Konstruksi Sosial-Politik Pemikiran Mahbub Djunaidi

445
Mahbub Djunaidi

“Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa Mahbub adalah seorang revolusioner yang nasionalis sejati.” (Chalid Mawardi)

Mahbub Djunaidi melalui tulisannya sering mengkritik demokrasi di Indonesia, di antaranya sistem otoriter dan represif yang dipraktikkan oleh Orde Baru, serta korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Potret demokrasi bagi Mahbub, terlembagakan melalui Dewan Perwakilan Rakyat sebagai representasi dari rakyat sangat mewah hidupnya karena dalam setiap aktivitasnya dibiayai dan difasilitasi oleh anggaran negara, sehingga tidak menutup kemungkinan anggaran negara habis hanya dipakai untuk membayar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) saja. Oleh karenanya, Ia tegas mengatakan bahwa demokrasi telah dibajak oleh segelintir orang saja. Sedangkan idealnya, anggaran negara harus dialokasikan dan diperuntukkan atas kepentingan rakyat dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Konstruksi sosial-politik pemikiran Mahbub Djunadi dapat digambarkan melalui proses eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisai. Ekternalisasi pemikiran Mahbub Djunaidi salah satunya terjadi pada peristiwa pergolakan di awal kemerdekaan Indonesia dalam rentang waktu 1950-1954. Pada waktu itu, Pak Junaidi menjadi pegawai Jawatan Mahkamah Islam Tinggi harus pindah tugas dari Jakarta ke Solo tatkala pusat pemerintahan dipindah ke Yogyakarta. Ketika Agresi Militer Belanda II, Mahbub Djunaidi hampir setiap hari menyaksikan para tentara memikul senjata, apalagi setelah TNI Jawa Barat pindah ke Jawa Tengah. Pergolakannya adalah seputar Agresi Belanda II, oposisi Muso serta DI/TII.

Pada kurun waktu 1973-1977, Mahbub Djunaidi berhadapan dengan rezim Orde Baru yang sedang memegang tongkat kekuasaan serta melakukan kontrol ketat terhadap masyarakat. Kekuatan Orde Baru tidak hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi juga memainkan peranan penting dalam politik kebudayaan. Selanjutnya, pemikiran Mahbub Djunaidi terbentuk dari hasil interaksi dengan orang-orang besar, seperti Ir. Soekarno, Abdurrahman Wahid, KH. Asad Samsul Arifin, dan Nyoto. Selain itu, dia sering berinteraksi dengan rakyat biasa, sebagai bagian dari visi hidupnya yang menaruh perhatian terhadap rakyat biasa. Visi ini buah dari interaksinya dengan karya-karya modern, seperti karya Sutan Takdir Aysjahbana, Mark Twain, dan karya Karl Marx, serta karya sastra Inggris, George Orwell.

Baca Juga:  Disintegrasi Bangsa, Nihilnya Peran Negara

Obyektivasi pemikiran Mahbub Djunaidi terjadi melalui proses pelembagaan. Gagasan politik dan demokrasi di Indonesia salah satu fungsi dan maknanya telah ditetapkan secara bersama oleh masyarakat. Demokrasi tersebut memberikan satu pedoman dan tata cara hidup bersama di Indonesia. Nilai-nilai demokrasi di dalamnya menjadi sebuah memori kolektif bagi setiap individu sekaligus dijadikan sebagai bahan pertimbangan ketika mereka melakukan tindakan-tindakan. Sehingga pada akhirnya demokrasi menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Mahbub berupaya menunjukkan demokrasi yang bermartabat sebagai sumber legitimasi tatanan sosial di Indonesia, serta sebagai benteng yang tangguh dan egaliter, non-diskriminatif. Hal ini merupakan suatu pengetahuan yang dibutuhkan dalam merawat martabat demokrasi di Indonesia.

Kemudian pemikiran Mahbub Djunaidi mengalami internalisasi atau proses peresapan kembali dan ditransformasikan melalui proses sosialisasi terutama kepada keluarganya, kemudian ditransformasikan ke dunia sosial yang lebih luas, seperti sosialisasi pemikirannya kepada kader-kader NU dan PMII. Transformasi ini dilakukan berdasarkan kesadaran diri bahwa pemikirannya dapat dilanjutkan oleh generasi-generasi selanjutnya.

Indonesia bangga pernah memiliki sosok Mahbub Djunaidi yang menjadi inspirator pemuda lewat tinta-tinta kritisnya. Untuk itu, Mahbub tak akan usai untuk dibicarakan dan didiskusikan. Kata sederhana yang selalu melekat. Menjaga komitmen, daya kritis, membela keadilan itulah yang harus ditiru oleh pemuda Indonesia.