. Yang paling umum adalah subsidi operasional seperti gratis biaya operasi di bandara, navigasi serta diskon bahan bakar. Di Indonesia? Kita sudah mendengar soal dana talangan ke Garuda dalam bentuk MCB (Mandatory Convertible Bonds), tapi cuma Garuda saja, sementara yang lain juga butuh.
Kalau kita lihat di Kementerian lain, Kemenparekraf memberikan dana hibah 3,3T kepada pelaku pariwisata. Kami harap langkah ini juga bisa diikuti ke industri penerbangan. Tidak harus cash, tapi bisa juga dalam bentuk yang lain seperti subsidi operasi tadi.
Terakhir kami kutip quote dari Marsekal Chappy Hakim mengenai pentingnya superioritas udara bagi Indonesia yaitu “wilayah darat kita ada sepertiga, sedangkan wilayah laut kita dua pertiga dan wilayah udara kita tiga pertiga”. Kami harap industri penerbangan dan dirgantara Indonesia dapat bertahan di masa pandemi. Kami harap pemerintah juga dapat memberikan perhatian signifikan pada industri ini di tahun 2021.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...