Connect with us

Sejarah

Santri, Potret Muslim Nusantara

Published

on

santri
Ilustrasi: Head Topics

Sejarah keberadaan santri di Indonesia dimulai dari keberadaan pesantren (tempat belajar dan menginapnya santri), jauh di abad 15. Pesantren untuk pertama kalinya didirikan oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau lebih akrab disebut Syaikh Bantal atau populer dikenal dengan Sunan Gersik. Tokoh ulama besar dari marga atau dzurriyat Nabi Muhammad SAW yakni Adzmat Khan ini disebut-sebut pencetus pesantren sebagai tempat menimba ilmu agama. Meski kata santri mengadopsi dari bahasa Sangsekerta, cantrik (pelayan atau murid kaum Brahmana dalam Hindu), karena Syaikh Magribi diketahui asal Gujarat India.

Pesantren, bagi Nurcholish Madjid secara historis dinilai tidak hanya mengemban misi dan mengandung nuansa keislaman, tetapi juga menjaga nuansa keaslian (indigenous) Indonesia karena lembaga sejenis telah berdiri sejak masa Hindu-Budha, sedangkan pesantren tinggal meneruskan dan mengislamkan saja.

Pendapat itu diperkuat oleh penelitian dan analisa seorang Antropolog asal Belanda yakni Karel A. Steenbrink bahwa sistem pendidikan pesantren mirip dengan tradisi Hindu (India), mengingat seluruh pendidikannya bersifat agama, guru (kiai) tidak mendapat gaji, ada penghormatan besar terhadap guru, dan letak pendirian pesantren yang jauh di luar kota. Namun Steenbrink juga melihatnya ada nuansa keislamannya yang kental dengan ajaran sufistik dan pola pengajarannya yang dimulai dengan pelajaran bahasa Arab. Ini artinya casing yang Nusantara dengan isi Mekkah dan akhlak Madinah.

Dalam pandangan Abdurahman Saleh, ada kekhasan yang bisa ditemukan di pesantren, seperti pendalaman spiritual keagamaan, kegiatan tafaqquh fi al-din (belajar ilmu agama), melestarikan nilai-nilai keagamaan seperti kesederhanaan, keikhlasan, ukhuwah, kebaktian dan kesewedayaan. Begitu pun kekhasan santri dan pesantren lebih condong pada pengutamaan sosial effect ( درء المفاسد ) dari civil effect ( جلب المصالح ), hingga pesantren pun telah melahirkan pemimpin baik formal maupun informal yang berpengaruh di tengah masyarakat, serta para santri juga ikut menyebarluaskan dakwah Islam, kemudian telah melahirkan umat Islam Indonesia sebagai mayoritas dari tata susunan masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Arkeolog Israel Temukan Masjid Berusia 1.200 Tahun

Santri dilihat sebagai yang agamis adalah orang yang rajin mengamalkan ibadah, dzikiran,  selawatan, semaan Quran, salat berjamaah, puasa wajib dan sunah, dan mengamalkan aurod (banyak wiridan terutama kalimat tauhid atau tahlil).

Santri yang dilihat secara antropologis, mereka jenis individu yang merdeka, hidup sederhana, gotong royong, welas asih, peduli, dan egaliter (mendudukkan sama pada manusia). Jenis manusia kampung tapi dengan keilmuan dan pemikiran yang pluralis serta universalis.

Santri dilihat secara sosiologis, mereka yang dicirikan geisselschaft (guyub), komunal (membaur), toleran, membebaskan orang dengan tidak membebani, dan kuatnya silaturahmi yang ditradisikan. Santri selalu diajarkan berkomunikasi dengan masyarakat, bahkan ada kecenderungan menyatu dengan masyarakat sambil lalu secara halus dan santun membimbing dalam pengamalan syariat Islam.

Santri dilihat sebagai manusia politik, bisa kita temukan banyak santri yang aktif di politik, fungsionaris partai, kader dan juga pengurus organisasi NGO, lembaga komisioner, dan organisasi Ornop. Sebagai warga negara, santri memunyai hak dipilih dan juga ada hak memilih.

Santri sebagai orang yang alim (faqih) bisa menguasai seluruh cabang-cabang ilmu agama, terutama pendalamannya pada bidang fikih. Isi fikih adalah komprehensifitas seluruh pemahaman Islam yang ijtihady. Santri sebagai Human Economicus (manusia yang cenderung berusaha, bisnis dan  dagang). Tak ada cerita santri menjadi miskin, sebab semangat berwirausaha juga ada di diri santri.

Santri lumrah dikatakan sebagai manusia humoris, suatu kehidupan sederhana, guyonnya cerdas dan obat anti pusing. Kebiasaan idkholu  al-sururi (membahagiakan dan menyenangkan orang). Kadang humor tingkat tinggi “ngerjani” satu sama lainnya, telah menjadi potret indah sebuah kehidupan santri yang sederhana, apa adanya, penuh tawa, selalu makan bareng, dan lempar “ledekan”.

Baca Juga:  Jawa Yang Romantis

Jika disimpulkan dengan berbagai sudut yang kita lihat, inilah yang kita katakan santri adalah gambaran insan al-kamil (manusia sempurna), manusia merdeka dan secara positivisme, santri adalah manusia yang memiliki rasionalitas yang cerdas dan kritis.

Kesimpulan bahwa santri yang dibahas di atas adalah sebuah gambaran dari muslim Nusantara, yang rajin ibadah, berakhlak, dan gemar silaturahmi. Keluesan santri adalah sekaligus ketaatan santri pada ajaran Islam, keseharian yang bersahaja, menjaga kebersihan serta membela tanah air tempat mereka kini berpijak.

Advertisement

Popular