PROBOLINGGO – Gelombang penolakan terhadap aksi premanisme dan kegaduhan mencuat di Kabupaten Probolinggo, Senin (5/1/2026). Ribuan warga turun ke jalan menyuarakan keresahan mereka.
Massa yang tergabung dalam gerakan Jogo Probo menyatakan aksi tersebut sebagai luapan kejenuhan. Mereka menilai maraknya demonstrasi sejumlah LSM kerap memicu kegaduhan dan mengganggu stabilitas daerah.
Aksi warga berlangsung spontan. Pemicu utamanya adalah beredarnya rencana unjuk rasa dari kelompok kecil LSM yang selama ini dianggap sering memperkeruh suasana.
Di lokasi aksi, jumlah massa Jogo Probo terlihat sangat dominan. Aksi Aliansi LSM yang hanya diikuti sekitar sepuluh orang nyaris tak terlihat di tengah lautan warga.
Peserta aksi datang dari berbagai kalangan. Pemuda hingga tokoh masyarakat menyuarakan penolakan terhadap kegaduhan yang dinilai berulang dan tidak substansial.
Sejumlah warga mengaku lelah dengan ancaman demonstrasi yang terus muncul. Mereka menilai kondisi tersebut berdampak pada tersendatnya pembangunan daerah.
Salah satu peserta aksi, Rudy, menyebut demonstrasi berulang telah melampaui fungsi kontrol sosial. Menurutnya, banyak aksi justru sarat kepentingan kelompok.
“Kami bergerak atas kesadaran sendiri. Terlalu sering demo tanpa arah dan hanya menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Rudy menegaskan, masyarakat membutuhkan suasana kondusif agar pelayanan publik dan pembangunan berjalan optimal. Kritik, katanya, harus disampaikan secara bertanggung jawab.
Gerakan Jogo Probo juga dibaca sebagai dukungan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Warga menegaskan tidak menolak kritik, namun menentang cara-cara provokatif.
Koordinator Lapangan Jogo Probo, Imron, menyebut aksi tersebut sebagai wujud kepedulian warga terhadap masa depan Probolinggo.
Ia menggambarkan Jogo Probo sebagai “pagar betis” rakyat untuk menjaga daerah dari konflik dan instabilitas.
“Kami bergerak karena hati nurani. Probolinggo adalah rumah kami,” tegas Imron.
Ia mengimbau pihak-pihak yang kerap menggelar aksi agar melakukan introspeksi. Menurutnya, kekuatan masyarakat jauh lebih besar jika kegaduhan terus dipelihara.
“Kami ingin Probolinggo aman, nyaman, dan pembangunannya tidak terganggu,” pungkasnya.
Menyukai ini:
Suka Memuat...