Hari ini, 27 Juni dilaksanakan Pemilukada serentak di Indonesia. Ada 3 pertanyaan publik yang mendasar: 1. Siapa yang akan saya pilih? 2. Kenapa saya pilih dia? 3. Akankah dia menang? Pertanyaan lain tentu ada, berkembang sesuai siapakah yang bertanya.Namun tiga hal tersebut yang utama.
Pertanyaan Pertama. Siapa yang akan saya pilih. Pertanyaan ini sesungguhnya untuk meyakinkan diri, kepada siapa suaranya penanya akan disalurkan. Bagi pemilih cerdas, tanya ini sudah jelas, bahwa penanya akan memilih pasangan calon yang benar2 mumpuni kapasitasnya, diusung oleh parpol/gabungan yang sejuk serta track recordnya bersih. Bagi pemilih tradisional, kemungkinan suaranya akan diberikan kepada siapa pasangan calon yang mendatangi dan memintanya memilih dengan imbalan tertentu. Adapula pemilih yang akan memilih pasangan calon, sesuai dengan bargaining tertentu.
Disinilah kita mengetahui alasan para pemilih untuk memberikan suaranya kepada pasangan calon sesuai dengan alasan-alasan diatas. Maka daerah yang mendapatkan pasangan calon yang terpilih sebagai pimpinan daerahnya akibat money politik dan alasan subyektif lainnya, patut dikasihani. Daerah tersebut tentu akan menghadapi berbagai masalah sosial politik dan hukum nantinya.Oleh sebab itu kenapa tulisan ini mengedepankan “Memilih Pemimpin Terbaik Buat Daerah”.
Pertanyaan kedua. Kenapa saya pilih dia?. Jika jawabannya, karena yang dipilih adalah orang yang memiliki kompetensi dan kapasitas yang maksimal untuk menelola daerah, maka kita akan turut berbahagia. Dengan alasan tersebut, daerah ini akan beruntung dan akan mengalami laju pertumbuhan pembangunan yang lebih cepat dan lebih baik. Tetapi malang nian bagi banyak daerah yang ada. Pemilih-pemilih cerdas dan obyektif seperti ini amat sdikit. Sehingga tidaklah heran, ketika belum lama menjadi pimpinan daerah, sang pemimpin terpilih tersangkut berbagai masalah terutama korupsi serta janji-janji palsu. Publik di PHP in.
Pertanyaan ketiga. Akankah dia menang? Pertanyaan ini meskipun ada, namun sejatinya tidak penting jawabannya. Karena pemilih yang tidak peduli atas menang atau kalahnya pasangan yang dipimpin, diakibatkan oleh tidak kuatnya niat untuk benar-benar memilih pasangan calon yang terbaik.
Dari uraian tiga macam pertanyaan dan kemungkinan jawaban yang hadir, kita bisa sepakat bahwa dibutuhkan waktu cukup lama agar pemilih di Indonesia benar-benar diposisi sebagai pemilih cerdas, yang hanya akan memilih pasangan calon yang benar-benar terbaik diantara yang ada. Dalam bahasa lain, diperlukan pendidikan politik yang merata dan menyeluruh kepada segenap anak bangsa. Dengan pendidikan politik ini, diharapkan pemilukada maupun pemilu legislatif dan pemilu presiden benar-benar menghasilkkan figur-figur yang tepat. Jika tujuan tersebut tidak tercapai, tidak akan kita heran jika kualitas terbaik yang diharapkan akan berlalu begitu saja.
Siapa yang harus melakukan pendidikan politik? Hanya dua pihak, yakni pemerintah bersama organ-organ pelaksananya serta partai politik itu sendiri. Yang kita ketahui dan mungkin kita cermati, selama ini partai politik belum maksimal melakukan pendidikan politik. Justru terkesan para politikus di berbagai parpol, lebih mengedepankan bagaimana agar masuk menjadi pengurus partai atau sikut menyikut untuk memegang posisi pimpinan di partai. Masalah lain yang sering dimunculkan oleh beberapa partai belakangan ini, adalah mengggoreng isu SARA untuk mendapatkan dukungan/simpatisan.
Publik yang melek informasi dan dunia maya, kini terus mengikuti parpol mana yang suka memainkan isu SARA. Dibalik ketenangan yang terlihat didunia nyata, mayoritas publik yang terkesan diam, sebenarnya mencermati gemuruhnya dunia maya. Dan pada akhirnya hasil pemilukada serentak besok, akan menunjukkan bukti bahwa parpol yang gemar melakukan fitnah, SARA dan hasutan/ujaran kebencian, akan menuai hukuman publik yang waras dan cerdas.
Penulis memiliki analisa dan dugaan kuat, pasangan calon yang diusung oleh parpol-parpol yang gemar memproduksi fitnah dan tanpa henti membuly pemerintah, jagoannya kalah. Parpol-parpol manakah itu? Kita semua tahu dan merasakan serta membaca nama-nama parpol tersebut di berbagai media.
Kita akan memberikan suara di daerah kita masing-masing yang menyelenggarakan pemilukada. Besok (hari ini) semoga hati dan pikiran kita diarahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, untuk memilih orang-orangterbaik di daerah kita. Jangan tertipu oleh penampilan.Sudah banyak contoh, setan bisa menyerupai apa saja untuk menipu manusia. Mari kita laksanakan pemilukada yang bermartabat. Salam damai, saudara-saudaraku.
Menyukai ini:
Suka Memuat...