SERIKATNEWS.COM – Kongres Perempuan Indonesia pertama kali diselenggarakan pada tanggal 22-25 Desember 1928. Acara tersebut bertempat di Yogyakarta, tepatnya di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama yang kini menjadi Museum Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia.
Bermula pada tahun 1952, Ibu Sri Mangunsarkoro menyampaikan gagasannya terkait pembangunan monumen berbentuk gedung untuk memperingati pergerakan perempuan pertama dalam Kongres Perempuan Indonesia yang diadakan di Bandung. Gagasannya disetujui oleh hadirin.
Pada tahun selanjutnya (1953) peletakan batu pertama dilakukan. Ibu Sukonto, Ketua Kongres I terpilih sebagai tokoh yang meletakkan batu tersebut. Di tahun yang sama, dibangun pula Balai Srikandi yang termasuk bagian dari monumen. Balai Srikandi selesai pada tahun 1956 dan diresmikan oleh Maria Ulfah, menteri perempuan pertama.
Dikutip dari Kompas, Kamis (23/02/2023), sampai pada tahun 1959, gedung tersebut menjadi tempat perempuan beraktivitas dalam Kursus Kader Wanita Pembangunan Masyarakat Desa. Selang beberapa tahun (1983), seluruh bagian monumen diresmikan sebagai museum oleh Presiden Soeharto.
Terdapat banyak bangunan dan koleksi benda bersejarah dalam Monumen Museum Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia. Melansir Jogjaprov.go.id, berikut bagian-bagian monumen yang merekam jejak pergerakan perempuan:
- Balai Shinta
- Balai Srikandi
- Balai Kunthi
- Balai Utari
- Wisma Arimbi
- Wisma Sembrodo
Keenam bangunan tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Balai Shinta berbentuk pendopo-joglo. Di dalamnya terdapat dua relief yang menggambarkan pergerakan perempuan dari masa ke masa, yakni dimulai dari masa penjajahan, masa perang kemerdekaan, masa Demokrasi Liberal, masa Demokrasi Terpimpin, dan masa Orde Baru.
Balai kedua, yakni Balai Srikandi merupakan bangunan museum yang memamerkan diorama perjuangan perempuan berupa potret berbagai peristiwa yang melibatkan perempuan, potret tentara perempuan yang mengangkat senjata, pakaian pejuang perempuan, serta mesin jahit dan mesin ketik. Di dalam museum juga terdapat perpustakaan yang mengoleksi karya-karya tulis tokoh perempuan, salah satunya buku R.A. Kartini yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Selanjutnya, Balai Kunthi dan Balai Utari berfungsi sebagai ruang pertemuan, sedangkan Wisma Arimbi dan Sembrodo digunakan untuk penginapan, rapat atau kuliah. Tiket masuk museum tergolong murah, yakni Rp2.000. Hari buka mulai Senin sampai Jumat, pukul 08.00-15.00 WIB dan khusus hari Sabtu, buka pukul 08.00-14.00 WIB.
Kontributor Serikat News Daerah Istimewa Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...