SEMARANG – Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Semarang menggelar diskusi dan bedah buku Islam dan Sosialisme karya HOS Tjokroaminoto serta Sosialisme dalam Pemikiran Ali Syari’ati di Kampoeng Banyumili, Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Selasa (3/11/2026).
Diskusi yang diikuti sekitar 30 peserta tersebut membahas relevansi pemikiran kedua tokoh dalam menjawab persoalan ketimpangan sosial dan ekonomi. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang merumuskan arah gerakan politik melalui gagasan Praksis Politik Babak Baru. Diskusi tersebut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Edimancoro, Tuntang, Kabupaten Semarang, KH Muhammad Hanif atau yang akrab disapa, Gus Hanif.
Ketua DPC PKB Kabupaten Semarang Fauqi Hapidekso mengatakan, bedah buku tersebut bertujuan memperluas pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai hubungan antara nilai-nilai Islam, keadilan sosial, dan perjuangan ekonomi rakyat.
Menurut dia, pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati penting untuk dikontekstualisasikan dengan persoalan masyarakat saat ini. Politik harus mampu menghadirkan solusi atas ketimpangan dan kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat. “Diskusi ini diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis. Gagasan keadilan sosial harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Fauqi.
Dia menilai, salah satu agenda penting yang perlu diperkuat adalah pembangunan ekosistem ekonomi rakyat. Pesantren, koperasi, Baitul Maal wat Tamwil (BMT), usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta optimalisasi Dana Desa dapat menjadi instrumen untuk memperluas akses ekonomi masyarakat. Pesantren, misalnya, tidak hanya berperan dalam pendidikan dan dakwah, tetapi juga dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Sementara koperasi dan BMT berpotensi memperluas akses pembiayaan yang lebih terjangkau bagi pelaku usaha kecil.
Upaya tersebut, lanjut Fauqi, sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. “Politik Islam harus memiliki keberpihakan yang jelas kepada masyarakat kecil. Jangan sampai masyarakat terus terjebak dalam praktik ekonomi yang merugikan, seperti pinjaman online ilegal, sistem rente, tengkulak yang menekan harga hasil pertanian, hingga monopoli pasar yang mematikan usaha kecil,” katanya.
Sementara itu, Gus Hanif menjelaskan bahwa pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati memiliki kesamaan dalam keberpihakan terhadap masyarakat kecil dan kritik terhadap sistem sosial-ekonomi yang melahirkan penindasan.
Dalam pemikiran Tjokroaminoto, tauhid tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjadi landasan persaudaraan, persamaan derajat, dan keadilan sosial. Prinsip tersebut menjadi dasar kritik terhadap kapitalisme yang eksploitatif, monopoli, serta praktik ekonomi yang merugikan rakyat.
Adapun Ali Syari’ati menekankan pentingnya pembebasan manusia dari struktur sosial dan kekuasaan yang menindas. Islam, menurut perspektif pemikirannya, harus mampu membangun kesadaran untuk melawan ketidakadilan, bukan sekadar menjadi ajaran yang pasif.
“Islam bukan hanya berbicara tentang hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengajarkan keberpihakan nyata kepada kaum lemah, melawan ketidakadilan struktural, dan memperjuangkan kehidupan sosial yang lebih adil,” ujar Gus Hanif.
Gus Hanif juga membahas konsep Rausyanfikr atau intelektual yang tercerahkan dalam pemikiran Ali Syari’ati. Konsep ini menggambarkan sosok intelektual yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan keberanian mengambil peran dalam perubahan sosial.
Menurut dia, intelektual tidak cukup hanya menghasilkan pemikiran dan teori. Pengetahuan harus diwujudkan melalui kerja nyata, termasuk membangun kesadaran masyarakat dan memberdayakan kelompok yang lemah.
Dalam diskusi tersebut, peserta juga membahas emansipasi dan pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari perjuangan membangun masyarakat yang setara. Gus Hanif menilai ruang aktualisasi perempuan semakin terbuka, termasuk di lingkungan pesantren.
“Perempuan kini memiliki kesempatan lebih luas untuk berkiprah dalam pendidikan, profesi, karya sastra, serta kehidupan sosial dan politik. Karena itu, kesempatan tersebut perlu terus diperkuat agar perempuan memiliki ruang yang setara untuk berkontribusi dan mengembangkan kapasitasnya,” ucapnya.
Gus Hanif juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam tradisi intelektual. Perbedaan pandangan antara seseorang dengan guru maupun tokoh yang menjadi rujukannya merupakan hal yang wajar. Pengalaman, bacaan, dan lingkungan sosial turut membentuk cara seseorang memahami persoalan. Dengan demikian, diskusi seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan, bukan tempat menyeragamkan pemikiran.
Melalui bedah buku tersebut, DPC PKB Kabupaten Semarang mendorong agar pemikiran sosialisme Islam tidak berhenti sebagai wacana intelektual. “Gagasan tersebut perlu diterjemahkan menjadi agenda politik yang konkret, terutama dalam memperkuat ekonomi rakyat, memperluas kesempatan yang setara, dan melindungi masyarakat dari praktik ekonomi yang eksploitatif,” pungkas Fauqi. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.