SERIKATNEWS.COM – Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsi beberapa pekan terakhir ini. Namun, Pakar Geologi, Surono, menilai erupsi yang terjadi di Gunung Tangkuban Parahu belum berstatus membahayakan masyarakat sekitar.
“Kalau prediksi saya, erupsi ini pun tidak akan sampai ke level lebih tinggi,” mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono (Mbah Rono) dalam diskusi ‘Ngobrol Serius Kebencanaan’ di Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, akhir pekan ini.
Mbah Rono menjelaskan, sejak memasuk abad ke-19 erupsi yang terjadi di gunung Tangkuban Parahu tidak pernah benar-benar besar. Walaupun masuk dalam kategori gunung berapi aktif, tapi erupsi yang ada hanya masuk kategori freatik bukan magmatik.
“Saya pikir tidak membahayakan letusan seperti ini. Pada 2013 juga letusannya masih sama,” ujarnya.
Mbah Rono mengatakan bahwa hal yang berbahaya di tempat wisata Tangkuban Parahu adalah mitigasi kebencanaan yang diberikan pengelola kepada masyarakat sekitar maupun wisatawan yang datang ke sana. Karena, selama ini kurangnya mitigasi membuat warga sering panik ketika berada dekat dengan bencana.
Misalkan, lanjut Mbah Rono, saat erupsi freatik kemarin di Tangkuban Parahu, wisatawan atau masyarakat yang ada berhamburan ke luar pintu kawasan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Mereka, memacu kendaraan sekencang mungkin agar bisa terhindar abu vulkanik.
“Jadi yang dikhawatirkan pada saat letusan mereka lari menggunakan mesin, kemudian menabrak orang lain. Itu yang membuat ada korban dalam bencana,” kata Mbah Rono.
Padahal, menurutnya, ketika masyarakat sekitar sudah paham akan mitigasi bencana dan kondisi sekitar maka mereka bisa mengarahkan wisatawan yang ada untuk melakukan atau berjalan ke arah mana untuk meminimalkan dampak bencana.
Akan tetapi, selama ini mitigasi kebencanaan tidak marak dilakukan di tempat yang memang diprediksi bisa menimbulkan bencana baik sekitar gunung berapi, longsor, hingga pantai. Menurutnya, pemerintah daerah setempat atau pengelola kawasan yang dijadikan daerah pariwisata enggan menghamburkan uang untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat.
Selama ini, di daerah kawasan bencana mayoritas mengandalkan rambu-rambu yang dipasang guna memberitahu masyarakat ke mana mereka harus berlari untuk menghindari bencana. Padahal mitigasi kebencanaan lebih dari sekadar papan peringatan.
“Kita belum ke arah sana karena masih dianggap cost-nya terlalu mahal,” katanya.
Padahal, kata dia, dengan pembelajaran mitigasi bencana masyarakat di sekitar Tangkuban Parahu, bisa tahu harus membangun bangunan di mana dan seperti apa. Kemudian, ketika terjadi bencana apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri.
Terkait erupsi di kawah Gunung Tangkuban Parahu, Mbah Rono mengimbau pihak pengelola bisa menyampaikan kondisi terbaru daerah tersebut. “Jangan sampai, pengelola memberikan informasi yang salah,” tegasnya.
Berdasarkan data terbaru, maka masyarakat maupun wisatawan yang datang ke sana bisa menyiapkan antisipasi jikalau terjadi bencana. “Jadi pengelola harus jujur bagaimana kondisi sekarang supaya masyarakat bisa lebih waspada,” katanya.
Saat ini, Kawah Ratu di Gunung Tangkuban Parahu dengan tempat pengunjung cukup dekat. Oleh karena itu, Mbah Rono pun mengimbau agar pengelola bisa memberikan data teraktual atas situasi kawah.
“Kalau kondisi normal bolehlah dekat-dekat. Dan anjurkan wisatawan kalau sudah matahari tenggelam itu tidak di daerah gunung berapi,” katanya.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...