Perspektif Pancasila Kekinian Sebagai Pencegahan Radikalisme Agama

113
pancasila
Ilustrasi: Net

Pancasila pada sekarang ini menghadapi banyak ancaman dan tantangan dari sekelompok organisasi masyarakat yang mengatasnamakan Islam seperti ormas HTI yang sering kita dengar menyuarakan untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah di bumi nusantara. Cara yang dilakukan melalui jalan kekerasan seperti aksi yang dilakukan oleh “aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan” di Monas pada 1 Juni 2008, tepat pada hari kelahiran Pancasila yang diserang oleh massa beratribut FPI.

Massa FPI memukuli anggota aliansi kebangsaan dengan berbagai cara, anggota FPI tak berhenti menyerang mereka juga menghancurkan peralatan pengeras suara, merusak dan membakar spanduk. Tercatat 14 orang terluka dan sembilan di antaranya dirujuk ke rumah sakit. Dari peristiwa tersebut kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa bentuk apa pun itu kekerasan tidak dapat dibenarkan karena akan berdampak pada perpecahan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia.

Sementara melihat identitas bangsa kita yang multikultural memiliki beraneka ragam suku, etnis, budaya, agama dan kelompok dari Sabang sampai Merauke tidak mungkin lepas dari Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa yang majemuk. Tanpa kita sadari sebagian besar masyarakat Indonesia hanya menghafal satu persatu sila tanpa menghayati dan memahami secara mendalam, apa makna dari setiap nilai Pancasila yang saling berkaitan satu sama lain.

Pancasila sudah jauh dalam kehidupan sehari-hari, padahal semestinya Pancasila itu menjadi way of life yang dilakukan bukan sekedar muatan pengetahuan. Sejatinya, apabila merefleksikan setiap nilai Pancasila mulai sila ketuhanan sampai pada keadilan sosial, kita sebagai bangsa dapat mewujudkan masyarakat yang harmoni bernafaskan asas gotong royong untuk mencapai suatu hasil yang didambakan sesuai apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita.

Baca Juga:  Daendles, Raffles dan Kolonialisme

Menurut Renan, syarat bangsa adalah kehendak akan bersatu perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Menurut definisi Renan, maka yang menjadi bangsa yaitu satu gerombolan manusia yang mau bersatu yang merasa dirinya bersatu. Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita, Indonesia yang bulat bukan milik agama Islam saja, Hindu saja, Nasrani saja atau Buddha saja, tetapi segenap keperluan yang ditunjuk oleh Allah SWT menjadi satu kesatuan pula sebagaimana dalam surah al-Hujurat ayat 13 bahwa makna persaudaraan adalah harus saling menghargai perbedaan antar umat beragama tanpa mengedepankan egosentris kelompok agama mayoritas terhadap minoritas.

Salah satu cara yang tepat untuk menangkal dan mencegah gerakan radikalisme agama pada saat ini ialah dengan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengapa Pancasila? Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang bersumber dari kearifan lokal (budaya bangsa) dan mengakomodir keragaman. Nilai-nilai Pancasila sangat sarat makna perdamaian, keadilan dan religiusitas.

Pancasila merupakan ideologi yang tidak juga dipisahkan dengan aspek religiusitas maupun spiritualitas di dalam sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa telah dijelaskan bagaimana manusia Indonesia harus memiliki ketuhanan dan keberimanan yang diyakini bagi setiap pemeluk agama. Jadi keberadaan Pancasila memberikan kebebasan bagi setiap warga negara Indonesia dalam melaksanakan ibadahnya dan tidak boleh dipaksakan sebagai mana ujar Pak Abdy Juhana sebagai ketua alumni PA Jawa Barat “tiga relasi dalam nilai Pancasila, pertama individu dengan Tuhannya, kedua individu dengan individu dan ketiga individu dengan negara”. Bahwasanya kita sebagai warga bangsa harus bisa memilah ranah baik kita dengan Tuhan, dengan sesama warga negara dan dengan pemerintahan.

Baca Juga:  Menyoal Keberagaman, Merayakan Perbedaan dalam bingkai Kebangsaan

Dengan demikian melalui pemantapan ideologi Pancasila sebagai dasar negara ,kita berharap dapat menangkis dan membendung ideologi Islam radikal, sikap intoleransi yang merusak tatanan ideologi kita yang sudah final dan diakui sebagai landasan hidup bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika ada kelompok masyarakat atau organisasi keagamaan yang tidak menginginkan Pancasila sebagai ideologi negara, maka berarti mereka telah melanggar undang-undang ormas dan berarti mereka dianggap sebagai pemberontak yang harus ditumpas dan sebisa mungkin dicegah penyebaran ideologi tersebut. Maka diharapkan nilai-nilai Pancasila wajib benar-benar dijalankan oleh masyarakat Indonesia guna mencegah dan meminimalisir radikalisme agama di negeri tercinta kita ini.

Agar warga bangsa dapat mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik dari berbagai elemen organisasi masyarakat, pelajar ikut serta dalam memperingati hari lahir Pancasila yang sudah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2016. Pancasila harus dilestarikan dan diamalkan dalam kehidupan masyarakat. Pancasila sebagai ideologi negara merupakan kristalisasi ide, gagasan, dan kehendak para pendiri bangsa.

Oleh karena itu, setiap kegiatan dari organisasi keagamaan yang ada di perguruan tinggi atau universitas harus memancarkan nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia yang sarat dengan budi pekerti, kearifan, kebijaksanaan dan moralitas harus diimplementasikan oleh setiap organisasi keagamaan di masjid kampus universitas. Pancasila harus dijadikan pijakan dalam proses berorganisasi sebagai upaya benteng pertahanan untuk mencegah gerakan radikalisme, intoleransi, terorisme. Dengan begitu, Pancasila memiliki relevansi yang sangat tepat sekali saat ini sebagai upaya merangkai rasa kebangsaan dan rasa keharmonisan. Karena itu kita hidup negara Indonesia harus taat pada hukum dan falsafah bangsa Indonesia.