SERIKATNEWS.COM – Selama ini, Pancasila dinilai hanya surplus dalam ranah wacana, namun defisit dalam tindakan atau pengamalan.
Ideologi itu belum diposisikan sebagai pendorong perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Pancasila belum menjadi bagian pedoman tingkah laku, belum menjadi alat evaluasi terhadap kebijakan negara,” ujar Deputi I bidang Pengkajian dan Materi Pejabat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Anas Saidi, dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (28/9/2018).
Menurut Anas, sebagai ideologi, Pancasila cenderung jalan di tempat.
Padahal di beberapa negara, misalnya Korea, ideologi menjadi pendorong lahirnya suatu perubahan.
Bahkan, tidak jarang masih muncul wacana kontraproduktif yang justru merupakan langkah mundur, yakni mempersoalkan kembali Pancasila sebagai ideologi bangsa, ditambah lagi ingin mengganti dengan ideologi lain.
“Padahal Pancasila sudah final. Seharusnya sudah tidak lagi mempersoalkan esensi dari ideologi Pancasila, tinggal menjalani,” katanya.
Oleh sebab itu, dia menilai perlu ada upaya serius agar nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehari-hari.
Selain itu, pengajaran Pancasila di sekolah dan perguruan tinggi harus diperkuat lagi agar generasi sekarang dan mendatang tidak semakin asing dengan Pancasila.
“Absennya Pancasila di ruang publik selama dua dekade ternyata membawa implikasi yang tidak sederhana. Anak-anak yang sekarang berumur sekitar 20-30 tahun umumnya tidak memahami sejarah dan esensi dari Pancasila,” ucapnya.
Menurutnya, Pancasila adalah perekat bangsa Indonesia yang majemuk, dan akan sangat berbahaya bagi bangsa ini ke depan bila generasi penerus tidak lagi memahaminya.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...