BATAM — Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan kawasan Tanjung Banon, Rempang Eco City, Batam, Kepulauan Riau, menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Upaya tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Festival Transmigrasi 2026 dan Doa untuk Negeri yang digelar di SP 1 Tanjung Banon, Sabtu (10/10/2026).
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, keberhasilan pengembangan kawasan transmigrasi tidak cukup diukur dari ketersediaan rumah dan fasilitas dasar. Aktivitas ekonomi yang berkelanjutan perlu dibangun agar masyarakat memiliki sumber penghasilan dan mampu mengembangkan potensi wilayahnya secara mandiri.
“Acara Festival Transmigrasi seperti ini sebenarnya juga adalah pengejawantahan bahwa kalau ada aktivitas ekonominya, masyarakat juga akan berbondong-bondong datang kemari,” ujar Iftitah.
Menurutnya, penciptaan kegiatan ekonomi menjadi bagian penting dari upaya menjadikan kawasan transmigrasi sebagai tempat yang produktif. Pemerintah mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga terlibat aktif dalam pengembangan usaha dan pemanfaatan sumber daya lokal.
“Intinya masyarakat harus punya pekerjaan, masyarakat harus punya pendapatan,” tuturnya.
Sementara itu, dorongan untuk memperkuat kemandirian ekonomi tersebut sejalan dengan temuan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) di kawasan Rempang Eco City.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI Kawasan Transmigrasi Barelang, Vishnu Juwono, menyampaikan bahwa survei terhadap 172 kepala keluarga pada Agustus–September 2026 menunjukkan 94 persen responden berencana tetap tinggal di kawasan tersebut.
Survei yang dilakukan melalui wawancara langsung dari rumah ke rumah itu juga menemukan 87 persen responden merasa nyaman dan aman, 83 persen menilai pembinaan yang diberikan bermanfaat, dan 64 persen menyatakan kondisi ekonomi keluarga mereka lebih baik setelah menempati kawasan tersebut.
Namun, persoalan pekerjaan dan pendapatan masih menjadi tantangan. Sebanyak 42 persen responden tidak bekerja, sementara 40 persen memiliki pendapatan di bawah Rp1,5 juta.
“Sebanyak 94 persen mereka berencana tetap tinggal,” kata Vishnu.
Ia menilai hasil survei tersebut perlu ditindaklanjuti dengan pendampingan yang sesuai kebutuhan masyarakat, terutama untuk membuka peluang usaha dan menciptakan sumber penghasilan berkelanjutan.
“Kita mau memastikan bahwa nanti pada saat ada perubahan kebijakan, mereka jadi tidak terlalu tergantung lagi pada bantuan pemerintah,” ujarnya.
Lebih lanjut, untuk memperkuat ekonomi masyarakat, Tim Ekspedisi Patriot UI telah melakukan kajian potensi kawasan Barelang selama empat bulan pada 2025. Hasil kajian tersebut menjadi dasar pelaksanaan pendampingan pada 2026, dengan fokus pada sektor pertanian, perikanan, pariwisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu hasil pendampingan adalah fasilitasi pengurusan nomor induk berusaha (NIB) bagi 20 UMKM setempat. Program tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memperkuat legalitas dan mengembangkan kegiatan ekonomi mereka.
Pendampingan Tim Ekspedisi Patriot UI dijadwalkan berlangsung hingga akhir November 2026. Keberlanjutan program diharapkan dapat didukung perguruan tinggi dan lembaga pelatihan di Batam agar pemberdayaan masyarakat tetap berjalan setelah program berakhir.
Selain itu, Kementerian Transmigrasi menggandeng kalangan akademisi internasional melalui program Summer School dari Technical University of Munich (TUM), Jerman. Berdasarkan kajian lapangan, TUM menyampaikan empat rekomendasi pengembangan kawasan, yaitu pengelolaan lahan melalui pendekatan agroforestri, penanganan isu lingkungan, penguatan komunitas, dan pengembangan pariwisata bahari.
Rekomendasi tersebut akan menjadi bahan tindak lanjut bersama tim lapangan untuk mengoptimalkan potensi kawasan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Pemko Batam Dorong Pembangunan Berbasis Potensi Lokal
Wali Kota Batam Amsakar Achmad turut mendorong agar pengembangan Tanjung Banon dilakukan melalui perencanaan matang dan kajian yang sesuai dengan kondisi lapangan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan perguruan tinggi diperlukan untuk memastikan pembangunan menjawab kebutuhan warga.
“Acara ini merupakan momentum yang baik untuk menyatukan semangat dan membangun optimisme masyarakat. Mudah-mudahan kegiatan ini menyemangati warga yang ada di sini agar lebih optimal menjadikan kawasan ini sebagai wilayah yang produktif, berkembang, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Amsakar.
Ia menilai potensi UMKM, pertanian, perikanan, dan pariwisata perlu dikembangkan untuk memperluas kesempatan usaha serta lapangan kerja. Kajian mengenai pemanfaatan lahan dan kelestarian lingkungan juga diperlukan agar pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan keberlanjutan kawasan.
Sementara itu, Mery Lelina, warga transmigrasi lokal asal Blongkeng yang telah menempati Rempang Eco City hampir satu tahun, mengaku memperoleh pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan dan pengolahan hasil perikanan menjadi produk pangan.
Ia berharap pendampingan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi terus berlanjut hingga masyarakat mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
“Kami berharap nanti Pak Menteri pun selalu memantau kami terus. Biarpun kami sudah agak berapa tahun di sini jangan dilepas,” ucap Mery.
Melalui Festival Transmigrasi 2026, Kementerian Transmigrasi menegaskan pentingnya pengembangan kawasan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan permukiman, tetapi juga pada penciptaan pekerjaan, penguatan usaha masyarakat, dan peningkatan pendapatan warga.
Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Rempang yang lebih inklusif, sehingga masyarakat setempat dapat mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang berkembang di Batam dan sekitarnya.