Sebagian besar peneliti HAM menganggap bahwa Indonesia ‘gawat kemanusiaan’. Sampai suatu hari, di pusat Kota Karang Kadempel diviralkan oleh seorang yang menasbihkan dirinya, sehingga mendaulatkan diri sebagai agamawan yang paling humanis. Ngalim namanya, Mbah Ngarep lebih tepatnya. Media sosial, televisi, surat kabar, bahkan burung-burung berkabar, sampai ramai tiada terbendung menceritakan sosoknya.
“Nganu…. Mbah Ngarep itu salah satu dari wali Allah yang Mastur lho,” kata Girun.
“La Mastur kok diketahui orang banyak? Berarti Gudu Mastur,” sanggah Yudi.
Sepanjang perdebatan yang semakin sengit, datanglah Gading, kemudian menceritakan bahwa dirinya baru bertemu dengan Gus Dur, dan diskusi tentang Mbah Ngarep. “Mbah Ngarep itu manusia biasa tapi luar biasa. Itu yang disampaikan Gus Dur pada saya,” kata Gading.
Teman-tamannya kurang begitu yakin pada pernyataan Gading. Di samping Gading hanya sebagai anak laki-laki tanpa progres yang jelas. Ngaji? Apalagi. Setiap hari hanya mancing di sepanjang sungai di bawah lambaian daun kelapa. Ibarat hadits, sudah dihukumi munqati’. Di mana sanad dan kebenaran isi yang disampaikan kurang dipercaya karena cacat pada perawinya.
“Gombal mukiyo….. Gus Dur diskusi karo kowe? Ra Gagas,” bantah Girun dengan mulut yang agak manyun dan bertemu dua sisinya kemudian muncul suara “Pecchhh”.
“Terserah… kalian mau percaya apa tidak, yang jelas tadi Gus Dur ikut mancing di kali Umbulrejo bersamaku. Kemudian kita diskusi babakan auliya’, sampai pada pembahasan Mbah Ngarep,” jelas Gading.
“Opo kuwe ra ngerti, kalau Gus Dur itu sudah lama wafat?” tanya Girun.
“Kamu kan pernah ngaji toh? Bagaimana orang alim itu, ia dihukumi wafat atau hanya pindah tempat saja, dan sejatinya tidak wafat,” sanggah Gading.
“Iya… Tapi mengapa Gus dur menemuimu?” tanya Girun.
“Ya… tanya sendiri sama Gus Dur!” tukas Gading.
Suasana menjadi agak tenang, bahkan cenderung sunyi, tapi tidak dengan benak mereka. Berpikir, merenung dan saling mengolah informasi untuk dijadikan bahan penafsiran.
Mbah Ngarep, adalah seorang warga Karang Kedempel yang sudah sepuh, kehidupannya hanya diisi dengan bekerja serabutan, membangun gubuk untuk tempat peristirahatan, siapa saja boleh beristirahat, salat dan lain sebagainya di sana. Bahkan Mbah Ngaling sering memberi suguhan kepada para tetamu yang singgah di gubuk tersebut. Tidak jarang suguhannya membuat dahi para tetamu mengernyit.
Dengan keseharian Mbah Ngarep yang seperti itu, dari mana ia mendapatkan buah-buahan, atau camilan yang amat enak, dan jarang ditemui di Karang Kadempel. Keluarganya juga biasa-biasa saja. Bahkan cenderung menengah kebawah. Tetapi begitulah Mbah Ngarep, dengan segala rahasianya.
***
Gus Dur menjadi inspirasi perdamaian bagi siapa pun, bukan hanya yang beragama Islam, tetapi semua agama dan kepercayaan. Gus Dur dikenal nyentrik, nyleneh, dan lain sebagainya. Semakin banyak tafsir tentang Gus Dur, maka semakin tertutupi kesejatiannya. Itulah yang—mungkin diharapkan oleh Gus Dur bahwa tidak penting dilihat oleh sesama manusia, yang penting adalah bersikap manusiawi kepada sesama manusia.
Terkait “kewalian” tidak sedikit yang tidak menerima, justru sebaliknya. Maqbarah-nya begitu ramai oleh lalu lalang peziarah. Bahkan dari beragam agama dan kepercayaan, pun berbagai kalangan. Dikenang dengan beragam simbol menunjukkan bahwa ia diterima di berbagai ruang.
Dengan santainya, gaya yang masih melekat di benak adalah “Gitu aja kog repot,” hal ini menjadi satu slogan, bahwa segala persoalan memiliki solusinya. Satu hal akan menjadi ruwet, jika dibuat ruwet oleh pemikiran dan persepsinya.
***
Mbah Ngarep menjadi sangat viral bukan karena kelebihan dan segala rahasianya. Justru beragam tafsir dan persepsi yang berkembang tentangnya. Orangnya? Biasa dan santai saja.
Dari mana anda tahu? Coba saja lihat ke sekeliling anda hari ini. Tidak sedikit yang menjual agamawan. Asal pandai berpidato, pakai sorban, sedikit dibumbui hadist dan ayat. Jadilah bahan dagangan.
Mbah Ngarep juga demikian, kabar tentangnya akan diprospek sedemikian rupa, sehingga menjadi satu bahasan asik dan renyah. Bahan jualan yang marketable. Lho kog bisa? Apa yang tidak bisa hari ini? Di TV dukun laris, selaris acara dengan penonton bayaran yang “alay”.
Jika Gus Dur mengatakan bahwa Mbah Ngarep itu manusia biasa, maka benar adanya. Tidak ada yang kuasa dan mampu selain Tuhan. Berbicara kelebihan dan kekurangan, setiap makhluk tidak akan mampu menyatakan kelebihan dan kekurangannya tanpa kuasa-Nya.
Maka jelas, agar tidak terjebak oleh ke-kemrungsungan, lebih baik saling membantu, gotong royong, saling asah, asih dan asuh, saling menghormati satu sama lain. Tidak berebut ini dan itu.
Gus Dur mengajarkan beragam moral, bukan untuk dikenang dan diseminarkan, melainkan dijalankan, ditumbuhkembangkan, diwariskan kepada generasi penerus. Karena yang terpenting bukan pandangan terhadap Gus Dur, melainkan relasi pola pikir dan pola sikap yang diwariskan oleh Gus Dur. Belajar tentang Gus Dur, berarti belajar bagaimana mencintai dan menyembunyikan diri.
Sedang Nyantri di Bayt Al-Karim Gondanglegi dan Bayt Al-Hikmah Kepanjen Malang
Menyukai ini:
Suka Memuat...