Dua hari ini jagad media, baik media mainstream maupun media sosial diramaikan dengan berita serta foto ‘pelukan politik’ antara dua capres Pemilu 2019. Momen tak terduga dan tanpa skenario ini dipicu oleh Hanifan Yunadi Kusuma anak muda perebut medali emas Asian Games 2018 cabang Pencak Silat. Hanifan yang sedang melampiaskan sukacita kemenangannya dengan bersaput bendera merah putih berlari ke podium kehormatan yang dihadiri Presiden RI Joko Widodo, Wakil
Presiden RI Jusuf Kalla, Presiden ke-5 RI Megawati, Ketua IPSI Prabowo Subianto, dan sejumlah menteri serta pejabat lainnya.
Setelah menjabat tangan semua petinggi negeri diatas podium, tak terduga Hanifan menggamit pundak Jokowi dan Prabowo serta menyatukan mereka dalam pelukan. Dahsyat, efeknya dahsyat. Pelukan politik yang fenomenal itu dipicu oleh seorang milenials dan terjadi dalam event olahraga yang penuh sportivitas, dalam cabang olahraga asli Indonesia.
Ini gestur yg baik menjelang Pemilu 2019. Pemilu itu adalah puncak dari pesta demokrasi yg rangkaiannya akan dimulai pertengahan September ini saat pengambilan nomor urut peserta Pemilu.
Banyak pesan yg ada dalam pelukan itu, bahwa olahraga yang sarat semangat sportivitas berhasil menjadi alat pemersatu, dan kaum milenials yg diwakili pesilat Hanifan adalah media pemersatu dua kubu Capres yg nantinya berkontestasi.
Rakyat Indonesia menyambut baik apa yg terjadi di arena Pencak Silat ini, rakyat sudah muak dengan perpecahan, rakyat rindu perdamaian yg sejuk. Mari kita bersenang2 dlm pesta demokrasi Pilpres 2019, begitu kira-kira pesan yang ditangkap dari eforia rakyat Indonesia.
Ketenangan Jokowi dalam menyikapi begitu banyak serangan baik kritik maupun fitnah membuat Asian Games 2018 yang berusaha digoyang sebagai ajang buang-buang duit ini akhirnya bisa ditepis secara halus. Asian Games 2018 adalah kebanggaan seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya kebanggaan Jokowi. Indonesia dipuji bahkan dikagumi karena bisa membuat tontonan opening ceremony berkelas dunia.
‘Pelukan politik’ Wowo Wiwi ini menjadi gestur yang jelas bahwa kita butuh Pemilu yang damai, yang bersaing konsep dan program membangun negara, bukan menebar fitnah hoax apalagi dengan menjual agama sebagai komoditas politik.
Diharapkan eforia masyarakat ini membawa efek positif dlm menghadapi pilpres. Gestur ini juga bagus untuk menenggelamkan gerakan ganti presiden oleh sekelompok orang yang sedang menebar isue seolah pilpres mendatang adalah perang badar. Rakyat Indonesia sudah pintar, mereka butuh Pemilu damai.
Dan indahnya, kaum milenials yang diwakili Hanifan menjadi inisiator terjadinya ‘pelukan politik’ yang bersirat kedamaian. Anak muda memang selalu penuh kejutan. Spontanitas Hanifan menggamit leher dan menyatukan Presiden Jokowi dan Prabowo Subiyanto dalam pelukannya adalah gaya anak milenials yg kekinian. Spontan, tidak canggung, berani, sedikit tak peduli adalah ciri generasi kekinian. Hanifa sedikit tak peduli ketika dengan berani menggamit leher Presiden. Karena dalam kondisi ‘normal’ siapapun yang mendekat apalagi berani menggamit Presiden pasti mendapat gerakan reaksi cepat dari Paspampres. Tapi Hanifan memamg beda.
Ditangan anak muda perdamaian politik itu terwujud. Dan mudah-mudahan ini bukan eforia sesaat
Penulis Lepas, Ex Pemred Trax Magz ya
Menyukai ini:
Suka Memuat...