JAKARTA — Siapa bilang musik klasik itu kuno, kaku, dan hanya dinikmati oleh generasi tua? Di tangan generasi milenial Indonesia, musik klasik justru menemukan ruang baru, lebih dinamis, kontekstual, dan inklusif. Tak hanya didengar lewat playlist fokus kerja di Spotify atau video meditatif di YouTube, musik klasik kini menjadi gaya hidup, bahkan ladang kompetisi yang sehat dan penuh semangat.
Salah satu ajang yang menjadi magnet bagi musikus muda Tanah Air adalah Kompetisi Piano Nusantara Plus, yang kini menjadi salah satu kompetisi musik klasik terbesar dan paling inklusif di Indonesia. Tahun ini, wilayah Jabodetabek dibagi menjadi tiga region untuk menampung antusiasme peserta yang terus membludak.
Tiga kota menjadi tuan rumah pada waktu berbeda: Bekasi (27–28 September), Tangerang (5 Oktober), dan Jakarta (7 Desember). Bahkan bagi peserta dari wilayah Jawa Barat yang belum cocok dengan tiga tanggal tersebut, tersedia satu lagi opsi di Bandung, yakni pada 7 September.
“Plus” dalam nama kompetisi ini bukan sekadar hiasan. Artinya: terbuka bukan hanya untuk pianis, tapi juga untuk musikus dari semua instrumen klasik serta vokalis. Tahun lalu, ajang ini mencatat rekor jumlah peserta sebanyak 477 musikus dari delapan kota di Indonesia, menandai kebangkitan minat terhadap musik klasik di kalangan generasi muda.
Setiap region menghadirkan juri yang tak hanya mumpuni dalam bidangnya, namun juga memiliki visi edukatif dan profesionalisme tinggi. Sang maestro Ananda Sukarlan, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam dunia musik klasik Indonesia, akan memimpin penjurian dengan didampingi para juri muda yang juga merupakan alumnus kompetisi Ananda Sukarlan Award:
-
Akina Selena di Bekasi & Cikarang
-
Sofi Natalia di Tangerang
-
Vivianne Laurence di Jakarta
-
Gwynn Elizabeth Sutanto di Bandung
Mereka bukan nama sembarangan. Ketiganya merupakan pianis muda berbakat yang sudah menorehkan prestasi di berbagai panggung internasional, sekaligus pengajar dan pelopor pendidikan musik klasik yang aktif membina generasi berikutnya.
Dalam sebuah pernyataan, Ananda Sukarlan menegaskan bahwa kompetisi ini bukan hanya ajang adu teknik, tetapi juga ruang literasi musikal yang dapat melawan arus kebodohan dan misinformasi di era media sosial. “Media sosial melahirkan banyak influencer yang bukan ahli di bidangnya, tetapi justru paling didengar. Ini bisa membentuk pemahaman yang keliru, termasuk terhadap musik klasik,” ujarnya. Menurutnya, pendidikan dan eksposur internasional bagi musikus muda sangat penting untuk melahirkan generasi yang mampu bersaing secara global sekaligus tetap memiliki akar budaya yang kuat.
Profil Para Juri Muda: Jejak Prestasi di Panggung Dunia
-
Vivianne Laurence adalah lulusan Master of Music dari Manhattan School of Music dan telah meraih berbagai penghargaan internasional, seperti Juara 1 di 2025 International Music Competition “Vienna” Grand Prize Virtuoso dan Gold Award di WPTA Finland. Ia juga mendirikan Alta Music Indonesia, lembaga pendidikan musik untuk anak usia dini dan pianis pemula.
-
Sofi Natalia, lulusan Hamburg Konservatorium Jerman, telah tampil di berbagai panggung internasional seperti Blurred Edges Festival di Hamburg dan Konserto Bach di Victoria Concert Hall, Singapura. Ia kini aktif sebagai pengajar dan juri, serta pembimbing mahasiswa yang ingin melanjutkan studi musik ke Jerman.
-
Akina Selena meraih gelar Master dengan predikat Summa Cum Laude dari Boston University dan pernah menjadi finalis Ananda Sukarlan Award. Ia juga memperoleh prestasi tinggi dalam berbagai kompetisi piano Asia dan kini aktif mengeksplorasi pedagogi musik serta teknik pertunjukan historis.
Kompetisi ini merupakan kelanjutan dari jejak panjang Ananda Sukarlan dalam mendidik dan membina musikus klasik muda Indonesia. Bersama tokoh seperti Pia Alisjahbana, Dedi Panigoro, dan Patrisna May Widuri, ia merintis berbagai ajang seperti Ananda Sukarlan Award dan Kompetisi Tembang Puitik, yang kini bertransformasi menjadi ekosistem berkelanjutan dalam musik klasik Indonesia.
Dengan semangat kolaborasi lintas generasi dan keterbukaan terhadap semua instrumen serta gaya, Kompetisi Piano Nusantara Plus bukan hanya ajang bergengsi, tetapi juga simbol bahwa musik klasik Indonesia tengah mengalami renaisans—ditopang oleh generasi muda yang cerdas, kreatif, dan siap tampil di panggung dunia. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...