Kepada Zulfa
Hanya padamu Zulfa,
Malam yang mulai mengiris tubuhku
Telah meneteskan senyum yang tersulam dari bibirmu
Awan berkerumunan menghampiri rembulan
Memberitakan peristiwa itu pada beburung yang mulai mendengkur di punggung gemintang
Tapi apakah hanya kerlip matamu bergelombang
Membuat berhenti deru lautan mengumandangkan
Kepekatan rasa yang masih mengambang di pesisiran pantai selatan
Barangkali arwah penghujan mengantarkan kita
Menuju bilik-bilik yang telah kita tapaki
Bersama kesetiaan, bersama perasaan
Jika rinduku adalah buih lautan
Akan kukais bersama perahu kecil
Yang di dalamnya aku dan kamu sebagai pengantin
Berlayar mengarungi bentang bahtera
Sebelum senja benar-benar menjadi kecewa.
Arek Lancor, 2020
Prolog Rindu
Saat cipratan air tak mampu memeluk kuntum bunga sepatu di tubuh pagi
Maka basahnya telah mengubur jelaga di mata peri
Tampaklah tempiasnya, menyerap tinta dalam pena
Mewarnai tepian rasa segera lara
Karena mungil tangannya mengasini setiap jeda kata-kata
Bersamaku kumpulkan deraumu menjadi buku
Lembarannya merangkum segala peristiwa
Yang tak selurus garis pemisah frasa
Nomor halaman mengepulkan asap dari puntung rokok setengah terbakar kembang marda
Menyampul lalu menyimpulkan
Bahwa tak perlu judul untuk memulai percakapan sore itu
Tapi apakah awan di bibir senja
Rela menghitamkan semampai tubuhnya
Meneteskan rintik pada cangkir kopi
Maka kuaduk, kucampur dengan gula semanis puisi.
Pesisir Branta, 2020
Mengenang Rasa
Sudah cukup puas
Engkau goreskan cinta namun belum membekas
Sehingga daun penuh rindu
Yang aku semai ketika melepas sendu
Selalu engkau abaikan
Tanpa melambai tangan padaku
Aku cukupkan pada duri mawar
Jangan teruskan langkah yang masih sukar
Untuk menemukan kerling mata
Yang selama ini belum menguncup menjadi rasa
Hanya derap yang selalu mengendap dalam ucap
Perihal mengenang yang ingin selalu ku dekap
Antara turbin rasa cinta
Sehingga lunglai pada sebaris kata
Aku tak hiraukan burung-burung jingga
Yang higgap di ranting jiwa
Tanpa memberi kabar bahagia
Lalu pergi meninggalkan luka.
Pamekasan, 2020
Menatap Bulan Juni
Kalau boleh angan tanggalkan harapan
Pada daun jatuh di kening mentari
Agar senyummu yang menawan
Selalu tersinggung tanpa paksaan
Aku yang mendambakanmu jauh hari
Sebelum Bulan Juni menyapa diri
Barangkali kulihat hujan
Menjelma wajahmu tak berkesudahan.
Prenduan, 2020
Kapal
Kucoba selalu berlayar
Di lautan sabar,
Hingga kutemukan
Senyummu untuk terdampar.
Pesisir Branta, 2020
Bergiat di Komunitas Bengkel Sastra IAIN Madura
Menyukai ini:
Suka Memuat...