Opini

Telaah Tentang Indonesia Bubar, Benarkah Menjadi Skenario Terburuk Pada 2030?

Ilustrasi fokus (bukan buat insert) Polemik Prediksi RI Bubar 2030 (Andhika Akbaryansyah/detikcom)

Pidato politik Prabowo Subianto, yang saat ini dianggap sebagai rival kuat Joko Widodo dalam Pilpres 2019, tentang Indonesia bubar 2030 menuai kontroversi. Prabowo mengungkapkan perkiraan bubarnya Indonesia pada 2030 tersebut berdasarkan atas novel Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole.

Penggunaan novel, yang merupakan tulisan fiksi, sebagai bahan memperkirakan kondisi suatu bangsa tentu saja akan menjadi perdebatan. Mengingat lazimnya dalam membangun skenario situasi suatu negara adalah berdasarkan analisis data-data dari berbagai indikator yang kompleks dan situasi eksternal yang relevan.

Terkait dengan pidato politik Prabowo Subianto ada dua konteks yang menjadi sorotan, pertama adalah prediksi Indonesia bubar pada 2030, dalam hal ini lebih tepat Indonesia bubar adalah skenario terburuk pada tahun 2030. Konteks kedua adalah penggunaan novel atau karya fiksi sebagai dasar pembuatan prediksi. Hal ini memicu perdebatan karena penggunaan karya fiksi sebagai dasar dari skenario atau prediksi situasi negara tidaklah lazim.

Membuat skenario keadaan suatu negara untuk masa yang akan datang biasa dilakukan oleh para analis strategi, termasuk analis di bidang intelijen. Skenario tersebut dibangun dengan mempertimbangkan kondisi pada masa lalu yang telah terjadi, kondisi saat ini, dan perkiraan yang akan terjadi dengan mempertimbangkan data, fakta, dan trend yang telah terjadi.

 Baca Juga: Skenario AHY dalam Pilpres 2019

Skenario bisa dibuat mulai dari skenario terbaik hingga terburuk. Beberapa analis bisa membuat minimal tiga skenario yaitu skenario optimistis, skenario transformatif (moderat), dan skenario pesimistis. Setelah skenario tersebut dibuat, maka disiapkan masing-masing strategi untuk menghadapi jika skenario tersebut benar-benar terjadi, sehingga ada yang menyebut sebagai strategi tanggap skenario.

Diasumsikan bahwa skenario dibuat untuk tahun 2030, maka perlu dilihat berbagai fenomena yang telah terjadi sebagai bahan analisis. Pada tahun 2030 Indonesia mengalami bonus demografi, yaitu jumlah penduduk produktif lebih besar dari jumlah penduduk non-produktif. Implikasi dari bonus demografi adalah jumlah angkatan kerja lebih menjadi lebih besar, masyarakat usia produktif lebih banyak daripada non produktif.

Skenario-skenario mulai dari terbaik hingga terburuk bisa dibangun untuk Indonesia pada 2030 nanti. Skenario optimistis bisa terjadi jika pemerintah menyiapkan generasi muda dengan pendidikan dan kesehatan yang baik, tersedianya lapangan kerja, adanya regulasi yang mendorong generasi muda mampu bersaing di tingkat regional dan global. Potensi-potensi konflik massa dideteksi dan dicegah sehingga iklim investasi dan pembangunan menjadi kondusif.

Skenario optimistis sangat memungkinkan terjadi di Indonesia melihat kinerja pemerintah yang saat ini sudah melakukan percepatan infrastruktur, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, mempermudah investasi dan pembangunan sehingga bisa menangkap peluangnya ketersediaan tenaga kerja yang banyak pada saat Indonesia mengalami bonus demografi. Faktor untuk mempertimbangkan terbentuknya skenario tentu saja sangat kompleks, tidak hanya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, ketersedian pangan dan energi, situasi politik dan faktor lainnya, tetapi juga faktor eksternal seperti situasi dari berbagai faktor di tingkat regional dan kawasan.

Skenario transformatif, ada yang menyebut juga dengan skenario moderat, adalah skenario yang kondisinya diantara skenario terbaik dan terburuk. Biasanya dalam skenario ini terkait situasi negara, ada beberapa ancaman dan gangguan yang terjadi namun negara mampu mengatasinya. Berbeda dengan skenario terbaik atau optimistis yang semua baik-baik saja. Skenario ini biasanya yang banyak terjadi dan menjadi situasi sesungguhnya.

Skenario pesimistis, atau ada yang menyebut juga skenario terburuk, dimungkinkan terjadi jika sistem pertahanan dan keamanan negara sudah tidak mampu mengatasi berbagai ancamam negara. Tentu saja ancaman dan gangguan yang mampu membuat sebuah negara, seperti Indonesia, menjadi bubar, adalah ancaman dan gangguan yang mengakibatkan dampak luar biasa, misalnya kudeta bersenjata atau serbuan dari negara lain yang membuat negara menjadi lumpuh.

Tentu saja untuk negara Indonesia kemungkinan untuk menjadi bubar tidaklah mudah. Negara Indonesia saat ini dinilai mempunyai sistem pertahanan dan keamanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonominya optimis dapat terus maju. Hubungan dengan negara lain cukup baik, terutama dengan posisi Indonesia yang non blok dan bebas aktif, selain itu Indonesia juga mempunyai peran penting di tingkat regional maupun global.

Meskipun demikian, strategi untuk mencegah dan menghadapi masing-masing skenario yang mungkin terjadi di Indonesia tetap perlu disiapkan. Tanpa membuat kegaduhan di masyarakat, apalagi dengan menciptakan suasana yang pesimis, strategi tanggap skenario untuk kemungkinan terburuk harus disiapkan dan diuji agar prediksi Indonesia akan bubar tidak terjadi.

Membangun dan membawa Indonesia untuk lebih maju harus dengan sikap optimis, namun tetap waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Peran para analis dan ahli strategi untuk membangun skenario dan menyiapkan strategi sangat penting terutama bagaimana skenario dan startegi tersebut dapat dikomunikasikan dan diimplementasikan tanpa membuat kegaduhan.

Meskipun ada pihak tertentu yang karena kebutuhan politiknya memerlukan bahan propaganda untuk meningkatkan elektabilitasnya, namun kepentingan utama warga negara tetap harus diutamakan, yaitu untuk dapat hidup dengan aman dan damai yang dilindungi oleh negaranya. Salah satu wujud negara dalam melindungi warganya adalah menjaga situasi tetap kondusif dan optimis dalam menatap masa depan.

Pengamat Intelijen, Mahasiswa Doktoral Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia.

Popular

To Top