Pelacur

56
Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Les Miserables karya penulis Victor Hugo menghujam jantungku. Fantine, satu di antara karakter yang paling menohok, mencekat, dan membekas dalam pikiranku. Dia seorang pelacur. Fantine mengumpulkan uang demi membiayai hidup anaknya, Cosette yang terpaksa dia titipkan pada satu keluarga karena kondisi hidupnya yang terjepit.

Fantine hidup sebatang kara. Dia ditinggalkan oleh seorang pemuda terpelajar yang menghamilinya, ayah kandung Cosette. Fantine seorang ibu yang dipecat dari pekerjaannya secara tiba-tiba, sebelum menjadi pekerja seks. Sepanjang hidupnya dia bekerja keras sebagai pelacur demi menyelamatkan Cosette. Keluarga yang menampung Cosette jahat, meminta Fantine mengirim uang terus menerus ke keluarga itu.

Hingga suatu hari Jean Valjean, karakter utama dalam novel itu bertemu dengan Fantine. Jean Valjean seorang narapidana yang dihukum di atas kapal belasan tahun hanya karena kelaparan dan mencuri sebongkah roti. Perjalanan hidup Jean Valjean berubah. Ia menjadi walikota di Prancis dan sangat dihormati karena kebaikan-kebaikannya kepada kalangan miskin.

Jean Valjean tersentuh dengan kondisi Fantine. Dia mengangkat Cosette sebagai anaknya. Suatu hari Fantine sakit. Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya terkapar di ranjang. Dia kemudian mati karena sakit keras.

Cosette hidup bersama Jean Valjean hingga akhirnya revolusi Prancis pecah. Cosette terlibat percintaan dengan seorang pemuda yang aktif ikut revolusi, Marius.

Saya berhutang pada Les Miserables, novel sejarah Prancis terbesar abad 19 ini. Les Miserables punya arti orang-orang malang. Dari karya itulah saya berempati dengan para pekerja seks di mana pun mereka berada. Mungkin kalau tak membaca Les Miserables, saya tak punya pijakan untuk belajar tak cepat-cepat menghakimi pelacur.

Buat saya mereka punya hak sebagai pekerja seks dan tak boleh diperlakukan dengan seenaknya. Tak sepatutnya mereka mendapatkan kekerasan dan diskriminasi.

Baca Juga:  Mengapa Jokowi Harus Menang?

Pasar Kembang dan Bong Suwung beberapa kawasan tempat menyambung hidup pekerja seks di Yogyakarta. Saya pergi ke sana, bicara dengan mereka untuk memahami mereka. Saya juga ke kawasan pekerja seks di sekitar Terminal Giwangan, menyeruput jahe di angkringan dan mengobrol.

Menyusuri gang-gang kecil di sekitar Pasar Kembang, saya menemukan warga di sekitar sana menerima mereka dan punya sistem perlindungan tersendiri. Terasa warga dan para pekerja seks saling menjaga.

Di Bong Suwung, saya menyusuri pinggiran rel kereta api yang biasa digunakan untuk bekerja para pekerja seks. Di sekitarnya berdiri rumah-rumah kumuh. Saya hanya melihat saja, tak mau mengganggu mereka saat bekerja.

Perempuan-perempuan bercelana pendek memutari angkringan di kawasan Terminal Giwangan. Pahanya gempal. Sembari menyilangkan kaki, mereka cekikikan. Siang terik tak menyurutkan usaha menarik perhatian orang yang lewat.

Angkringan menjadi semacam etalase. Ada pengunjung yang sekadar mampir. Ada pula yang menawar hingga terjadi kesepakatan harga. “Tawar menawar dimulai di angkringan. Pelanggan mulai dari mahasiswa hingga orang-orang tua,” tutur Layu (nama samaran).

Layu berkisah para pekerja seks banyak mengalami kekerasan psikis maupun fisik dari pelanggan. Pada 2007, ia pernah menerima perlakuan kasar dari seorang pelanggan di bawah pengaruh minuman keras. Kala itu, ia melayani pelanggan di sebuah hotel dengan kesepakatan transaksi pembayaran sebesar Rp200.000. “Pemabuk itu meminta saya melayani lebih dari satu jam. Karena tidak sesuai perjanjian, saya tidak mau. Lalu dia menampar saya,” ucap dia.

Pengalaman buruk Layu yang lain adalah tak dibayar sesuai kesepakatan oleh seorang pelanggan. Layu hanya dibayar Rp50.000 dari kesepakatan sebesar Rp200.000. “Lha kalau tak dibayar utuh saya tak akan dapat uang. Saya harus bayar Rp50.000 ke hotel,” katanya.

Baca Juga:  Karya Seni Dalam Rumah Dengan Kreasi Mural

Menurut dia, para pekerja seks lain di kawasan Giwangan senasib dengan dirinya. Mereka yang bertarif Rp150.000 hanya dibayar separuh harga. Selain itu, mereka harus menanggung risiko dirazia saat menawarkan diri di pinggir jalan.

Layu kini mencoba berdaya dengan menjual kosmetik di kos-kos yang ditempati para pekerja seks di Giwangan. Selain Layu, beberapa pekerja seks yang sudah berumur tua kini bekerja di pabrik rokok, menjahit, dan membuka warung-warung kecil.

Para pekerja seks yang tinggal di kos-kos di Giwangan, kata dia selama ini hidup damai berdampingan dengan masyarakat kampung sekitar. Kadangkala mereka diundang dalam acara-acara kampung.

Pengalaman itu bagian dari liputan yang saya kerjakan dengan sangat antusias. Bagian dari sejumlah liputan bertema pekerja seks bisa dibaca di sini: https://nasional.tempo.co/read/449080/tiga-hari-di-sarkem-dan-bong-suwung

Oh ya liputan itu banyak menuai kritik dan saya mendapatkan cacian di kolom komentar yang diunggah Yahoo. Narasumber saya juga mendapatkan cacian yang sama. Saya paham di tengah standar moralitas yang ada, pekerja seks kerap mendapatkan cap atau stigma yang menyakitkan.

Saya tak pantas menghakimi para pekerja seks sebagai pendosa. Buat saya mereka punya otoritas tubuh yang penuh untuk menjalankan pekerjaan itu. Mereka jauh lebih bermartabat dibandingkan dengan pemerkosa, koruptor, dan politikus yang memainkan sentimen agama dan identitas demi meraih kekuasaannya.

Catatan: tulisan ini resensi Les Miserables kecil-kecilan menjelang berakhirnya puasa Ramadan.
Tulisan ini pernah dimuat di Tempo