Oleh: Made Bryan Mahararta (Pegiat Literasi Kebangsaan, Co-founder Sociocorner)
BEBERAPA hari terakhir, wilayah Banten, Jakarta dan sekitarnya kembali terdampak letusan Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik halus menyebar luas, mengubah warna langit menjadi kelabu pucat, menutupi permukaan jalan, atap rumah, dan kendaraan, serta mengganggu penerbangan dan aktivitas harian ribuan warga.
Di tengah peristiwa yang sama ini, kita menyaksikan beragam tanggapan: ada yang bersiap lengkap dengan masker dan perlindungan diri, ada yang merasa cemas berlebihan, ada pula yang menganggap hal ini biasa saja dan tidak perlu terlalu khawatir. Mengapa satu peristiwa fisik yang sama bisa dipahami, dirasakan, dan direspons dengan cara yang sangat berbeda oleh masyarakat?
Pertanyaan inilah yang mengantarkan kita pada pandangan sosiologi fenomenologis, sebuah cara pandang yang mengajarkan bahwa kenyataan yang kita yakini bukanlah sesuatu yang tunggal, mutlak, atau datang begitu saja dari luar diri kita, melainkan dibentuk, dimaknai, dan dibangun kembali oleh setiap individu maupun kelompok berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki.
Fenomenologi Bencana
Dalam pandangan fenomenologi, terutama yang dikembangkan oleh sosiolog Alfred Schutz, manusia hidup dalam apa yang disebut “dunia kehidupan” yakni dunia sehari-hari yang kita anggap wajar, sudah biasa, dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Di dalamnya, kita membawa serta apa yang disebut “cadangan pengetahuan” sebuah kumpulan pengalaman masa lalu, kebiasaan, informasi yang pernah kita terima, dan pandangan yang sudah terbentuk sebelumnya.
Ketika sesuatu yang tidak biasa terjadi seperti abu vulkanik turun ke lingkungan tempat kita tinggal menyebabkan keteraturan yang biasa kita jalani terganggu. Saat itulah kita mulai bertanya: apa yang terjadi? Apakah ini berbahaya? Seberapa besar dampaknya? Apa yang harus saya lakukan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya ditentukan oleh data ilmiah atau fakta fisik semata, tetapi sangat bergantung pada bagaimana kita memahami dan memberi makna pada apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan.
Dari sudut pandang fenomenologi: “bencana” bukan sekadar kejadian fisik melainkan adalah apa yang kita pahami, rasakan, dan maknai. Setiap orang bisa memahami bahaya dengan cara berbeda, tergantung pengalaman dan informasi yang didapat. Warga yang tinggal di sekitar kawasan gunung berapi tentu memiliki pengalaman berulang menghadapi kejadian serupa, sehingga mereka sudah memiliki kerangka pemahaman sendiri kapan harus waspada, apa yang harus disiapkan, dan tahu batas apa yang perlu diwaspadai.
Sebaliknya, warga yang tinggal di kawasan perkotaan besar dan jarang bersentuhan langsung dengan fenomena alam semacam ini akan melihatnya sebagai hal baru, asing, dan belum tentu dimengerti sepenuhnya. Bagi sebagian warga bisa berarti ketidakpastian yang besar, kekhawatiran akan kesehatan, atau gangguan pada rutinitas yang sudah teratur. Di sini terlihat jelas definisi tentang bahaya, risiko, atau bahkan apa yang disebut sebagai bencana itu sendiri, lahir dari proses pemahaman sosial yang beragam, bukan hanya dari angka atau peta risiko yang ditulis di atas kertas.
Keragaman cara memahami inilah yang menjadi titik pertemuan paling penting antara fenomenologi, kehidupan bermasyarakat, dan peran media penyiaran. Dalam teori konstruksi sosial realitas yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, media tidak sekadar berfungsi sebagai alat perekam atau penyampai berita.
Peran Media Penyiaran
Media adalah salah satu lembaga sosial utama yang berperan besar dalam membentuk, menyebarkan, dan memperkuat apa yang dianggap sebagai “kenyataan” oleh masyarakat luas. Apa yang ditayangkan, bagaimana disajikan, apa yang ditekankan, dan apa yang tidak disampaikan sama sekali semua hal itu ikut membentuk kerangka pandang masyarakat tentang apa yang benar, apa yang penting, apa yang berbahaya, dan apa yang boleh diabaikan.
Di sinilah peran media penyiaran sangat krusial yang tidak hanya menyampaikan berita melainkan ikut membentuk apa yang masyarakat anggap nyata dan benar. Ketika media penyiaran menyajikan informasi secara lengkap, akurat, berimbang, dan disertai penjelasan konteks yang mudah dipahami, masyarakat akan mendapatkan dasar yang kuat untuk membangun pemahaman yang terukur, tenang, dan bertanggung jawab.
Misalnya, ketika informasi mencakup data resmi dari lembaga berwenang, penjelasan tentang karakteristik abu vulkanik, saran perlindungan diri yang jelas, serta penghargaan terhadap beragam pengalaman warga di berbagai daerah maka pemahaman publik pun terbentuk secara sehat berupa kesadaran akan risiko, namun tidak melahirkan kepanikan yang berlebihan.
Namun sebaliknya, jika informasi yang disampaikan tidak lengkap, berlebihan, berat sebelah, atau bahkan tidak terverifikasi, maka media justru ikut melahirkan ketidakpastian, prasangka, dan ketegangan sosial. Ketika hanya narasi yang menakutkan yang diperkuat, masyarakat cenderung melihat bahaya di mana-mana, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya tidak berisiko besar.
Tanggung jawab ini jauh lebih besar daripada sekadar tugas pekerjaan sehari-hari. Media penyiaran memiliki jangkauan yang luas, menjangkau beragam lapisan masyarakat, beragam latar belakang budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup. Di tengah keberagaman Indonesia, peran media adalah menjadikan perbedaan cara pandang itu bukan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai kekayaan pemahaman bersama.
Artinya, kita tidak boleh hanya menyampaikan satu versi kebenaran seolah-olah itu satu-satunya kenyataan yang ada. Kita harus mampu menunjukkan bahwa ada banyak cara memahami sesuatu, namun di atas semuanya itu, ada kepentingan bersama yang harus dijaga: keselamatan, kesejahteraan, dan persatuan bangsa. Persatuan tidak berarti semua orang harus berpikir sama atau merasakan hal yang sama. Persatuan berarti kita mampu hidup berdampingan dengan menghargai bahwa pengalaman dan pemahaman orang lain juga nyata, juga sah, dan juga layak didengar.
Dalam konteks bencana, ini tidak boleh memaksakan satu ukuran pemahaman kepada semua orang dan berusaha menyampaikan informasi yang cukup lengkap agar setiap orang bisa membangun pemahamannya sendiri dengan benar, namun juga membuka ruang agar setiap pengalaman bisa saling dipahami.
Peristiwa sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ini mengajarkan satu hal penting mengenai bencana alam, yaitu fakta fisik yang bisa terjadi kapan saja, namun dampak sosial dan psikologis yang muncul setelahnya itu adalah hasil dari cara kita memahami, berkomunikasi, dan bertindak bersama.
Pada akhirnya, media penyiaran memegang peran kunci dalam proses itu. Karena apa yang kita anggap nyata, benar, dan penting pada akhirnya akan menentukan bagaimana kita hidup bersama, menjaga satu sama lain, dan membangun masa depan bangsa ini. Dan itulah tanggung jawab terbesar yang harus selalu kita pegang teguh bahwa setiap kata yang disampaikan, setiap berita yang ditayangkan adalah bagian dari pembangunan realitas sosial Indonesia.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.