Dari Brain Drain ke Brain Bank

362
Maggie Tse
Maggie Tse, pianis termuda saat ini yang sudah bisa memainkan Rapsodia Nusantara.

Mungkin banyak dari kita yang masih belum sadar bahwa jumlah pelajar Indonesia yang kuliah musik klasik di luar negeri saat ini mencapai ratusan jumlahnya. Nilai artistik serta kepekaan musikal mereka tentu tidak diragukan lagi, tapi pada akhirnya yang dibutuhkan penonton memang bukan akrobat virtuositas, melainkan kekuatan komunikasi para musikus ke penonton. Untuk itu, dibutuhkan kematangan bermusik dan strategi komunikasi lewat pemilihan program dan community building. Satu not bisa saja lebih ekspresif dari ribuan not-not yang bertebaran dan secara cepat dibawakan oleh jemari atau pita suara yang lentur.

Mereka mewakili banyak pemusik muda Indonesia yang berprestasi gemilang di luar negeri. Pianis Edith Widayani (yang telah lulus Doktor di bidang musik di Eastman School of Music) menjadi pemenang pertama di Chopin Competition di Amerika tahun 2014. Kini ia membagikan ilmunya di berbagai negara di Amerika Selatan. Soprano Bernadeta Astari yang lulus dengan summa cum laude dari Utrecht Conservatory of Music adalah anggota Nederlandse Reisopera yang bergengsi dan menjadi tokoh utama berbagai opera di Belanda dan sekitarnya. Tahun ini, penyanyi soprano Mariska Setiawan telah lolos audisi Passport to Broadway International (di Indonesia bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation dalam program Indonesia Menuju Broadway), sebuah model program pelatihan Broadway Musical Theatre intensif yang akan melatih para seniman muda bercita-cita tinggi dari seluruh dunia dalam keterampilan dan pendidikan seni pertunjukan. Mariska akan berangkat Juli nanti ke New York City dengan beasiswa penuh dari program ini.

Saya hanya menyebut 3 contoh yang paling menonjol dan telah memenangkan berbagai kompetisi internasional serta melanglang ke mancanegara, dan jika diteruskan, artikel ini hanya akan berisi daftar nama yang panjang. Memang kita masih jauh di bawah—dan saya kira tidak akan mencapai—Cina di mana ada 40 juta lebih pianis (dan pemain instrumen lain juga mencapai jutaan), tapi jumlah pemusik genre ini masih terus meningkat dengan pesat di Indonesia.

Pada salah satu perbincangan saya dengan mantan Presiden B.J. Habibie setiap kali kami bekerja sama, beliau mengatakan bahwa beliau bisa mengerti jika para lulusan bidang musik klasik tidak mau pulang ke Indonesia karena ketidakjelasannya lapangan pekerjaan di sini. Waktu itu beliau mengacu ke saya dan membandingkannya dengan pengalaman beliau di bidang teknologi. Tapi apakah itu berarti bahwa kami yang “kecantol” di luar negeri itu memang tidak berguna untuk negara?

Baca Juga:  Teroris Kata-kata Lebih Berbahaya

Seperti pak Habibie, saya percaya bahwa kaum diaspora tetap atau bahkan dapat lebih berguna untuk tanah kelahiran jika tinggal di luar negeri. “Cari makan” di negeri orang itu bukan “pengkhianatan” terhadap negara asalnya, karena kami tidak menghabiskan uang negara. Bahkan kaum diaspora yang cerdas, ambisius, jujur, cinta terhadap pekerjaannya serta idealis malah membawa nama negara selama ada di luar. Istilah “brain drain” dengan terjemahan harafiahnya “otak terkuras” malah menjadi lebih tepat jika mereka yang punya keahlian khusus itu tidak dapat terpakai di dalam negeri karena negara belum bisa menyediakan lapangan pekerjaan untuk itu. Sekarang, dengan minat di musik klasik yang begitu besar di Indonesia (walaupun baru di kota-kota besar), banyak lapangan kerja terbuka untuk para musikus lulusan luar negeri: sebagai pengajar, pemain orkes, pengisi musik untuk teater, film dan tari.

Selain itu, saya pun telah membuktikan bahwa konser dan rekaman CD maupun distribusi lewat toko daring seperti iTunes dengan musik sastra Indonesia cukup diminati; memang tidak bisa dibandingkan dengan penghasilan dari musik pop, tapi ini sebuah indikasi yang bagus. Lagi pula, musik sastra lebih bisa berkomunikasi dengan seluruh dunia karena kebanyakan adalah musik tanpa text (musik instrumental) sehingga bahasa tidak menjadi dinding pemisah. Musik, seperti yang kita sering katakan, adalah bahasa universal yang dimengerti tanpa lewat kata-kata.

Manajemen untuk jenis musik ini di Indonesia pun masih dalam tahap uji coba, karena jenis musik ini memang membutuhkan cara yang berbeda dengan musik-musik lain yang lebih komersial, ditambah dengan cara penerimaan publik Indonesia (dan negara-negara Asia pada umumnya) yang berbeda. Itu sebabnya saya bekerja dengan manajer saya, Chendra Panatan, menggunakan saya sendiri sebagai “kelinci percobaan” dan selama hampir 14 tahun kami bekerja sama, kami sudah melewati banyak trial and error yang sangat asyik dan menantang. Memang manajemen ini bisa dipelajari di Eropa, tapi tidak segampang itu menerapkannya di Indonesia dan Asia. Indonesian problems need Indonesian solutions, itu selalu dasar pemikiran saya di Indonesia, setelah tinggal 30 tahun lebih di Eropa. Bahkan penurunan drastis minat publik terhadap musik klasik di Eropa sendiri pun adalah kesalahan marketing dan manajemen seni yang bertumpu pada subsidi pemerintah lokal (yang terus menyusut drastis) yang ironisnya masih ngotot diterapkan di banyak fakultas manajemen seni di Eropa, bukan dari penggalangan minat penonton.

Baca Juga:  Keep On Fighting For Women's Education In The World

Salah siapakah sampai fenomena brain drain ini terjadi? Siapa pun yang Anda tunjuk, yang bisa kita lakukan adalah berpikir bagaimana memaksimalkan para ahli ini untuk negaranya sendiri dan mengubah brain drain menjadi brain bank. Cina baru saja meluncurkan sebuah proyek untuk mengembangkan 100 universitas menjadi lembaga kelas dunia yang tidak hanya memberikan pendidikan tinggi, tetapi juga lapangan kerja akademik dan kesempatan penelitian. Pemerintahan Uni-Eropa kini sedang berusaha meningkatkan daya tarik Eropa menjadi daerah penelitian dan jumlah dana yang ditujukan untuk sumber daya manusia di program lima-tahunan Research Framework Programme dari ke-6 dan ke-7 telah digandakan dari € 18 M ke  € 50 M. Indonesia, dengan kekayaan musik daerahnya sangat berpotensi juga untuk digali, diteliti dan dikembangkan untuk musik klasik seperti yang telah saya lakukan di Rapsodia Nusantara yang kini telah menjadi bagian dari jemari ratusan pianis di mancanegara, dengan “efek sampingan” positifnya adalah pelestarian lagu-lagu daerah yang sudah banyak yang punah itu. Pastinya ada banyak cara lain untuk mengeksploitasi kekayaan budaya kita, bukan?

Kita jangan melakukan kesalahan yang sama dengan ekspor biji kopi. Kopi kita unggul, tapi kita hanya ekspor biji mentahnya. Biji tersebut diproses di luar negeri sampai menjadi nama-nama kopi yang ngehitz seperti cappuccino, espresso dll., dan kita kemudian membelinya dengan harga berlipat ganda. Nilai musik daerah kita tinggi, tapi kita harus tahu bagaimana mengkomunikasikannya ke dunia internasional. Jangan ngomel kalau kemudian ada negara-negara yang mengklaim itu adalah produk seni mereka, sama seperti kita ngomel bahwa harga cappuccino Italia mahal dan kita menyeruput kopi hasil tanah kita sendiri.

Saya ingin mengakhiri dengan membuktikan bahwa kualitas kopi… eh… pianis kita tidak kalah untuk bersaing di dunia internasional. Tahun lalu, ada pianis (sangat) muda Amerika Henry Shou berusia 10 tahun memenangkan penghargaan Elizabeth Gerber Award di Ashland, Ohio, Amerika Serikat. Dia memainkan karya saya yang sangat sulit, Rapsodia Nusantara No. 6 yang berdasarkan musik Aceh, Bungong Jeumpa. Ini tadinya adalah rekor pianis termuda yang bisa memainkan Rapsodia Nusantara (Baca: Rapsodia Nusantara Mengantarkan Pianist Cilik Amerika Meraih Juara Satu “Elizabeth Gerber Award”).

Baca Juga:  SAKSI PALSU

Tapi ternyata tahun ini, rekor ini dipecahkan oleh seorang pianis dengan usia sama (walaupun kali ini perempuan) yang lahir dan besar (termasuk pendidikan musiknya) di Surabaya, yaitu Maggie Tse, murid Rosalinawati Iman, tanpa pendidikan musik yang dianggap lebih “canggih” luar negeri memainkannya dengan baik dan juga mendapatkan Gold Award, di Festival Indonesiana di Surabaya. Beritanya justru tidak ada, tapi ada link YouTube-nya untuk membuktikan kecanggihannya: Rapsodia Nusantara No. 6 by Ananda Sukarlan played by Maggie Tse.

Sumber daya manusia sudah ada, dan banyak. Fasilitas sudah ada. Peminat (konsumen) sudah sangat banyak. Rapsodia Nusantara sudah dimainkan oleh ratusan, bahkan ribuan pianis dalam dan luar negeri. Masih percaya bahwa kita “harus” ketinggalan di dunia internasional di bidang musik klasik? Masih percaya bahwa musik ini tidak menguntungkan untuk negara?